Gereja Kerasulan Pusaka


Kata Pengantar

Didorong rasa tanggung jawab dan keinginan memberikan informasi kepada segenap anggota Gereja Kerasulan Pusaka, terutama generasi muda sebagai generasi penerus, maka kami mencoba menulis Buku SEJARAH GEREJA KERASULAN PUSAKA.

Melalui Buku ini kita dapat mengetahui dasar dan prinsip landasan Gereja Kerasulan Pusaka, liku-liku sejarahnya sejak jaman nenek moyang sampai sekarang.

Diharapkan, kita sebagai generasi penerus, tidak kehilangan jejak, tidak keluar dari garis-garis fondamental yang telah dibuat dan ditetapkan nenek moyang kita. Bahkan lebih dari itu, kita dituntut mampu memelihara, menumbuh kembangkan dan melestarikannya.

Seraya memanjatkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa yang telah memberikan niat serta keinginan, kekuatan dan tenaga, secara tingkat minimal, dapatlah kiranya Buku ini memberikan gambaran yang agak jelas kepada segenap anggota Gereja Kerasulan Pusaka.

Dengan segala kerendahan hati Buku ini kami persembahkan kepada segenap anggota jemaat Gereja Kerasulan Pusaka, terutama generasi penerus, untuk dipelajari, dipahami, serta dikembangkan; Juga, Buku ini, kami persembahkan dalam rangka memperingati  CATUR WINDU JEMAAT KERASULAN PUSAKA, tanggal 1 Pebruari 1985.

Semoga rahmat dan berkat Tuhan menyertai kita. Terpujilah nama-NYA. Amin.

Rawaselang, 1 Pebruari 1985.

Penyusun :

Rasul MARDI MARCHASAN

Oudste YOTHAM MARCHASAN

BAPAK PETRUS

Adalah seorang keturunan ningrat dari Cirebon yang bernama Raden Karadinata. Karena suatu peristiwa yang menimpa dirinya, terpaksa Ia harus meninggalkan orang tuanya. Ia pergi dan mengembara di Banten.  Setelah menikah dengan seorang putri Penghulu, dikaruniai enam orang putri, yaitu : Ma Sarmi, Ma Menced, Ma Isem, Ma Sai dan Ma Rimun. Ajeng Dewi Sai menikah dengan seorang perjaka putra Penghulu daerah Serang dan dari pernikahannya, lahirlah putra pertama yang dinamai Mukayam. Bapak Mukayam, setelah berumah tangga, dikaruniai lima orang putra-putri, yaitu : Bapak Markasan, Ibu Maat, Bapak Sadiin, Bapak Sariun dan Ibu Karsiah.

Yang menjadi peran utama dalam sejarah ini adalah di ambil salah seorang dari ke-enam putra-putri bapak Mukayam, yaitu bapak Sadiin. Bapak Sadiin lahir dikampung Leuwi Dahu, Desa Tigaraksa daerah Tanggerang, kira-kira tahun 1850- an. Sebagai putra dan keturunan islam yang fanatik, ia harus belajar dan meperdalam agama Islam di pesantren sejak usia muda sekali.

Pada saat anak-anak perlu bimbingan dan lindungan serta kasih sayang orangtua, Bapak Mukayam meninggal dunia; betapa besar kesedihan yang menimpa putra-putrinya; padahal pada saat itu Bapak Sadiin sedang giat-giatnya memperdalam agama di pesantren. Oleh kejadian itu terpaksa Bapak Sadiin harus mencari napkah sendiri untuk hidup dan biaya sekolahnya sebagai seorang santri. Berkat ketekunan dan kejujurannya, ia dapat menyelesaikan pelajarannya di pesantren dengan hasil memuaskan; bahkan Bapak Sadiin tampak sehat,cerdas dan semakin dewasa serta harus mampu dan sanggup menghidupi baik untuk  dirinya maupun membantu Ibu dan saudara-saudaranya.

Berangkatlah Bapak Sadiin ke Jakarta (waktu itu Batavia atau Betawi), mencoba mencari untung mengadu nasib; di Jakarta ia bekerja sebagai pembantu di rumah seorang berkebangsaan Cina. Di sini Bapak Sadiin berkenalan dengan seorang guru agama Kristen bernama Bapak Jimun. Pada suatu hari, perantaraan Bapak Jimun, Bapak Sadiin diperkenalkan kepada seseorang kebangsaan Belanda, seorang tokoh kepala Agama Kristen, bernama Tuan ANTHING .

Perkenalan dengan Tuan Anthing sangat mendalam, akhirnya Bapak Sadiin menyatakan diri mau pindah dari rumah orang Cina tadi ke rumah Tuan Anthing. Di rumah Tuan Anthing inilah Bapak Sadiin mulai mengenal, membaca dan mempelajari Injil, dengan bimbingan dan penjelasan Tuan Anthing. Sungguh Ajaib. Rupanya Tuhan Yesus Kristus berkenan memanggil  Bapak Sadiin. Yesus Kristus adalah nama asing dan tak pernah terlintas dalam benaknya; adalan nama yang sangat tabu untuk diucapkan apalagi dikenalnya, karena kefanatikannya. Tapi kini kemustahilannya hilang lenyap.Sadiin Seorang santri. Islam yang sangat panatik; Lulusan pasantren yang dapat disejajarkan dengan kiayi atau seorang ulama islam. Tetapi kini ia telah mengenal Yesus Kristus, dan menjadi sahabat terdekat bagi dirinya. Ia tempat mengadu, memohon dan yang sanggup menghibur serta memberikan harapan yang pasti kepada Bapak Sadiin, atau siapa saja yang percaya dan menaruh harapan kepada-NYA.  Bila kita membaca menelaah Al-Kitab/Injil, kita akan menemukan penghiburan, pengharapan dan janji-janji yang meneguhkan iman kita seperti diantaranya  Yoh, 3 : 16; 14 : 6 Mat. 11 : 28 ;  9 : 6;  28 : 18 – 20 ; Kis. 4 : 12 ; dll.

Bapak Sadiin telah beralih agama menjadi Kristen, bahkan namanyapun diganti dengan nama baptisan yaitu  PETRUS. Berkat Tuhan menyertai Bapak Petrus, bahkan telah menerima karunia lidah sehingga begitu fasih memberikan uraian-uraian dan penjelasan-penjelasan Alkitab dan dasar-dasar agama. Karena itulah tidak lama kemudian Bapak Petrus dilantik menjadi seorang Diakon. Masa membujang ditinggalkan lalu menikah dengan seorang putri berasal dari daerah Cigelam, bernama Nyai Bani, yang setelah dibaptis dengan nama MARIANAH

Berkat Tuhan menyertai rumahtangganya;  Bapak Petrus dinaikan pangkatnya dilantik menjadi priester, dan diberi wewenang menjadi Penetua di Gereja Bojong Menteng, Baduy dan Banten. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas diberi besluit dari Residen Bogor dengan honorarium sebesar Rp. 40,00 ( empat puluh rupiah ) setiap bulan. Dan dari pernikahannya, lahirlah putra sulung yang diberi nama MIKA dan menyusul putri kedua yang diberi nama ELKANAH.

Pada suatu saat, biaya pemeliharaan dan pengembangan Jemaat di Indonesia yang dibina Tuan Anthing mengalami kekurangan, hal ini disebabkan karena keadaan dan perubahan politik di negeri Belanda sendiri, atau mungkin pula karena adanya perubahan dan aliran-aliran baru dalam gereja.

Demi kelangsungan perkembangan gereja di Indonesia terpaksa Tuan ANTHING mempergunakan uang pribadinya yang masih tersimpan di bank. Lama kelamaan ternyata uang itupun habis juga.

Tuan ANTHING terpaksa berangkat untuk minta bantuan ke negeri Belanda, tetapi permohonannya ditolak. Zendingpun tidak sanggup memberikan bantuan kepada tuan. ANTHING.

Allah Mahakasih. Dia selalu mendengar dan mengabulkan permohonan umat-Nya yang meminta dengan kesungguhan. Ia selalu memberikan jalan ke luar yang baik dan sempurna, seperti tertulis dalam Alkitab :

Filipi 4 : 6

“Janganlah hendaknya kamu kuatir  tentang apapun juga,   tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dengan ucapan syukur.”

Mat.7:7 – 8

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Terbukti ketika tuan ANTHING sedang berada di negeri Belanda, tanpa diduga sebelumnya, datanglah ke tempat penginapan tuan ANTHING seorang tuan yang masih muda dan tidak ia kenal sebelumnya. Tuan muda itu mengaku bahwa ia seorang Diakon yang diutus Rasul Kepala dari Jerman.

Ia datang untuk menyampaikan pesan Roh Kudus. Betapa heran tuan ANTHING, orang yang tidak ia kenal sebelumnya, mengetahui dengan jelas permasalahannya.

Dengan jelas Roh Kudus menyatakan bahwa tuan muda itu harus menemui Tuan ANTHING seorang pensiunan kehakiman Tinggi ( Hoogerrechthoff ) yang sedang dirundung malang ditimpa kesulitan.

Dari pertemuan tuan ANTHING dengan tuan muda tadi, telah dipetik dasar-dasar dan landasan Gereja Kerasulan yang mempercayai dan memegang teguh Suara Nubuatan atau kenabian, sesuai dengan nats yang tertulis pada :

I  Korintus 12 : 28

“Dan Allah telah menetapkan beberapa orang di   dalam jemaat : pertama sebagai Rasul, kedua sebagai Nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan , untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa Roh.”

Efesus 4 : 11 – 12

“Dan Ia-lah yang memberikan baik Rasul-rasul maupun Nabi-nabi, baik Pemberita-pemberita Injil, maupun Gembala-gembala dan Pengajar-pengajar, untuk melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”

Setelah pelawatan tuan ANTHING di Eropa dianggap selesai, kembalilah ia ke pulau Jawa. Kini ia tidak sendiri tetapi didampingi seorang istri. Ia telah mempersunting seorang istri cantik dan bijaksana. Ia adalah seorang pengemban Nubuatan yang jadi penuntun dan petunjuk bagi yang percaya sehingga meneguhkan iman.

Bapak Petrus sekeluarga ada dalam berkat dan lindungan Tuhan.

Hidup aman tenteram, keperluan jasmani dan rohani terpenuhi, tidak kurang suatu apapun. Di bawah binaannya jemaat-jemaat berkembang baik. Banyak orang mulai mengenal Tuhan Yesus Kristus, sehingga banyak pula jiwa diselamatkan.

Manusia punya keinginan, bercita-cita untuk maju dan berkembang agar terpenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani. Demikian juga bapak Petrus dan tuan Anthing menginginkan dan sekaligus mengusahakan agar kehidupan jasmani dan rohani anggotanya maju dan berkecukupan. Namun seringkali keinginan manusia berbeda, dan lain daripada kehendak Allah.

Kehendak Allah berlaku dan dinyatakan dihadapan bapak Petrus sekeluarga dan ditengah-tengah jemaatnya. Sebuah berita yang sangat mengejutkan  sampai kepada bapak Petrus bahwa tuan Anthing mendapat musibah, terjatuh dari trem sepulangnya mengadakan pelawatan.

Musibah tersebut sangat menyedihkan dan mengharukan sehingga mengakhiri riwayat hidupnya, tuan Anthing meninggal dunia.

Kesedihan bapak Petrus dan jemaatnya sangat mendalam ; mereka kehilangan pemimpin, kehilangan tempat bertanya dan mengadu bahkan kehilangan sandaran.

Sepeninggal tuan Anthing, jemaat-jemaat asuhannya seperti: Cigelam, Gunung Putri, Mauk dan Jakarta, mengalami kemunduran sehingga suamlah adanya. Bapak Petrus sendiri merasakan seperti anak ayam tanpa induk, seolah-olah sebatang kara. Yang mengalami kemunduran bukan saja masalah rohani, tetapi sandang panganpun mengalami kesulitan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga, bapak Petrus belajar menjadi Mantri Cacar. Tetapi tidak lama, kemudian pindah ke Bogor dan menjadi karyawan Rumah Sakit Beri-beri. Di sini pun tidak lama, karena upah tidak memadai.

Dalam keadaan terjepit, bapak Petrus selalu mendekatkan diri kepada Allah. Segala masalah hidupnya selalu disyukuri dalam doa yang tak berkeputusan agar Tuhan memberikan jalan keluar.

Maka teringatlah bapak Petrus kepada adiknya, bapak Sariun yang dulu pernah mengikuti tuan PADRI HAENEMAN bekerja di Sukabumi.Timbullah keinginan untuk mengikuti adiknya, dengan harapan mendapat pekerjaan untuk menghidupi keluarganya.  Hasratnya itu dikemukakan dan dirundingkan dengan isterinya. Setelah ada kesepakatan, maka berangkatlah bapak Petrus sekeluarga ke Sukabumi menemui adiknya.

Setibanya di Sukabumi, bapak Petrus ditempatkan di Cikembar – Pangharepan di sebuah perkebunan yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan tuan VAN den BERG.

Tuan Van den Berg dengan baik hati menerima dan mengijinkan bapak Petrus bekerja di Perkebunannya, bahkan diberinya sebidang tanah di sekitar rumah untuk ditanami tanaman-tanaman pertanian kebutuhan sehari-hari.Sejak saat itulah bapak Petrus bermukim di Cikembar-Pangharepan-Sukabumi, beserta keluarganya.Dalam beberapa lamanya hasil pertanianpun dapat dipetik dan dinikmati.

Tanam-tanaman tumbuh subur sehingga bapak Petrus tidak kekurangan sandang pangan. Bapak Petrus beserta anak-anaknya yang pada saat itu sudah berjumlah enam orang ( Mika, Elkanah, Idris, Isnah, Ispah dan Asipah ) bergembira merasakan berkat Tuhan.Meskipun bapak Petrus sekeluarga serba berkecukupan sandang pangan, tetapi tidak menjamin ketenteraman jiwa, sebab bapak Petrus senantiasa teringat akan keadaan Jemaat-jemaat yang dulu pernah dilayaninya. Tidak terbayangkan bagaimana keadaannya, namun dapat dipastikan mereka terlantar.

Bapak Petrus menyadari akan kekeliruannya bahwasanya ia telah meninggalkan mereka, bahkan menelantarkannya, sehingga dirasakannya pula bahwa kehidupannya kini tiada / tanpa keseimbangan. Perhatian dan aktivitas bagi jasmani jauh lebih besar daripada perhatian dan aktivitas untuk rohani. Di bidang kerohanian terasa banyak sekali kemundurannya. Waktunya banyak sekali dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan lahiriah. Akibatnya, kesedihan menimpa bapak Petrus, ia merasakan tidak setia kepada Tuhan Yesus Kristus.

Sejak saat itulah kerohanian bapak Petrus bangkit kembali dengan mengajak para tetangganya untuk menghangatkan kembali jiwa-jiwa yang suam. Diadakanlah pertemuan-pertemuan pada malam hari untuk memperbincangkan, bermusyawarah serta mempelajari  dan memperdalam isi Al-Kitab. Dilakukannya setiap malam, berpindah-pindah rumah secara bergantian.

Semangat kerohanian bapak Petrus dan tetangga-tetangganya bangkit kembali. Kebangkitan rohani membara di hati. Roh Kudus bergelora dalam tiap jiwa setelah mendapat penjelasan dan penerangan bapak Petrus. Perbuatan bapak Petrus yang demikian kurang disenangi Penguasa Perkebunan. Timbullah kecurigaan tuan Padri kalau-kalau para anggotanya berpindah aliran, atau melawan peraturan-peraturan yang telah ia tetapkan . Bagi dia, masalah agama tidak terlalu penting. Yang diutamakannya: para karyawannya bekerja keras agar keuntungan meningkat, bahkan melimpah ruah.

Perbuatan bapak Petrus yang demikian dianggapnya sebagai penghambat prestasi kerja. Timbullah niat buruknya yaitu ingin melarang kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan para karyawannya di bawah pimpinan bapak Petrus.

Maksudnya tak urung sampai di situ, karena bapak Petrus beserta pengikut-pengikutnya tidak mau mendengarkan anjur nnya, maka bapak Petrus dianggap penghasut, pengacau, pembuat keonaran bahkan penghianat.Bapak Petrus mulai dicurigai. Dilarangnya menyelenggarakan kebaktian-kebaktian keluarga. Tuan penguasa mengancam bapak Petrus dengan tuntutan pengadilan bahwa bapak Petrus dapat dijatuhi hukuman kurungan atau penjara.

Kebangkitan rohani bapak Petrus beserta pengikutnya begitu menggelora dalam jiwa. Larangan dan ancaman tuan Penguasa tidak mampu membendungnya. Kebaktian dan pembahasan isi Al-Kitab tetap berlangsung, walaupun kadang-kadang diselenggarakan secara sembunyi-sembunyi. Apapun yang terjadi akan mereka hadapi dengan penuh ketabahan dan iman kepada Allah.

Suatu saat, di hari Minggu. Pada saat kebaktian berlangsung, adalah seorang yang bernama pak Rustam. Ia mendapat karunia kecurahan dan kepenuhan Roh Kudus.

Ia bernubuat. Roh Kudus bertutur agar semuanya bertobat karena semua manusia adalah berdosa.

Ketika kejadian itu sedang berlangsung, muncullah tuan Padri. Ia kaget dan heran menyaksikan kejadian itu. Betapa tidak, karena pak Rustam berteriak dengan suara nyaring sambil memukul-mukul sandaran bangku. Ia menyerukan agar semuanya bertobat.

Melihat kejadian itu, majulah tuan Padri dan mendekati, berkatalah ia: “Hai Rustam, gilakah kamu?”.

Pak Rustam berbalik kepada tuan Padri dengan pandangan tajam, kemudian berseru sambil mengacungkan telunjuk ke wajah tuan Padri: “Kami tidak gila. Kamu juga harus segera bertobat, matamu buta!”

Mendapat perlakuan demikian, bangkitlah amarah tuan Padri, ia menghardik pak Rustam, mengusirnya, dan segera diserahkan kepada polisi untuk dibawa dan dimasukkan dalam penjara.

Dalam kasus pak Rustam itu, bapak Petrus dimintai pertanggungjawabannya, karena dianggap bapak Petruslah biang keladinya.

Berkatalah tuan Padri kepada bapak Petrus: “Dulu, sudah kami katakan, bahwa kami melarang saudara untuk menyelenggarakan kebaktian-kebaktian. Karena saudara tidak mau mendengarkan kami, demikianlah jadinya, si Rustam jadi gila.

Ia telah menghina aku, mengajak para karyawan perkebunan memberontak; maka terpaksa kami bertindak agar semuanya jera.”

KEPINDAHAN DARI CIKEMBAR KE RAWASELANG

Sejak peristiwa tersebut, bapak Petrus beserta para pengikutnya dilarang menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kebaktrian. Tuan Padri memperketat pengawasannya.

Tiada lain jalan agar kebebasan beribadat tetap berlangsung, bapak Petrus beserta para pengikutnya harus berani bertindak dan mengambil resiko.

Berbagai macam cara yang dapat ditempuh:

* Bertindak tegas, keras dan melawan.

* Bermusyawarah secara baik-baik.

* Tinggalkan Cikembar dan pindah ke tempat lain.

Setelah mengadakan perundingan dengan dan antar pengikut, diputuskan pindah, tinggalkan Cikembar.Ditetapkanlah bahwa daerah baru yang akan dituju adalah daerah CIRANJANG.

Demi lancarnya keibadatan, mereka rela meninggalkan Pangharepan-Cikembar, karena hambatannya teramat besar. Mereka bertekad bulat untuk angkat kaki dari Cikembar.Sementara itu, rencana nenek moyang telah diketahui tuan Padri. Diusirlah nenek moyang kita dari daerah lingkungan perkebunan, bahkan harus segera pindah.

Berdasarkan pengusiran itu, untuk sementara bapak Petrus beserta para pengikutnya, tinggal di daerah CIBANTENG menempati sebuah kandang kerbau milik pak Armin yang telah terlebih dahulu pindah, selama dua setengah bulan.

Pada hari yang telah ditetapkan, yaitu hari SABTU tanggal 13 JUNI 1903, mereka pindah dari CIKEMBAR menuju RAWASELANG.

Selamat tinggal Cikembar – Pangharepan – Sukabumi.

Kami rela meninggalkan engkau, tiada penyesalan pada diri kami.Tanahmu subur. Kamipun hidup makmur. Jasmani kami cukup sandang dan pangan.

Tapi, tapi…….rohani kami terlantar dan melarat.

Ulah penguasa telah membelenggu kami.

Biar, biarkanlah……..kami pergi jauh, jauh darimu.

Agar kami bebas………dan merdeka……Bebas dan merdeka untuk berbakti kepada Tuhan Allah kami.

Tak ada kekhawatiran sedikitpun. Tekad nenek moyang sudah bulat. Tiada sesuatupun dapat membendungnya dan mengurungkan maksud mereka. Nenek moyang kita berpegang teguh pada firman, yaitu:

MATIUS  6 : 25

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian?”

MATIUS   6 : 33 – 34

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

LUKAS   12 : 33

“Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah ! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak dapat habis. yang tidak dapat didekati pencuri, dan yang tidak dirusakan ngengat.”

Firman itulah yang meneguhkan dan membulatkan tekad nenek moyak kita. Dan firman itu pulalah yang mereka pegang teguh-teguh. Barang-barang dikemas dan diangkut dengan gerobak hari kamis pagi-pagi, diikuti Pak Armin, Ki Lasani, Pak Sariun dan Pak Kari’an, berangkat sambil menggiring kerbau;  Sedangkan rombongan Bapak Petrus dengan menggunakan 13 buah Sado, Delman dan kahar, berangkat hari sabtu pagi-pagi menuju statsiun keretaapi Sukabumi.

Keretaapi berangkat dari Sukabumi menuju Ciranjang; tiba di Ciranjang kira-kira pukul 12.00 siang.

Dari statsiun Ciranjang, rombongan berjalan kaki menuju suatu tempat (yang kelak terkenal dengan nama Rawaselang); Rawaselang artinya : Rawa sama dengan payau; Selang adalah semacam tumbuhan hutan seperti rotan; jadi di daerah/ tempat tersebut ada rawa-rawa yang dipenuhi pohon selang.

Nenek moyang kita yang mengikuti perpindahan dari Cikembar ke Rawaselang sebanyak 66 jiwa yang terdiri dari tua-muda, besar-kecil, laki –perempuan, anak-anak dan bayi adalah  :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

Bapak Petrus

Ibu Marianah

Isnah

Sarpiah

Ispah

Asipah

Mika

Raikah

Ratinem

Elipas

Idris

Rinah

Yohanes

Sarni

Yakobus

Saeti

Sakiel

Supiah

Sari’un

Tewi

Samgar

Monah

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

Yonas

Yoses

Rumas

Natanael

Yosanah

Sopi

Jahali

Saiman

Saamin

Saminan

Ramiin

Oyod

Yasinah

Dinah

Yohanes

Yonatan

Raniman

Minah

Musa

Sakeus

Kamsil

Akung

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

Sanah

Siti

Andreas

Salmon

Rastinah

Marta

Daniel

Mateus

Armin

Mariah

Rainah

Yakub

Sairan

Kari’an

Lasani

Arniah

Alias

Lasian

Lasikin

Ranisah

Sawinah

Bano/ Asmana

Di Rawaselang inilah nenek moyang menetap; Mereka menempati sebuah rumah yang sangat sederhana, sebuah pesanggrahan terbuat dari kayu dan bambu dengan dinding rumput ilalang yang dijepit, sedangkan atapnya dari daun nipah.

Selang beberapa waktu, datanglah Bapak Wedana  Ciranjang ke Rawa-selang, beliau menemui Bapak Petrus untuk memeriksa, sebab ada pengaduan dari Tuan Padri, bahwa Bapak Petrus beserta rombong an,pelarian dari perkebunan Cikembar Sukabumi adalah pengacau-pengacau, pembuat kerusuhan,Setelah memeriksa dengan teliti, Bapak Wedana berkesimpulan tidak ada kesalahan pada Bapak Petrus beserta rombongan;  Maka Bapak Wedana menyambut dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan nenek moyang; Bahkan mempersilakan membuka lahan pertanian sesuka hati, sekuat tenaga yang di miliki. “ Silakan ukur sendiri, buat patok masing-masing, sesuka hati“ dan masalah agama , pemerintah daerah tidak akan turut campur juga mencurigainya; “Jangan takut bekerjalah dengan senang hati,aman dan tentram “  demikian tutur kata  Pak Wedana kepada nenek moyang kitaBetapa besar suka cita nenek moyang kita pada saat itu, karena hidup baru, harapan baru yang penuh kedamaian mulai menelusuri relung hati sanubari mereka.Mulailah nenek moyang kita bekerja dengan jalan gotong-royong, membuka lahan pertanian dan menebang pepohonannya untuk dijadikan bahan pembangunan rumah.

Walaupun pada siang hari bekerja sangat cape, namun pada malamnya mereka mempelajari, memahami serta mendalami firman. Puji syukur dan nyanyian-nyanyian rohani penggugah hati senantiasa berkumandang. Untuk memenuhi kebutuhan rohani, nenek moyang kita telah mampu membuat gereja sederhana tempat beribadat dan dibangun secara gotong royong. Kebahagiaan dan damai serta suka cita terpancar dari masing-masing pribadi pada saat itu.

Hidup dan kehidupan ada yang mengatur, Manusia lemah tak kuasa melawan kodrat Illahi. Demikian juga nenek moyang kita. Liku-liku perjalanan hidupnya telah disuratkan Allah yang Mahakuasa.Suka duka, kegembiraan dan kesedihan, berkecukupan dan kekurangan, silih berganti sepanjang hidup. Hal ini dialami pula nenek moyang kita. Naik turun neraca kehidupan silih berganti.

Bagi orang percaya, hal itu tidak akan menjadikan keheranan atau kekalutan hati. Demikianlah, hal yang serupa itu menimpa pula nenek moyang kita. Tahun berikutnya, setelah bermukim di Rawaselang, pakaian yang mereka bawa dari Cikembar telah banyak yang rusak. Sedangkan di Rawaselang, uang sangat sulit didapat. Selain itu juga, sandang tidak banyak dijual di pasar. Daya beli menurun, bahan pakaian sulit diperoleh.

Selain kesulitan masalah sandang, wabah malaria dan bisul-bisul berjangkit menimpa nenek moyang kita, hampir memenuhi seluruh bagian tubuh. Akibat malaria, rambut kepala rontok sehingga banyak laki-laki ataupun perempuan yang gundul.

Kekurangan dan kesulitan yang menimpa, tidak menjadikan kemunduran semangat rohani dan keimanan. Tetapi dari Al-kitab, mereka menemukan pedoman dan penghiburan yang diantaranya :

Matius  5 : 3, 4 dan 10

“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah karena merekalah  yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.”

Roma 5 : 3 – 5

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Roma 8 : 18 dan 28

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikkan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

II Timotius 4 : 18

“Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di Sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya. Amin.”

Yakobus 1 : 2 , 3 dan 12

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

Setelah semua cobaan hidup dapat diatasi, timbullah ketabahan, maka kemudian kemakmuran lahir dan batinpun dapat terwiujud. Diketahui Jemaat tuan Anthing telah pulih kembali. Mendengar hal itu, bapak Petrus sebagai pemimpin nenek moyang kita, yang mengurus dan mengatur masalah-masalah keagamaan, bersama-sama sepakat untuk bergabung kembali. Dalam bidang kehidupan, jasmani dan rohani, nenek moyang kita mencapai banyak kemajuan. Kebaktian-kebaktian berjalan lancar. Bangunan Gerejapun sudah diganti lebih bagus dan lebih luas, disesuaikan dengan jumlah anggota yang selalu bertambah. Nubuatan-nubuatan selalu membantu meneguhkan dan menguatkan. Dituturkan pula apa yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang untuk kemajuan Jemaat. Pertambahan anggota berasal dari dua sebab, yaitu datangnya orang baru, pindah dari agama dan daerah lain menjadi orang Kristen di Rawaselang, atau karena kelahiran.

Pendidikan yang berhubungan dengan keagamaan, mendapat perhatian utama dari tokoh-tokoh agamawan nenek moyang kita. Tidak kalah pentingnya dengan pendidikan ilmu pengetahuan. Peningkatan kecerdasanpun dilakukan dan diselenggarakan bagi anak-anak sebagai generasi penerus.

Hal ini terbukti dengan telah dibukanya semacam sekolah yaitu sekitar tahun seribu sembilan ratus duapuluhan, di Rawaselang.

Pendidikan ini diselenggarakan secara kelompok atau klasikal di suatu tempat, setingkat dengan pendidikan  sekolah dasar. Bahkan jauh sebelum itu, telah dilakukan pendidikan secara sendiri-sendiri dan kecil-kecilan.

Puji syukur kepada Tuhan, bahwasanya dalam keadaan sangat sederhana dan masa penjajahan, telah terselenggara semacam pendidikan sehingga mereka dapat membaca, menulis dan berhitung. Boleh dikatakan di antara mereka tidak ada yang buta huruf dan buta angka.

BERDIRINYA JEMAAT KERASULAN PUSAKA

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus tahun 1945 telah berkumandang, terdengar di seluruh peloksok tanah air, bahkan sampai ke  seluruh penjuru dunia, bahwa detik itu bangsa Indonesia merdeka, bukan dan tidak lagi sebagai bangsa jajahan.

Semangat proklamasi diikuti pekik perjuangan “Merdeka.” Merdeka berarti lepas dari cengkeraman penjajahan. Memiliki kedaulatan sendiri untuk mengurus dan mengatur bagi kemakmuran bangsa. Merdeka adalah pembangunan, karena hanya dalam alam dan bangsa yang merdekalah pembangunan di segala bidang dapat dilaksanakan. Membangun adalah modernisasi, dan modernisasi adalah peningkatan kualitas hidup dan peningkatan pribadi sebagai bangsa terhormat dan sejajar bangsa-bangsa lain di dunia; sebagai bangsa yang dapat memperlihatkan eksistensinya kepada dunia.

Semangat proklamasi kemerdekaan menggema di setiap dada dan hati bangsa Indonesia, termasuk dan tidak terkecuali pada alam pemikiran dan tekad nenek moyang kita.

Merdeka bukan hanya dalam masalah-masalah jasmani saja tetapi juga merdeka dalam masalah-masalah rohani. Selama ini masalah-masalah kerohanian sangat ditentukan oleh pihak penjajah atau asing. Walaupun negara kita telah merdeka, tetapi masalah-masalah agama Kristen di Rawaselang masih sangat tergantung pada Mizzi dan Zending asing. Adalah suatu tuntutan yang wajar dan memang seharusnya apabila Jemaat di Rawaselang menginginkan kemerdekaan di bidang agama, agar mereka dapat mengatur, mengurus dan menentukan  sendiri masalah-masalah keagamaan.

Apalagi menjelang tahun seribu sembilan ratus limapuluhan banyak sekali perubahan-perubahan yang dilakukan pemimpin agama bangsa Asing, yang dirasakan mulai menyimpang dan menjauhi ketentuan-ketentuan pokok yang mendasar. Misalnya:

1.  Masalah Kebaktian Pamedaran atau Bible Study ( Pendalaman Al-Kitab ) yang biasa dilakukan malam hari secara bergiliran, berpindah-pindah rumah; mulai tidak diijinkan.

2.  Apalagi apabila ada anggota Jemaat yang sakit, tidak perlu dilakukan doa safaat untuk kesembuhan yang bersangkutan; doa telah cukup disampaikan oleh rasul dari tempat yang jauh.

3.  Rasa gotong royong, saling membantu dalam menghadapi segala kesulitan yang menyangkut masalah-masalah jasmani dan rohani, mulai mengendor. Masih banyak hal yang dirasakan bertentangan dengan ajaran yang selama ini dipegang teguh oleh anggota Jemaat sebagai pesan dan kebiasaan nenek moyang kita.

4.  Masalah kenabian tidak perlu ada lagi. Segala sesuatu cukup ditangani oleh Rasul.

Pada waktu itu slogan yang berlaku dan populer, berbunyi: “Tunduk dan turut perintah Rasul, serta percayalah kepada Rasul.” Pada tahun 1951 terjadilah suatu peristiwa dalam kehidupan rohani di Rawaselang. Mereka bertekad untuk mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri. Tujuh orang anggota Majelis Gereja di Rawaselang, yaitu: Bapak Priester Mian, Bapak Priester Trius, Bapak Priester Mardi, Bapak Diakon Yohanes, Bapak Diakon Rainan, Bapak Diakon Titus, dan Bapak Diakon Yosia, menyadari bahwa kini Kerasulan telah menyimpang, bahkan ingkar, dari dasar-dasar yang berlaku.

Tidak mempercayai dan tidak perlu lagi adanya kenabian. Jabatan nabi di Gereja tidak dipakai dan mau dihapuskan.

Ketujuh anggota Majelis tersebut bertekad untuk menegakkan kembali dasar-dasar dan prinsip Gereja Kerasulan sesuai dengan pesan nenek moyang, dan bahkan ketentuan dalam Al-Kitab, seperti tertulis dalam  1 Kor. 12 : 28 dan Ef. 4 : 11, bahwa dalam Gereja itu harus ada rasul, Nabi, Pemberita Injil, dan Gembala-gembala dan Pengajar-pengajar.

Untuk melaksanakan amanat rasul Paulus tersebut dan guna menegakkan kembali pesan nenek moyang, ketujuh anggota Majelis tadi bermusyawarah. Dalam musyawarah diputuskan bahwa akan dikirim surat ke Negeri Belanda kepada Rasul Fassen untuk menyampaikan permasalahan tersebut di atas.

Maka dikirimlah surat ke rasul Fassen. Ternyata maksud tersebut tidak disetujui. Usaha terus dilakukan dengan tekad ingin memiliki kemerdekaan rohani guna berbakti kepada Allah.

Semuanya memohon pertolongan Allah dalam doa, karena Dia-lah yang Mahatahu akan maksud dan tujuan yang baik untuk mendapat keleluasaan dalam menjalankan kebaktian, bahkan menegakkan kembali prinsip-prinsip dasar Gereja Kerasulan.

Sebab dalam Jemaat Kerasulan, kepercayaan kepada nabi adalah keyakinan yang sangat mendasar. Nabi yang selalu memberi petunjuk kepada jalan-jalan kehidupan bagi setiap orang yang percaya dan membutuhkannya.

Kepada ketujuh Majelis melalui nabi-Nya Tuhan berfirman: “Apa yang kalian butuhkan, Aku telah mengetahuinya. Berjalanlah dengan penuh sukacita. Aku akan membimbingmu, dan akan berjalan di depanmu.”

Dengan diterimanya firman / Nubuatan tersebut, betapa sukacita dan puji syukur ketujuh anggota Majelis tadi.  Demikian juga yang dirasakan seluruh anggota Jemaat, yang sangat mendambakan kemerdekaan rohani.

Sejak kejadian itu, gelora hidup merdeka di bidang kerohanian semakin membahana, memenuhi hati dan jiwa segenap anggota Jemaat.

Langkah-langkah berikutnya dimusyawarahkan dan di bawa dalam doa. Dan diputuskan untuk melaksanakan doa dan berpuasa oleh segenap anggota Jemaat.Mereka melaksanakan doa dan berpuasa. Mempersatukan cita rasa dan kehendak, untuk memohon kepada Tuhan yang Mahamurah dan Mahakasih agar kemerdekaan rohani segera terwujud

Setiap Senin malam dan Jumat malam dilaksanakan Kebaktian secara bergiliran, berpindah-pindah rumah, untuk mempelajari dan mendalami firman. Kehidupan gotong royong, saling membantu dan mengasihi benar-benar dilaksanakan. Persatuan dan kesatuan benar-benar terwujud.

Kepada yang ditimpa kesulitan hidup diberikan pertolongan dan bantuan serta penghiburan. Kepada yang salah diberikan nasihat dengan dasar Kasih Kristus. Kepada yang menderita sakit, di doakan, dilawat dan dilayani, agar kerohaniannya mendapat kekuatan, diberikan penghiburan agar mendapat kesembuhan secepatnya.

Demikianlah pada saat-saat itu kasih Kristus benar-benar terwujud di antara sesama dan dalam segala perkara. Kasih yang bukan hanya slogan semata, tetapi memang benar-benar suatu kenyataan hidup yang berurat dan berakar serta dilaksanakan di antara mereka. Dalam hati anggota Majelis dan anggota Jemaat, pada saat itu, adalah suatu keinginan yang tak kunjung putus, selalu disampaikan kepada Tuhan yang Mahakasih dalam setiap doa dan permohonan.

Mereka menginginkan dan membutuhkan seorang pemimpin yang berpangkat Rasul dari bangsa sendiri, untuk memimpin, mengurus dan mengatur Jemaat. Sementara itu, secara tiba-tiba, terjadilah suatu peristiwa, Bapak Railan sebagai nabi, menunjuk Diakon Rainan untuk menjadi Rasul.

Sebagian anggota Majelis dan anggota Jemaat memang merasa gembira, doa mereka telah Tuhan kabulkan.  Tetapi ada suatu kejanggalan yang mereka rasakan dan menyelimuti alam pikiran dan hati mereka, sedangkan jumlah nabi, bukan hanya seorang saja, melainkan ada beberapa orang. Suatu kepastian bahwa Suara Nubuatan yang diterima seorang nabi harus mendapat saksi dari nabi-nabi lainnya, agar tidak meragukan Jemaat. Apalagi mengenai masalah pokok yang dianggap sangat penting, yaitu perihal pimpinan Jemaat yang berpangkat Rasul. Tidak bisa begitu saja atau asal-asalan saja.

Tetapi kenyataan pada waktu itu memang begitu adanya, bahwa penunjukkan Diakon Rainan sebagai Rasul hanya oleh seorang nabi saja, tanpa saksi dari nabi-nabi lainnya. Hal ini menimbulkan keragu-raguan yang tidak dapat  dilenyapkan begitu saja, bahkan tidak dapat dianggap enteng. Hal inilah yang menjadi pokok pangkal pertentangan  yang diakhiri dengan perpecahan. Perpecahan semacam itu sangat tidak diinginkan . Bahkan haruslah sebaliknya, persatuan dan kesatuan yang harus ditegakkan dan dipertahankan. Tetapi ternyata kekuatan manusia tidak mampu mengatasinya. Dan tidak perlu mengkambing-hitamkan atau menyalahkan seseorang.

Hal ini terjadinya adalah atas kehendak Tuhan yang Mahakuasa juga. Kita patut mengambil pelajaran dan hikmatnya. Tuhan telah berbuat yang terbaik bagi kita. Allah Mahakasih, dan memang mengasihi mereka. Dia juga Mahatahu apa yang menjadi keinginan umat-Nya. Melalui nabi-Nya, Tuhan berpesan agar segenap anggota Jemaat melaksanakan doa dan berpuasa selama tiga hari.

Hari Senin tanggal 5 Januari 1953, dimulailah berdoa dan berpuasa, yang dilakukan oleh segenap anggota Jemaat yang telah mengerti. Mereka bersatu tekad untuk menyampaikan satu permohonan agar keinginan dikabulkan Tuhan.

Tanggal 7 Januari 1953, hari Rabu, setelah selesai berbuka puasa, semuanya berkumpul kembali untuk mempersatukan doa. Segenap hati dan pikiran dipusatkan kepada Allah  yang Mahakasih  agar berkenan mengabulkan doa yang mereka panjatkan.Pada saat itu juga, Tuhan yang Mahakarunia mengabulkan doa umat-Nya yang percaya dengan sesungguh-sungguhnya.

Keempat nabi-Nya secara serempak dan satu kata memberi petunjuk  yang pasti dan menetapkan salah seorang anggota Majelis yaitu Bapak Priester Mardi untuk menjadi pemimpin Jemaat dengan pangkat Rasul.

Tetapi karena merasa diri penuh dengan kebodohan dan tidak layak untuk memangku jabatan Rasul. Rasa keragu-raguan memenuhi dirinya, dan hal itu perlu dipertimbangkan secara matang dan mantap terlebih dahulu.

Setelah dipertimbangkan dengan penuh perasaan batin dan doa agar Tuhan memberikan kekuatan dan menunjukkan jalan yang benar yg harus ditempuh,maka barulah timbul kesadaran. Dalam diri Bapak Mardi muncullah semacam dorongan yang kuat yang mampu melenyapkan keragu-raguan tadi. Bapak Mardi teringatlah akan petunjuk-petunjuk Roh Kudus melalui nabi-Nya yang pernah didengarnya pada masa-masa silam,yang telah disampaikan orangtuanya. Pernah dinubuatkan bahwa suatu ketika akan lahir seorang pemimpin yang berasal dari bangsa sendiri,seorang yang hina.

Nubuatan itu kini telah digenapi. Bapak Mardi percaya bahwa Roh Kudus pasti akan membimbing dan memberi petunjuk serta kekuatan kepada dirinya.

Pada hari minggu pertama yaitu pada tanggal  1 Pebruari tahun 1953, dengan petunjuk keempat nabi kepada Bapak Priester Mian dan Bapak Priester Trius agar menobatkan Bapak Priester Mardi, dengan tumpangan tangan, menjadi rasul.

Bapak Mardi Marchasan menjadi rasul untuk memimpin sebuah jemaat yang memegang teguh dasar-dasar seperti yang dipesankan rasul Paulus kepada Jemaat-Nya di Korintus dan di Efesus. Yang juga di pegang teguh oleh nenek moyang kita serta diwariskan kepada kita, dan harus benar-benar menjadi milik mutlak kita.

Setiap tanggal 1 pebruari senantiasa kita peringati sebagai hari lahirnya PANGKAT RASUL dan menjadi tonggak sejarah Kerasulan kita. Pula sebagai hari kelahiran GEREJA KERASULAN PUSAKA.

KERASULAN PUSAKA DEWASA INI

Apabila kita memeperingati dan menyaksikan apa yang ada di jemaat Kerasulan Pusaka sekarang ini, lalu kita telusuri pula liku-liku perjalanan sejarahnya sejak jaman nenek moyang, kita akan teringat seorang tokoh yaitu Raden Karadinata, tokoh Bapak Petrus, Pergerakan 1903, yang kemudian diikuti peristiwa kepindahan dari Cikembar ke Rawaselang, kesulitan hidup jasmani dan rohani di Rawaselang, serta akhirnya Pergerakan Kemerdekaan Rohani tahun 1953, dengan lahirnya pemangku jabatan rasul; siapa gerangan yang tidak tergerak hatinya untuk mengangkat mazmur dan menaikan puji syukur kepada Allah?

Sebab Allah yang telah mengatur segalanya. Allah yang telah membimbing semuanya. Allah yang telah menentukan segalanya secara sempurna.

Oleh Karena itu, patutlah kita bersyukur kepada-Nya, seperti raja Daud yang senantiasa memuji-muji kepada Allah.

Mazmur 103 : 1 – 6, 8 – 14, dan 17 – 18

“Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! DIA yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, DIA yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, DIA yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan,sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang di peras. Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan kasih setia. Tidak selalu IA menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya IA mendendam. Tidak dilakukann-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, Tetapi setinggi langit diatas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia. Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya  dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita. Dia ingat bahwa kita ini debu. Tetapi kasih setia Tuhan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, Bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.”

Kita saksikan pada tahun1903 anggota jemaat hanya berjumlah 66 jiwa, tetapi kini keturunannya diperkirakan telah mencapai 2500 jiwa. Dari sejumlah itu tersebar di gereja gereja: Kerasulan Pusaka, Gereja Kristen Protestan Palalangon, Kerasulan Baru, Gereja Persekutuan Injil Eliezer, adapula yang tinggal menetap di luar negeri. Anggota Jemaat Kerasulan Pusaka kini telah berjumlah sekitar1300 orang, tersebar hampir di seluruh peloksok tanah air. Gereja Kerasulan Pusaka yang berpusat di Rawaselang kini telah memiliki Cabang-cabang di: Jakarta, Bogor, Cipanas,  Bojongsari, Cimahi/Bandung, dan Jambi.

Kita patut bersyukur pula, bahwa sebagian anggota Jemaat tidak melulu keturunan dan anak cucu serta cicit bapak Petrus, banyak di antara kita yang bukan langsung keturunannya.Tetapi mereka telah percaya dan mengerti prinsip dan dasar Gereja Kerasulan Pusaka. Dalam hal ini kita tidak memperbincangkan siapa yang keturunan langsung dan siapa yang bukan.

Tetapi barang siapa percaya kepada aliran Gereja kita dan memegang teguh segala peraturannya, mereka adalah PEMILIK “PUSAKA” tsb.

Kerasulan Pusaka bukanlah milik satu golongan keturunan tertentu, melainkan kita bersama yang mempercayai. Tanggung jawab pembinaannya dan pengembangannya dan maju mundurnya, adalah pada pundak kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama menyingsingkan lengan baju untuk kemajuan jemaat kita lahir dan batin, karena itu adalah tanggung jawab kita. Dan terutama kepada generasi muda, bahwa di atas pundak andalah terletak dan tergantung masa depan jemaat kita tercinta GEREJA KERASULAN  PUSAKA , semoga Tuhan memberkati kita.

Para anggota Majelis Gereja sejak tahun 1903 yang telah meninggal dunia :

  • Bapak Priester Voorhanger Petrus Marchasan.
  • Bapak Oudste Idris Marchasan.
  • Bapak Oudste Mika Marchasan.
  • Bapak Oudste Elipas Attap.
  • Bapak Priester Yeheskiel Attap.
  • Bapak Priester Saman Atip.
  • Bapak Diakon Daud Nain.
  • Bapak Priester Railan Satir.
  • Bapak Diakon Mangun Nurmin.
  • Bapak Diakon Rainan Marchasan.
  • Bapak Diakon Raimin.
  • Bapak Diakon Yohanes Saiban.
  • Bapak Diakon Asa Kalla.
  • Bapak Diakon Masiin Saiman.
  • Bapak Diakon Hasan Muntarim.
  • Bapak Diakon Lewi Nurmin.
  • Bapak Diakon Natanael.
  • Bapak Opzeiner Mian Kaian.
  • Bapak Oudste Trius Chasan Mestar.
  • Bapak Priester Yohanes Masad.
  • Bapak Diakon Saipin Jinan.
  • Bapak Diakon Suharta Saiman.
  • Bapak Diakon Kartaprawira.
  • Bapak Priester Kasinan Endong.
  • Bapak Diakon Herman Ho Nyun Thay.
  • Ibu Diakones Marianah.
  • Ibu Diakones Elkanah.
  • Ibu Diakones Arniah.
  • Ibu Diakones Raikah.
  • Ibu Diakones Rustinah.
  • Ibu Diakones Siti.
  • Ibu Diakones Ratinem.
  • Ibu Diakones Isnah.
  • Ibu Diakones Ispah.
  • Ibu Diakones Hana.

Para Anggota Majelis yang masih hidup, tapi sudah tidak aktip :

  • Bapak Diakon Anton Marchasan.
  • Bapak Priester Helion Attap.
  • Ibu Diakones Painah.
  • Ibu Diakones Yuhati Nurmin.

Para Anggota Majelis Gereja Kerasulan Pusaka yang masih hidup dan aktip :

  • Rasul Mardi Marchasan.
  • Opzeiner Isman Attap.
  • Oudste Yotham Marchasan.
  • Oudste Titus Nurmin.
  • Herder Yosia Nurmin.
  • Evangelist Yoram Sakiin.
  • Priester Nopelus Marchasan.
  • Priester Raiman Attap.
  • Priester Martinus Marchasan.
  • Priester Amon Elipas.
  • Priester J. Methias E.S.
  • Priester Hirkanus Chasan Mestar.
  • Priester Martan Marchasan.
  • Priester Yoas Nurmin.
  • Diakon Samenan Mail.
  • Diakon Lasarus Saiban.
  • Diakon Dana Saiman.
  • Diakon Satim Attap.
  • Diakon Sutisna Nurmin.
  • Diakon Yosiman Endong.
  • Diakon Septias Masad.
  • Diakon Roeben S.K
  • Diakones Ranita Attap.
  • Diakones Marsinah Nurmin.
  • Diakones Anah Taruno.
  • Diakones Tarsinah Chasan Mestar.
  • Diakones Sairah Kaian.
  • Diakones Monika Attap.
  • Diakones Sukinah Nurmin.
  • Diakones Renati Marchasan.
  • Diakones Yoseti Chasan Mestar.

TAMBAHAN DARI PENERBIT

Segala sesuatu yang terjadi di Jemaat Kerasulan Pusaka adalah atas kehendak Tuhan. Demikian pula kehendak Tuhan yang berlaku di lingkungan ke-Anggota Majelis-an, yaitu:

Melalui Suara Nubuatan, Tuhan menunjuk beberapa orang anggota jemaat supaya di tahbiskan menjadi pekerja di ladang-Nya, yaitu:

  • Bapak Y. Yonam Ditahbiskan menjadi Diakon.
  • Bapak Amin Simon ( Cipanas ) Ditahbiskan menjadi Diakon.
  • Bapak Riatma Nurmin Ditahbiskan menjadi Diakon.
  • Ibu Mishar Marchasan di tahbiskan menjadi Diakones

Dengan demikian semakin lengkaplah tenaga pekerja ladang Tuhan. Tetapi di antaranya ada pula yang Tuhan panggil pulang (siapa yang dipanggil dan waktu di panggil, tidak teringatkan).

Berselang beberapa waktu lamanya. Melalui Suara Nubuatan pula Tuhan berkenan menunjuk beberapa di antara anggota Majelis yang ada agar ditingkatkan melalui pentahbisan, yaitu:

  • Priester Nopelus M. ditahbiskan menjadi Rasul.
  • Priester Martinus M. ditahbiskan menjadi Opzeiner.
  • Priester Hirkanus C.M. ditahbiskan menjadi Oudste.
  • Priester Raiman Attap ditahbiskan menjadi Oudste.
  • Priester Martan M. ditahbiskan menjadi Herder.
  • Priester J. Methias ditahbiskan menjadi Evangelist.

Dengan demikian lengkaplah kembali tenaga pekerja ladang Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi di Jemaat Kerasulan Pusaka adalah atas kehendak Tuhan jua adanya. Demikian pula di lingkungan anggota Majelis, beberapa di antaranya Tuhan panggil pulang, yaitu:

  • Ibu Diakones Monika.
  • Bapak Priester Yoas N.
  • Bapak Diakon S. Mail.
  • Bapak Diakon Amin S.
  • Bapak Rasul Mardi M.
  • Diakon Lasarus S.
  • Bapak Opzeiner Isman
  • Ibu Diakones Mishar M.
  • Bapak Oudste Raiman
  • Bapak Diakon Sutisna N.
  • Bapak Oudste Yotham
  • Bapak Diakon Satim.
  • Bapak Diakon Roeben S.K.
  • Bapak Herder Amon E.
  • Bapak Ev.  J. Methias E.S.
  • Bapak Herder Yosia N.

Kepincangan pelayanan karena kekurangan tenaga terasa sekali oleh para anggota Majelis yang ada. Mereka sepakat untuk memohon ke hadirat Tuhan, melalui doa dan puasa, supaya Tuhan melengkapi kembali para pekerja  ladang-Nya. Tuhan Mahatahu akan kebutuhan Jemaat-Nya.

Melalui Suara Nubuatan, Tuhanpun mengabulkan dan menunjuk:

Anggota Majelis yang ditingkatkan:

  • Bapak Diakon Septias ditahbiskan menjadi Priester.
  • Bapak Diakon Riatma ditahbiskan menjadi Priester.
  • Bapak Diakon Roeben ditahbiskan menjadi Priester.
  • Ibu Diakones Yoseti ditahbiskan menjadi Priester.
  • Bapak Diakon Roeben SK. Menjelang hari pentahbisan, sudah Tuhan panggil pulang melalui penyakit kanker lambung. Kendatipun demikian pentahbisannya tetap dilaksanakan.

Di antara anggota Jemaat yang ditahbiskan menjadi Diakon, yaitu:

  • Sdr. Abiatar PMS.
  • Bpk. Yustiman.
  • Bpk. Efraim.
  • Bpk. Asmari.
  • Bpk. Ruhman R.
  • Bpk. Haris BH.
  • Bpk. Herawan MS.,
  • Bpk. Dedy Meyatna.

Menjadi Diakones, yaitu:

  • Sdri. Endang Puji Astuti dan Sdri. Rahayu.

Mengingat cabang-cabang Gereja Kerasulan Pusaka dan dirasakan perlu adanya Voorhanger, maka melalui doa dan puasa, kami mohon agar Tuhan berkenan menunjuk di antara anggota Majelis yang ada ditahbiskan menjadi Voorhanger, terutama untuk cabang Jambi.

Melalui Suara Nubuatan, Tuhan berkenan mengabulkan, yaitu:

Yang ditingkatkan :

  • Herd. Martan ditahbiskan menjadi Oudste.
  • Pr. Amon E. ditahbiskan menjadi Herder.
  • Pr. Yosiman ditahbiskan menjadi Evangelist.
  • Dk. Abiatar PMS. Ditahbiskan menjadi Priester.
  • Dk. Efraim ditahbiskan menjadi Priester ( yang oleh Sidang Majelis langsung diangkat menjadi Voor hanger Gereja Kerasulan Pusaka Cabang Jambi ).
  • Dk. Ruhman diangkat menjadi Priester.

Yang ditahbiskan menjadi Diakon dan Diakones:

  • Bpk. Akhustiman ( Cilacap ) menjadi Diakon.
  • Bpk. Samson S. ( Depok ) menjadi Diakon.
  • Sdr. David RSK. ( Jakarta ) menjadi Diakon.
  • Bpk. Satrianus ( Bandung ) menjadi Diakon.
  • Ibu Maria Magdalena ( Cipanas ) menjadi Diakones.

Dengan demikian susunan anggota Majelis Gereja Kerasulan Pusaka sampai dengan tahun 1997, sebagai berikut:.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

Rsl Nopelus.

Opz. Martinus.

Oud. Hirkanus

Oud. Titus

Oud. Martan

Herder ( kosong )

Ev. Yosiman

Pr. Dana

Pr. Septias

Pr. Riatma

Pr. Yoseti

Pr. Abiatar PMS

Pr. Efraim

Pr. Ruhman R

Dk. Y.  Yonam

Dk. Yustiman

Dk. Asmari

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

Dk. Haris BH

Dk. Herawan MS

Dk. Dedy Meyatna

Dk. Akhustiman

Dk.Samson Suryatna

Dk. David RSK

Dk. Satrianus

Dks. Ranita

Dks. Marsinah

Dks. Anah

Dks. Tarsinah

Dks. Sairah

Dks. Sukinah

Dks. Renati

Dks. E. Puji Astuti

Dks. Rahayu

Dks.Maria agdalena

Kurang lebih satu tahun berselang, kembali terasa kepincangan dalam melakukan pelayanan, sehingga seluruh anggota Majelis memohon kembali kepada Tuhan supaya ditambahkan kembali para pekerja di ladang Tuhan. Maka pada awal tahun 1998, Tuhan mengabulkan permohonan para Majelis tersebut dan memilih beberapa orang  dari anggota Jemaat untuk turut bekerja diladang-Nya, yaitu :

  • Bapak Nopolis Marchasan, untuk menjadi Diakon.
  • Bapak Kusmulyadi, untuk menjadi Diakon.
  • Bapak Herman Pontoh, untuk menjadi Diakon.
  • Bapak Herson Nurmin, untuk menjadi Diakon.
  • Sdr. Sepriyadih ( Jambi ), untuk menjadi Diakon.
  • Ibu T. Kartika T, untuk menjadi Diakones.

Ke enam anggota Jemaat ini diangkat dan ditahbiskan oleh Rasul menjadi para pekerja di ladang Tuhan pada tanggal 1 Februari 1998. Dengan demikian, terasa lengkap para pekerja di ladang Tuhan

Kejadian demi kejadian banyak dialami oleh Jemaat, baik yang lahir maupun yang meninggal, baik di kalangan anggota Jemaat, bagitu pula di kalangan Majelis, yang mengakibatkan terasa kembali kepincangan dan kekosongan dalam pelayanan.

Di antara anggota Majelis yang meninggal atau dipanggil pulang untuk mengahadap hadirat Tuhan adalah :

  • Bapak Priester Dana Saiman.
  • Ibu Diakones Ranita.
  • Bapak Diakon Dedi Meyatna.
  • Ibu Diakones Endang Puji Astuti.
  • Ibu Diakones Tarsinah Chasan Mestar.
  • Bapak Priester Satrianus.
  • Ibu Diakones Sukinah.
  • Ibu Diakones Sairah.

Selanjutnya beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006, para Majelis memohon kepada Tuhan agar ditambahkan kembali para pekerja di ladang Tuhan, mengingat semakin hari, semakin bertambah banyak jumlah anggota Gereja Kerasulan Pusaka. Menjelang akhir bulan Februari tahun tersebut, seluruh Para Majelis mengadakan doa dan puasa selama tiga hari mulai tanggal 21 sampai 23 Februari. Tuhan ternyata mengasihi umat-Nya, sehingga mengabulkan dan menunjukkan  orang-orang yang harus turut bekerja di ladang anggur-Nya. Tetapi para Majelis tidak hanya sampai di situ saja, dilakukan kembali beberapa kali Doa Safaat guna kepastian orang-orang yang Tuhan pilih. Akhirnya, pada tanggal 16 Maret 2006 ditetapkan beberapa orang dari anggota Jemaat untuk turut bekerja, dan beberapa dari anggota Majelis yang ditingkatkan.

Yang di tingkatkan :

  • Diakon Herawan MS. menjadi Priester.
  • Diakon Herman Pontoh menjadi Priester.
  • Diakon Samson Suryatna menjadi Priester.
  • Diakon Herson Nurmin menjadi Priester.

Yang di tingkatkan menjadi Diakon dan Diakones :

  • Bapak Yahya Saiban ( Bojong sari ) menjadi Diakon.
  • Bapak Sunardi Marchasan menjadi Diakon.
  • Bapak Rustandi Attap menjadi Diakon.
  • Bapak Mateus Emong menjadi Diakon.
  • Ibu Sri Hesti menjadi Diakones.
  • Ibu Yuniara Marchasan menjadi Diakones.
  • Ibu Lusenih Satir menjadi Diakones.

Ke empat orang anggota Majelis yang ditingkatkan  dan ke tujuh anggota Jemaat yang  dipanggil / dipilih Tuhan tersebut di atas, disahkan atau ditahbiskan oleh Rasul pada tanggal 02 April 2006, di hadapan seluruh anggota Jemaat Gereja Kerasulan Pusaka.

Dengan demikian susunan anggota Majelis Gereja Kerasulan Pusaka  sampai dengan tahun 2008  adalah sebagai berikut :

1.  Rasul Nopelus                      19.Priester Herson.

2.  Opzeiner martinus.               20.Diakon Asmari.

3.  Oudste Hirkanus.                  21.Diakon Akhustiman.

4.  Oudste Martan.                    22.Diakon Nopolis.

5.  Herder Yosiman.                   23.Diakon Kusmulyadi.

6.  Evangelist Ruhman.              24.Diakon Sepriyadih.

7.  Evangelist Riatma.                25.Diakon Yahya Saiban.

8.  Priester Septias.                   26.Diakon Sunardi.

9.  Priester Yoseti.                            27.Diakon Rustandi.

  1. Priester Abiatar.                    28.Diakon Mateus.
  2. Priester Epraim.                   29.Diakones Marsinah.
  3. Priester Yonam.                    30.Diakones Anah.
  4. Priester Haris.                      31.Diakones Rahayu.
  5. Priester Yustiman.                32.Diakones Maria.
  6. Priester David.              33.Diakones T Kartika.
  7. Priester Herawan.                 34.Diakones Sri Hesti.
  8. Priester Herman Pontoh         35.Diakones Yuniara.
  9. Priester Samson.                  36.Diakones Lusenih.

CAHAYA SUMOROT

Injil Yohanes  5 : 51

Disusun oleh :

Rasul MARDI MARCHASAN

GEREJA KRISTEN KERASULAN PUSAKA

Rawaselang – Ciranjang 43282

Cianjur

28031997

Pendahuluan.

Pada waktu kebaktian para Majelis hari senin 10 September 1979, ada nubuatan Roh melalui Dks. Renati : “ Bacalah Injil  Yohanes  5 : 51 “ Seketika itu juga dicari dalam Alkitab, ( apa?, dan bagaimana bunyi atau maksud tujuan ayat tersebut ) ; Namun sayang, hanya pasalnya saja yang ada, sedangkan ayatnya tidak ada, karena di dalam pasal 5 itu hanya sampai ayat 47; oleh sebab itu suara nubuatan tersebut tidak begitu diperhatikan, karena masih ada nubuatan lain yang harus dipecahkan/dimusyawarahkan. Hari senin berikutnya, yaitu tanggal 17 September 1979,tiada nubuatan lain yang harus dipecahkan, maka persidangan kembali kepada nubuatan Injil Yohanes 5 : 51 yang tersebut diatas, sebab tidak mungkin Tuhan menipu dengan nubuatan yang tiada artinya. Karena nubuatan itu adalah nubuatan Roh, maka jalan pemecahan-nyapun harus oleh Roh juga.  Semuanya termenung; Tetapi apakah semuanya berserah kepada Tuhan atau tidak saya tidak tahu. Bagi para Majelis yang bepikirnya dibarengi dengan permohonan kepada Tuhan agar terbuka untuk menapsirkan arti dan tujuan Injil Yohanes 5 : 51 tadi, maka pada waktu itu juga Tuhan memberikan ilham bahwa ayat 51 itu adalah Tahun 1951, dimana pada tahun itu telah terjadi revolusi rohani besar-besaran. Jadi tahun 1951 itu merupakan tahun yang harus diingat dan tidak boleh dilupakan, bahkan harus dijadikan dasar hidup rohani ( kebangunan rohani ) anggota jemaat Kerasulan Pusaka. Semua majelis puas, bahkan nubuatanpun membenarkan penjelasan tersebut. Jadi ayat 51 itu berarti tahun 1951 yang merupakan tonggak sejarah menjelang berdirinya Jemaat Kerasulan Pusaka, dimana para patriot Jemaat berjuang mati-matian dengan semangat juang yang berkobar-kobar untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan beagama, terlepas dari cengkeraman penjajahan kuasa asing yang memonopoli peraturan beribadat kepada Tuhan, Jemaat Rawaselang menuntut kebebasan beragama yang berlandaskan ketentuan-ketentuan dan cara-cara yang telah di gariskan baik oleh para leluhur terutama oleh Tuhan dalam injil-NYA.

Semangat juang yang menyala-nyala inilah yang harus dimiliki oleh generasi-generasi penerus berikutnya untuk menjalankan dan menumbuh-kembangkan keyakinan dan kerukunan beragama baik terhadap sesama anggota maupun terhadap sesama pemeluk agama, demikian pula terhadap negara terutama dalam berbakti kepada Tuhan, tidak menyimpang dari rel yang telah ditentukan. Demikian sekelumit penerangan mengenai ayat ke 51. Setelah saya menjelaskan ayat ke 51, timbulah pertanyaan dari salah seorang Majelis : Jadi kalau  begitu pasal 5,  apa arti dan maksudnya ? Mengenai pasal 5 inipun Tuhan memberikan penjelasan dalam Roh melalui hambanya Rasul, pasal 5 adalah periode yang ke 5 atau tahap ke 5 yang berlaku dalam Jemaat Kerasulan Pusaka; Berarti sejarah/kisah perjuangan tokoh/patriot yang ke-5 di Kerasulan Pusaka, sebab jemaat Kerasulan Pusaka telah mempunyai 5 orang tokoh pejuang, yaitu:

1. Bapak PETRUS MARCHASAN                        tokoh yang ke-1

2. Bapak IDRIS MARCHASAN                             tokoh yang ke-2

3. Bapak MIKA MARCHASAN                             tokoh yang ke-3.

4. Bapak ELIPAS ATTAP                                     tokoh yang ke-4

5. Bapak Rasul MARDI MARCHASAN               tokoh yang ke-5

Timbul lagi pertanyaan: “Mengapa Tuhan mempersamakan dengan rasul Yohanes, tidak rasul yang lainnya?”

Pada jaman Tuhan Yesus kita tahu bahwa rasul Yohanes adalah saudara (adik) Tuhan Yesus sendiri. Ditahbiskan bukan oleh manusia tetapi langsung oleh Tuhan.

Tokoh yang ke-5 di Kerasulan Pusaka pun berjabatan Rasul.

Ditabiskan oleh Tuhan bukan oleh manusia. Beliau dilahirkan kemudian setelah Tuhan Yesus. Berarti beliau pun adalah adik Tuhan Yesus. Kalau dilahirkan sebelum Tuhan bukan adik-Nya.

Pengakuan saudara (adik) oleh Tuhan ini telah dinyatakan-Nya kepada seluruh anggota Jemaat pada setiap ada “Roh Kaca”. Jadi jelas bahwa Rasul yang ada di jemaat Kerasulan Pusaka sekarang pun adalah adik Tuhan Yesus.

Keterangan mengenai “Injil”nya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa injil itu berisikan hukum-hukum dan firman Tuhan yang menjadi dasar hidup kita. Dengan Injil itu pula kita dapat menyelidiki, mengenal serta mendalami sifat-sifat Allah yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari agar kita beroleh hidup. Sekarang kita perhatikan/tinjau mengenai tugas-tugas rasul sebagai hamba Allah. Tugas utamanya ialah membawakan firman Tuhan, membimbing anggota jemaat, memberikan penjelasan-penjelasan mengenai jalan-jalan keselamatan, menjadi perantara dalam menghadap Tuhan agar kita tetap teguh dalam kepercayaan dan menyatakan buah-buahnya (sebagaimana tertulis dalam SUMTIKAN) dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap sesama maupun langsung terhadap Tuhan. Jadi rasul itu adalah wadah yang tersedia sebagaimana injil tadi.

Di atas telah saya tuliskan bahwa semangat juang rohani yang menyala-nyala dalam jiwa para patriot pembela kemerdekaan dan kebebasan beragama Kerasulan Pusaka harus kita miliki dan kita amalkan.

Di bawah ini akan saya uraikan cara-cara para leluhur kita berjuang untuk membina, melaksanakan dan mengembangkan keyakinan di dalam kehidupan rohani Kerasulan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan  baik oleh para leluhur kita maupun oleh Tuhan sendiri, yaitu sebagai berikut:

PASAL I

Tokoh: Bapak PETRUS MARCHASAN

Segala sesuatu yang kita alami di Kerasulan Pusaka sekarang ini telah Tuhan beritahukan jauh sebelumnya ,yaitu mulai pasal 1 sampai pasal 5 ,sebagai berikut :

“Pada masa-masa yang akan datang kamu akan di asuh dan dipimpin oleh bangsamu sendiri , tidak lagi bernaung di bawah kuasa bangsa lain . seorang di antara kamu ,yang keluar dari kandang ayam , akan berkenan  memangku jabatan Rasul “Begitulah perjanjian Tuhan untuk kita .

Sebagaimana tertulis dalam  inj . yoh . 1:1-5: “Pada mulanya adalah firman. Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu  adalah terang manusia.  Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Begitulah kejadian yang telah dialami nenek moyang kita ketika mereka berada di Cikembar – Sukabumi .

Mereka berpegang teguh pada firman, sebab firman itu benar-benar merupakan kekuatan dasar dalam kehidupan rohani manusia yang mempercayainya .

Tuhanpun berkenan menggenapinya , karena tanpa Dia tidak mungkin bisa terjadi , walau kehendak manusia sekalipun :biar kepandaian manusia itu setinggi langit ,tapi tanpa Dia segala rencananya tidak akan terwujud . Jadi segala sesuatu rencana manusia itu harus beserta Dia

Tuhan berkenan menganugerahkan hidup kepada yang percaya dan membutuhkan hidup dalam kerohaniannya sehingga menjadi terang dan terang itu memancar ke segala arah .

Hal ini adalah kewajiban setiap manusia yang benar-benar mengharapkan keselamatan jiwanya , baik sekarang maupun untuk masa nanti.

Seperti dalam malam gelap gulita seekor kunang-kunangpun akan tampak sebagai pelita . Lebih-lebih terang petromak atau lampu listrik akan tampak lebih terang benderang .Demikian pula kehidupan rohani para leluhur kita jaman dahulu tampak terang dari kejahuan karena sering kali  mengadakan da”wah  membahas firman Tuhan untuk menghidupkan rohani agar terang benderang sehingga tampak dari kejahuan.

Mereka bersatu teguh  menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan agar Tuhan berkenan melindungi dari segala bahaya baik lahir maupun batin . Tuhanpun Mahatahu akan tekad para leluhur .Tuhan akan datang melalui salah seorang di antaranya  yaitu Pak Rustam.

Nabuatan itu menjelaskan dan menunjukkan bahwa semua harus mengakui segala dosa  ,dan bertobat .

Pak Rustam adalah seorang yang pendiam . tetapi Tuhan berkenan memakainya menjadi Pengemban Nabuatan berbicara dengan lancar dalam menyampaikan nubuatan-nubuatan itu.

Kejadian Pak Rustam bernubuat itu berlangsung pada saat kebaktian.

Banyak di antara anggota anggota yang merunduk sambil menangisi segala apa yang di nubuatkan itu benar benar sesuai dengan apa yang mereka lakukan di masa masa lampau, dan benar banar terasa menjadikan dosa di hadirat Tuhan . Mereka sangat menyesal atas segala perbuatanya itu.

Tetapi ada juga yang tidak merasa berdosa karena yang telah di perbuatnya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Berarti, yang dirasakanya telah berbuat segala yang berkenan kepada Tuhan .Mereka menyangkal suara nubuatan itu sambil menuduh bahwa Pak Rustam ngamuk dan dirasuk setan. Bahkan tuan Padri sendiri mencerca  dan menghina sambil mengatakan bahwa si Rustam gila.

Pada waktu itu juga tuan Padri melarang mengadakan kebaktian lagi. Kebaktian dilarang sama sekali, disertai ancaman bahwa barang siapa tidak patuh akan dilaporkan.

Tapi hal itu tidak menjadi halangan untuk mengadakan kebaktian . larangan tidak dihirauhkan, kebaktian berjalan terus sebagaimana biasa sampai polisi  pun campur tangan melakukan pengawasan . Tuhan tidak berkenan atas tindakan tuan Padri tersebut . Tuhan tetap menyertai para leluhur . Polisi pun tidak dianggap halangan

akhirnya Nenek moyang diusir harus meningngalkan tempat secepatnya. Dengan persatuan yang kokoh mereka pergi meninggalkan Cikembar menuju  Rawaselang.

PASAL  II

Tokoh : Bapak IDRIS MARCHASAN

Bapak Petrus berputra 7 orang yaitu : Mika, Elkanah, Idris, Isnah, Sarpiah ,Ispah, dan Asipah. Yang 6 orang ikut pindah ke Rawaselang , sedangkan yang seorang yaitu Elkanah tidak karena sudah berkeluarga . mereka benar benar menghormati orang tua.Salah seorang di antaranya , yaitu Idris sifatnya berbeda dengan saudara saudaranya . Ia banyak menuruti kehendak sendiri , karena mempuanyai kelebihan di bidang pengetahuan.Untuk menanggulangi kesulitan hidup Idris melamar untuk menjadi guru di Palalangon, dan di terima.  Namun ia tidak lama mengajar di Palalangon ,karena dipindahkan ke Gunung Putri  Bogor . Ketika ia meninggalkan Rawaselang , istrinya sedang hamil tua. Pada saat melahirkan keadan istrinya gawat sekali . kalau menurut perkiraan manusia tipis harapan dapat ditolong. Selama tiga hari tiga malam si bayi tidak  mau keluar/ lahir, padahal saatnya lahir. Dengan adanya kejadian seperti ini, sudah tentu ada maksud Tuhan yang tertentu , yang tidak boleh diabaikan begitu saja .

Sebab tidak mungkin Tuhan berbuat sesuatu tanpa maksud /tujuan tertentu ,yang berguna bagi kerohanian yang bersangkutan.  Pak Idris pun disusul dan dikabari agar secepatnya pulang . Setibanya Pak Idris di Rawaselang langsung dinasehati orang tuanya bahwa dengan kejadian ini pasti ada arti dan maksud Tuhan yang harus   disadari.  Kejadian tersebut dibawa dalam persekutuan doa. Tuhan pun berfirman melalui  nabi-NYA :”Bertobatlah kamu, bersujudlah pada orang tuamu mohon pengampunan, tentu AKU menolong, anakmu akan lahir dengan lancar dan selamat !”

Dijelaskan bahwa dengan tindakan-tindakan Pak Idris yang telah menyimpang dari rencana semula yaitu akan  hidup setia sekata dengan keluarga baik lahir maupun batin, mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri dan keluarganya .karena akhirnya Pak Idris meniggalkan keluarganya dan menyimpang dari keyakinan semula.

Pak Idris pun tidak menyangkal. Bahkan suara nabuatan itu diterima dengan penuh  kesadaran sebagai suatu nasihat ,tanda kasih setia Tuhan kepadanya . Dengan hati penuh kerendahan dan pengakuan Pak Idris pun bersujud pada orang tuanya mohon pengampunan.Karena Tuhan tidak pernah ingkar janji, maka bayinyapun lahirlah dengan lancar dan selamat. Ibu dan bayinya dirawat sebagaimana  mestinya. Karena bayinya perempuan dinamailah RATNIMAH .

Setelah kejadian itu Pak Idris pindah bekerja ka Cimahi. bekerja di  toko buku (percetakan) perantaraan rasul Yacob. Dibidang kejemaatan Pak Idris dipercaya memangku jabatan Oudste. Beberapa tahun kemudian, orang tuanya dipanggil pulang oleh Tuhan. Pimpinan di Rawaselang kosong Pak Idris ditugaskan untuk mengisi kekosongan tersebut. Dengan pangkat Oudste, sedang Pak Mika berada di bawahnya. Berselang beberapa waktu datanglah dari Cimahi Oudste Stefress,untuk mentabiskan Pak Mika untuk menjadi pimpinan. Oudste Idris diberhentikan. Akibatnya timbullah pertentangan yang hampir-hampir memuncak.

Lama kelamaan terbongkarlah latar belakang kejadian itu. Tindakan Oudste Stefress tersebut. Adalah tanpa / bukan tugas dari Rasul, melainkan hanya kemauannya sendiri, karena iri dengan jabatan Pak Idris , merasa telah direbut kekuasaan.

Setelah Rasul mengetahui peristiwa itu Oudste Stefres dipecat yang kemudian pindah ke Gereja lain.

Kini Oudste. Idris kembali sebagai pimpinan. Sejak itulah ada istilah “dengar kata” yang berarti “turut pimpinan”, yang berarti pula tidak dibenarkan adanya saran / pendapat lain yang datang bukan dari Rasul.  Kita tahu Rasul adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah. Jika tanpa bimbingan Suara Nubuat bisa saja melakukan penyimpangan-penyimpangan. Sedangkan di Rawaselang tetap pada keyakinan: Rasul, Nabi, Pemberita Inji / Gembala dan Pengajar ( Efesus 4:11 ), Maka jelaslah istilah “ dengar kata” itu tidak dapat diterima. Dengan adanya istilah tersebut, sering terjadi perbedaan pendapat, di antaranya dengan pak Mika yang berpegang teguh pada

Karena sering timbul perbedaan pendapat, pak Mika pun mengalah dan beristirahat untuk sementara menghindari serangan dari yang berwewenang. Dengan beristirahatnya pak Mika (yang dituakan) maka semangat kerohanian anggotapun menurun.

Tapi Tuhan tidak membiarkan keadaan ini berlarut-larut. Berfirmanlah Tuhan melalui Nabi-Nya (bi Elkanah): “Sunyi senyap suasana kini karena ditinggalkan seorang penatua. Kembalilah segera ke jalan semula! Apakah salah bila merendahkan diri? Dan apa pula manfaatnya bila bertengkar? Berbuatlah baik antara sesama sebelum terlambat”

Pak Mika pun menyadari hal itu. Dengan segera ia kembali kejalan semula mengalah di bawah kuasa pak Idris sampai tiba saat Tuhan memanggil pulang pak Idris ke alam baka.

PASAL  III

Tokoh: bapak Mika Marchasan

Setelah Rasul Yakob wafat, tuan Smidth menggantikannya menjadi Rasul.Rasul ini mempunyai sifat-sifat: bengis tapi penuh kasih, Rawaselang sering dikunjungi, terampil dan cakap. Arak, anggur, jenefer dan wisky adalah kegemarannya, kadang-kadang sampai mabuk. Walaupun sebagai pecandu minuman keras, tapi sangat mengasihi tiap anggota. Kepada yang sakit sering melawat sambil memberikan nasihat.Beliau sempat pula membuatkan tempat kebaktian, bahkan beliau sendiri sebagai tukang. Rasul Smidth pula yang mentahbiskan pak Mika sebagai pimpinan di Rawaselang menggantikan Oudste Idris, dengan pangkat Oudste. Dalam pasal III inilah timbul keajaiban-keajaiban berupa wahyu-wahyu Tuhan yang menjadi penunjuk/pemberitahuan untuk masa-masa yang akan datang. Di antaranya: Pada suatu ketika pak Mika jatuh sakit panas. Selama sepuluh hari sepuluh malam tidak sadarkan diri, tidak makan dan minum, tidak berkata sepatah kata pun, tidak bergerak, tapi masih tatap segar bugar. Setelah pak Mika sembuh kembali, menuturkan pengalamannya selama menderita sakit panas, Tuhan telah membawa jalan-jalan kesuatu tempat yaitu ke kebun milik pak Salmon.

Kebun yang semula penuh rumput itu tampaknya terbalik dan berbentuk pematang sebagaimana lazimnya orang menanam ubi jalar.Namun setelah diperhatikan benar-benar, yang tampak seperti pematang itu bukan tanah melainkan tumpukan ikan tawes kering sehingga tampak berkilauan. Tuhan berfirman kepada pak Mika:

Seperti tanah yang terbalik dan berubah menjadi tumpukan ikan tawes kering inilah kejadian yang akan Aku perbuat di masa yang akan datang.

Di dalam kepercayaan kepada-Ku, kamu sudah jauh. Kepercayaanmu dari dunia ini sudah naik tapi kepada-Ku belum sampai karena terhalang adanya pangkat Rasul.

Kehidupan jemaat sudah jauh dari kasih mengasihi yang sesungguhnya. Semua aturan harus diperbaiki dan diperbaharui. Tentang jual beli sesama saudara harus berbeda dengan yang lain, dalam hal upah-mengupah harus ada perbedaan dengan orang luarmu. Penuturan-Ku ini adalah yang terakhir dan tidak akan Aku ulangi kembali. Dijawab oleh pak Mika: “Ya Tuhan, bagaimana hamba sekarang?” Tuhan berfirman kembali: “ Sekarang kamu tetap-tetaplah dahulu, nanti  ada satu ketika akan  Aku rombak mulai dari pusatnya.”

Tiada berapa lama antaranya pak Mikapun wafat di panggil pulang

Oleh Tuhan. Pemakaman jenazah dilaksanakan oleh Oudste Faassen.

Pasal   IV

Tokoh : Bapak ELIPAS  ATTAP

Berselang beberapa waktu setelah pak Mika wafat timbul suatu peristiwa yang mengejutkan dan menghebohkan segenap anggota jemaat Rawaselang, terutama di kalangan para Majelis.

Ketika tuan Smidth sedang membangun gereja di Magelang sering di kabharkan beliau mabuk. Tapi hal ini baru berita saja, belum yakin. Namun setelah beliau kembali ke tengah-tengah keluarganya, mungkin dalam keadaan mabuk,  keluarganya di siksa sehingga salah seorang anggota keluarganya minta pertolongan kepada Oudste Faassen; bahkan saudara saya sendiri Oudste Yotham secara kebetulan menyaksikan sendiri peristiwa tersebut.

Karena kejadian-kejadian seperti itu Oudste Faassen melaporkannya kepada Rasul kepala. Keputusannya: Tuan Smidth diberhentikan dari jabatannya, dan dinyatakan bukan Rasul lagi. Ke Rawaselang pun keputusan Rasul Kepala ini diberitakan. Beberapa waktu kemudian tuan Smidth mengirim surat ke Rawaselang yang menyatakan bahwa beliau masih tetap menjadi Rasul. Kira-kira satu bulan kemudian tuan Smidth datang ke Rawaselang mentahbiskan Pr. Elipas menjadi Oudste dan seorang pemuda berumur 21 tahun menjadi Diakon.

Di atas sudah saya sebutkan bahwa tuan Smidth diberhentikan dari jabatannya sebagai Rasul, walaupun beliau mengatakan masih tetap menjadi Rasul. Tuhan yang Maha tahu akan pengakuan palsu tuan Smidth itu, dan berfirman: “ palsu, palsu, palsu, waspadalah!” Dengan demikian Jemaat Rawaselang tidak dapat membenarkan pengakuan palsu tuan Smidth tersebut. Dan kenyataannya beliau berada di bawah kuasa Oud. Faassen.

Tahun 1945 Indonesia merdeka. Tahun 1947 Oud. Elipas wafat, Oud. Faassen yang telah ditahbiskan menjadi Rasul pun kembali ke negeri Belanda dan sebagai gantinya adalah Pr Tan Bian Sing dengan pangkat barunya yaitu Oudste. Sepeninggal Oud. Elipas, Voorhanger di Rawaselang diserahkan kepada Pr. Mian dengan pembantu- pembantunya yaitu Pr. Trius dan Pr. Mardi.

Pasal   V

Tokoh : Bapak Rasul MARDI MARCHASAN

Setelah selesai membahas secara ringkas ke-4 pasal di atas sampailah kita pada pasal yang ke-5, yaitu pasal yang terpenting  dan yang diharuskan dibaca, direnungkan, dimiliki, diterapkan serta dilaksanakan dalam kehidupan rohani generasi-generasi berikutnya, baik cara-cara melaksanakan dan mengembangkan keakinan Jemaat Kerasulan Pusaka maupun semangat perjuangan dalam membela dan mempertahan kannya.    Di atas telah saya terangkan bahwa tahun 1951 itu adalah tahun revolusi rohani dengan ciri-ciri khasnya, untuk melepaskan diri dari penjajahan kebebasan beragama yang sejalan dengan Suara Nubuatan yang telah disampaikan

Sebagaimana telah dinubuatkan bahwa Tuhan akan merombak mulai dari pusatnya. Hal ini terbukti dengan adanya peraturan;

Suara Nubuatan (nabi) tidak diperbolehkan samasekali.

Sebelum makan tidak dibenarkan berdoa, sebab sudah cukup oleh doa Rasul saja.

Dalam melawat orang sakit dilarang mengadakan doa.

Dengan adanya ketiga larangan tersebut maka ketujuh anggota          Majelis di Rawaselang sepakat satu hati dan satu tujuan unuk merumuskan jalan keluarnya, karena dipandang jelas ketiga larangan di atas bertentangan dengan keyakinan sejati dalam kehidupan beribadat kepada Tuhan. Satu-satunya jalan terbaik adalah mengadakan persekutuan doa mohon petunjuk dan penjelasan dari Tuhan langkah-langkah selanjutnya dalam mem  la dan mempertahankan Jemaat Rawaselang dengan keempat tiang agungnya (Ef 4:11) Persekutuan doa dilak  nakan. Tuhan berfirman melalui seorang Pengemban Nubuatan: “segala sesu atu yang kamu rencanakan, laksanakanlah dengan hati-hati, AKU akan berjalan di depanmu!” Sebelum mengirim surat ke negri Belanda, timbullah suatu peristiwa yang tidak masuk akal, yaitu orang-orang yang semula tidak sependapat kini mengajak bersatu dan berkumpul di gereja, yang selanjutnya mentah biskan Dk.Rainan menjadi Rasul.Yang lain tidak memberikan reaksi apa-apa. Setelah mendapat petunjuk Tuhan tadi, maka dikirimlah surat permohonan kepada Rasul Faassen untuk ber diri sendiri. Namun Rasul Faassen menandaskan: “Apakah ka mu tidak cukup puas dengan perwakilan yang ada untuk mem bina di seluruh pulau Jawa?” Rawaselang tidak putus asa, bah kan dengan tegas menyatakan pengunduran diri untuk berdiri sendiri. Setelah berdiri sendiri, dalam membina jemaat, langkah pertama yang diambil adalah mengadakan Bybel Study ( Pe medaran sekarang ) tiap Senin dan jum’at malam secara bergiliran di tiap kampung Rawaselang, jatinunggal, Seu seupan dan Pasir Nangka dengan Suara Nubuatan. Tuju annya ialah membahas isi Alkitab untuk meningkatkan kehi dupan rohani Jemaat. Setiap anggota diberi kebebasan berbi cara/membahas nats-nats yang telah dibacakan oleh pimpinan.

Pengemban Nubuat (nabi) yang mentahbiskan Dk. Rainan, meng  ajak mengadakan Bybel Study, menentukan nats-nats yang harus dibahas dan menunjukan anggota Jemaat yang harus memba hasnya. Lama kelamaan setelah diperhatikan jalannya, tampaknya penyimpangan-penyimpangan, di antaranya: pembicara baru saja memulai si nabi tadi sudah mengatakan: “Amin, amin, amin, benar- benar-benar!” Kejadian demikian benar-benar diluar dugaan dan bukan yang di harapkan; akibatnya yang bodoh tetap bodoh hanya ikut-ikutan saja, bagai berpijak tanpa pegangan. Maka saya mengharap dan memohon kepada Tuhan agar apa yang sekiranya dapat dikerjakan manusia dan diatur oleh otak, diserahkan saja kepada manusia. Tapi jika sekiranya tidak berkenan, jadilah kehendak Tuhan. Dengan adanya permohonan saya tadi, si nabi seolah-olah merasa di ganggu dan dijegal segala rencananya, ia merasa di halang-halangi, maka ia pun mengundurkan diri tanpa pamit, pergi tanpa permisi, tidak pernah ikut campur lagi dalam segala kegiatan gerejawi. Sebagaimana telah diperbuat oleh si nabi tadi, maka rasul Rainan pun berbuat serupa. Mereka semua mengundurkan diri dari jemaat Rawaselang sambil menuduh bahwa Mardi adalah pembantai, bertindak lancang, membendung arus pergolakan dan menutup aliran kemajuan        Kerohanian. Begitulah cemoohan dan tuduhan yang mereka lontarkan kepada Mardi khususnya kepada jemaat Rawaselang umumnya. Meskipun bermacam-macam tantangan dan rintangan yang menghadang, anggota Majelis khususnya anggota Jemaat Rawaselang umumnya sama sekali tidak terpengaruh, tetap teguh tidak tergoyahkan, bahkan lebih memperkokoh  persatuan dan kesatuan, memelihara kerukunan dan keutuhan  beragama, membela, menegakkan dan mengembangkan keyakinan Rawaselang karena jalan yang sedang ditempuh sudah diyakini tidak menyimpang dari rel yang telah ditentukan baik oleh para leluhur maupun dari Injil sebagaimana tertulis dalam Ef. 4 : 11 tadi. Dengan mundurnya Rasul Rainan, maka pimpinan Jemaat kosong. Kemudian diadakan doa persekutuan dibarengi dengan puasa masal mohon petunjuk Tuhan untuk memilih salah seorang dari anggota Majelis yang ada untuk menjadi pimpinan dengan pangkat rasul.

Pada tanggal 7 Januari 1953 seluruh anggota Jemaat berkumpul kembali di Gereja. Tuhan berfirman melalui ke-4 nabi bersama-sama menunjuk Pr. Mardi.

Tanggal 1 Februari 1953, Pr. Mardi ditahbiskan menjadi Rasul untuk memimpin Jemaat Rawaselang. Seluruh anggota puas dan lega serta bersyukur kepada Tuhan dengan diberikannya pimpinan baru dengan pangkat Rasul, sesuai dengan nubuat dalam pasal I di atas.

Demikianlah penjelasan nubuatan Inj. Yohanes 5 : 51. Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati dalam kehidupan beragama.

Penjelasan ini jadilah penggugah kerohanian segenap anggota Jemaat.

Bagi yang tua jadikanlah harta bersama, bagi para pemuda jadikanlah harta pusaka agar dalam kehidupan beragama di Jemaat Kerasulan Pusaka dengan ke-4 tiang agungnya tidak menyimpang dari rel  yang telah ditentukan, yang telah dimiliki dan diamalkan oleh para leluhur kita. Bagi anggota baru, jadikanlah dasar hidup di Jemaat Kerasulan Pusaka disertai kebulatan tekad berjuang sebagai prajurit-prajurit rohani

Kibarkanlah panji-panji Kerasulan Pusaka dengan tangguh dan penuh kesungguhan.  Sesama saudara hendaklah kasih mengasihi. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing; ke bukit sama mendaki, ke lembah sama menurun dan ke air sama diterjuni, karena Tuhan Mahamengetahui akan segala kesulitan manusia. Karena itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu ( Ef. 6 : 13 ) dari saat ini sampai selama-lamanya.

Amin Ya Robulallamin.

SUMTIKAN

SUMBER   ATIKAN

Di susun oleh

Rasul MARDI MARCHASAN

GEREJA  KERASULAN PUSAKA

R A W A S E L A N G

DADASAR KRISTEN KERASULAN PUSAKA

Anu jadi dasar ka-kristen-an di Jamaah kerasulan Pusaka nyaeta :

Kapercayaan.

Kapercayaan anu dimaksud didieu lain percaya aya, tapi percaya nyata atawa bukti. Tarima kana kanyataan hirup kumaha dikersakeun ku Allah, dibarengan ku ngalampahkeun pangersa sarta hukum-hukum-NA. ( Yoh.     6 : 29,    Mat.8:  5 – 10,       Luk.7 : 1 – 10. Ibr. 11 : 1 – 40,  Yak. 2 : 14 – 26, I Yoh, 5 : 1 –12  )

+     Percaya ka Allah Rama,

+     Percaya  Ka Yesus Kristus,sarta

+ Percaya ka Roh Suci

( I Yoh. 5 : 6 – 12,   Mat.  28 : 19 – 20  ).

Pangbanyu suci.

Pangbanyu suci nyaeta pangbanyu kana pupus-NA, hartina Pangbanyu pertobat. Hiji pamanjer kana kasalametan, hartina ngabogaan hak kana ka- PUTRA-an.

( Mark. 16 : 16,     Yoh, 1 : 32 – 34,     Mat. 28 : 19 – 20 ).

Pangbanyu Roh.( Kamatrian ).

Ku lantaran Pangbayu Roh, urang geus diwidian ngadeuheus,ka Allah kalawan kaludeungan,  hartina bisa rapih jeung Allah.

( Yoh.  1 : 32 – 34,  Kis. 2 : 1 -  5 ).

Kadaharan Susi

Kadaharan Suci hartina ngadahar salira jeung getih Gusti Yesus Kristus, layak saahliwaris jeung Kristus.

(  Mat. 26 : 26 – 28, Mark. 14 : 22 – 25,   I Kor. 11 : 23 – 29 )

Neneda

Kudu ngarasa jeung rumasa sarta pertobat, hartina neda kurnia ti Allah ( Luk. 22 : 40, Yoh. 15 : 7 – 8 ).

1.     KAPERCAYAAN.

Lamun di gambarkeun mah lir hiji tangkal, ngaran eta tangkal nyaeta TANGKAL KAHAYANG. Bagian-bagian eta tangkal teh nyaeta  :

1.1. Akar Pancerna hiji  nyaeta      :      Kristus

1.2.  Akar  lobana aya    :      7  akar

Keur pamageuh pancer sarta ngusahakeun keur kahirupan

1.3.  Batangna :      Kapercayaan

1.4.  Dahan pokok (anu galede) :  Lobana aya 4 nyaeta :

1. Rasul

2. Nabi.

3. Guru.

4. Pangangon.

1.5.  Ranting jeung Daun      :      Nu jadi Ranting jeung Daun teh nyaeta Anggota Jamaat.

1.6.  Kembang :      Anu jadi kembangna teh nyaeta “Aturan-aturan Jamaat” pikeun ngawujudkeun katunggalan

1.7.  Buah      : Lobana aya  7 nyaeta: Kanyata-an hirup anggota jamaat.

Penjelasan.

Akar anu kagigir keur pamageuh pancer jeung keur ngusahakeun pikeun kahirupan nyaeta “ AKAR KAPERCAYAAN “ lobana aya 7 akar nyatana :

Ngarasa Malarat

Neneda

Panasaran

Neangan kalawan daek

Nobrek/ Ngotektak

Antek

7.   Pangarep-ngarep

1.   NGARASA MALARAT.

Jalma miskin euweuh kaboga tapi ngabogaan rasa tanggung jawab, moal cicingeun, tangtu usaha bari macakal, saperti paribasa “Mun hayang ngakeul kudu ngakal “,kudu ngarah supaya ngarih. Kumaha bae carana anu luyu jeung pangersa Allah. Sanajan susah payah moal weleh dilakonan nepi ka hasil anu dimaksud pikeun nyumponan kaperluan hirup ( Mat. 5 : 1–12,  Luk.14 : 25 – 27,  Luk.18 : 18 – 27 ).

2..  NENEDA.

Upama dina usaha tadi, di mana-mana teu katimu kujalan pikiran sorangan, sok tumanya kanu sejen; Malah menta saran-saran ti nu lian. Atawa menta pigaweeun, boh ku lamaran boh ku lisan, kasaha bae nu ku dirina dianggap bisa ngajeujeuhkeun. ( Luk. 21 : 34-36,        22 : 40,  Mat. 7 : 7- 11,  1 Yoh. 5 : 13- 16 ).

PANASARAN

Ari nu panasaran mah tara gancang pegat harepan, oge tara bosenan sanajan sering manggih jalan buntu/ gagal. Malah nu gede panasaran mah teu weleh narekahan/ ngihtiaran sangkan laksana cita-citana.

( Luk. 15 : 8-10, 1 Tes. 5 : 20 ).

NEANGAN KALAWAN DAEK.

Neangan kalawan daek teh meh sajalan jeung panasaran. Pokokna panasaran keneh. Di luhur disebutkeun yen ulah bosenan, sabab ari bosenan mah watekna kedul/ mumul. Sok hoream dina nyorang bangga; Tapi ari nu daekan mah sok sanajan susah atawa bangga ge teu weleh dikeureuyeuh bari gede harepan nepi ka kapanggihna nu diteangan tea.( Luk. 15 : 8-10, Rum. 14 : 19,  Kol. 3 : 1-2 ).

NGOBREK / NGOTEKTAK.

Ieu oge pokokna mah tina panasaran, satungtung can kapanggih nu diteangan teu weleh diguliksek. Nu nangkub di tangkarakeun, nu nangkarak di tangkubkeun, nu numpuk dikeduk ka  kolong ditoong, kapara disaksrak, nu poek diobrek nu buni di sungsi.

( Luk: 15 : 1- 7,  8-10,  11-32 ).

ANTEK.

Ari antek teh sarua jeung jujur. Tara mundur najan nepi ka ajur. Najan kudu ngorbankeun lantaran hayang makmur. Nu antek mah resep ngisat diri merih pati nekad luas bibilasan.

PANGAREP –NGAREP.

Sagala nu dipilampah / dipigawe di barengan ku pangarep-ngarep kalawan kasabaran teu gurung gusuh teu gereges gedebug , estu ayem tengtrem ,najan ngadango lila . Contohna: seperti tukang tani .najan sakitu susah payahna tur gede modal , ti mimiti ngagarap nepi kahasilna teh sakitu lilana, teu weleh di tunggu jeung diarep-arep bae. ( Rum.8:25,  15:13, 1 Tes. 5:8, 2  Ptr .3:11-13, 1 Yoh. 3:2-3

1.3.   BATANG / TANGKAI

Anu dimaksud tangkal di dieu nyaeta tangkal anu ngabogan akar

Pancer, hartina kerpercayaan ka Kristus anu geus nalangan pasti saalam dunya ,kaasup anggota Jemaat Kerasulan Pusaka ,cukup sakali pikeun salalamina. Mantena oge jadi pademen wawangunan Allah       (  Yoh. 15:1-8,  Kor. 3:10-23  )

1.4    DAHAN ,DAUN ,KEMBANG JEUNG BUAH

Secara umum : Pakumpulan Kristen ( sakumna manusa anu percaya ka Kristus) Secara khusus , pikeun di Jemaat Kerasulan Pusaka mah , nyaeta :Anggota Jemaat

DAHAN

Nu dimaksud dahan di dieu nyaeta dahan anu langsung tina tangkal ,anu lobana aya 4, nyaeta :Rasul Nabi Guru jeung Pangangon (Ef. 4:11,1 Kor.12:28) Pikeun di urang , 4 kapang katan eta dijieunna lain dumasar kana kahayangan manusa atawa pencalonan ,tapi estu ku Allah kumanten , sabab Allah anu ngawaspaoskeun ka unggal unggal pribadi manusa  Maksudna , lain tiap-tiap manusa anu ku Allah dipercayakeun kana eta kapangkatan teh geus kamanah ku Allah, tapi geus dikersakeun pikeun jadi wadah sarta kudu jadi conto ka sugri anu ninggal . Mangpaatna eta 4 kapangkaampurnakeun jalma saruci, pikeun pagawean cangkingan sarta ngadegkeun salira Kristus(Ef.4:12 – 25). Kulantaran kitu 4 kapangkatan  ieu , pikeun di urang mah perlu pisan kudu aya Rasul.

Rasul teh dikawasakeun pikeun mimpin jeung ngatur kahirupan Jemaat , nangtungkeun jeung mutuskeun  sagala perkara boh lahir boh batin , mere tugas ka bawahan pikeun barang gawe di Kebon Anggur Gusti; sarta mempertanggungjawabkeun jasmani jeung rohani Jamaat, boh ka pamarentah, nya kitu keneh ka Allah, boh mundurna, atawa majuna.

Rasul teh di tugaskeun , di saur sarta di pilih ku Gusti kumanten ku jalan samiuk satunggal di barengan puasa jeung naneda , mituduh di jero nabi –NA (Mat .10 :1-8,  Mark. 3 :13-15, Luk. 12 :16 )

NABI

Nabi teh hiji parabot pikeun nganyahokeun maju mundurna Jamaah sarta nuduhkeun kaayan hidup rohani anggota Jamaat dina enggoning ngalakonan pengersa Allah . jadi , nabi teh nyaeta hiji pangaping di jemaat. Nabi teh purah ngemban dawuhan Gusti , boh secara ningali atawa nguping  dawuhan , kitu deui dilinggihan , ngawejang jeung mituduh naon naon kayaan Jamaat , boh nu goreng , tina kamunduran sarta pikeun kamajuan Jamaat .

GURU jeung PANGANGON

Pikeun di urang nu kaasup Guru jeung Pangangon teh nyaeta : Oudste, Herder, evangelist jeung Priester .Tapi mungguh dina tugasna mah teu aya bedana dina prakna mah

Tugasna , nyaeta purah nalingakeun nalungtik jeung miwuruk sarta mituduh ka sakumna anggota Jamaat, boh nurutkeun pituduh Gusti lantaran nabi boh nurutkeun kasadaran pribadi tina lantaran mikanyaah .

Diakon jeung Diakones mah kaasup kana juru laden nyaeta purah nyadiaken kaperluan kaperluan pagawean guru jeung pangangon . jadi magrupa pangbantu Guru jeung pangangon , saperti Opzeiner jadi wakil Rasul

DAUN

Daun  teh hartina aturan, pikeun ibadah, anu meunang ngamusyawarah keun petugas petugas sarta ditepikeun ka para anggota . Diantarana :

.1. Kabaktian Seminggu dua kali (Minggu jeung Rebo )

2. Wajib ngurban (dina kabaktian minggu )

3. Pasamoan Pamaderan

4. Kebaktian bidston

5. Ayana kurban pare, Dana Kematian , Simpan pinjam pare, Dana pengurus gereja

6. Tatatertib Gereja

KEMBANG

Tangkal tadi kudu kembangan tanda baris buahan .Hartina atawa kanyataanana Kembang teh Katunggalan .

Jadi sagala anu geus diaturkeun tadi kudu dilakonan ku sakumna anggota Jamaat , saperti :

- Ngarepkeun pangandika

- Resep  muji ngagungkeun jenengan Gusti

- Resep bebersih / susuci dina dumeuheus K Gusti

- Resep nitik-nitik Kitab Suci malar panon beunta awas waspada (daek                         ngadenge /ngawaro kana papatah ) supaya ngarti,  berbudi, wijaksana /binangkit; di barengan sasambat neda pitulung ka Gusti .

1.7 BUAH KEPERCAYAAN

Sanggeusna tangkal tadi kembangan kudu buahan Ari buah   kapercayaan teh nyaeta :

1.7.1. Tumurut       :      Mat. 19 :16-26, Mark. 10: 17-27,LUK .18:18-27 ,14:16-17. Rum .12 :21, 1 Kor. 4: 6-21,, ,14:16-17  Ef. 4:17-332,  5:1-21,  Kol ,3:18-46,  Yak .1:25

1.7.2. Suhud            :Mat.10 :22,  Rum . 12:11,  Ibr. 12 :1-6  2 Ptr,.3:14 ,1 Yak . 1:2-4.

1.7.3  Sumujud      :     Luk . 4:8, Rum . 14 :11-12, Kol1:23, 2 Ptr .3 14, 1Yoh 2:18-19.

1.7.4.  Kanyaahan   :     Luk .6:27-36 , 10 :27-28, Rum 12 :9-10, n1:23 ,   1 Kor . 13 :1-13 , 1-13 , Yak .2:8, 1 Yoh .4:7-12

1.7.4.  Kerendahan : Mat 11:29, Rum . 12 :16 , Ef .4:2 , 5:20-21,         1 Kor .4:6-21,  1 Ptr . 5:5-6 Yak .1:9-11,  4:6-10

1.7.6.  Kerapihan    : Mat 5:9, Rum 12:18 , Ef .4:3-7

1.7.7.  Kabungahan :Luk. 11:28 , Rum 12:12, 15:19 , 1 Tes . 5:16-18 ,    Kol .3;16-17.

1.  TUMURUT

Ari tumurut teh lain cara nu lolong kumaha cek nu nungtun, di bawa karep nu nungtun, najan di bawa kana picilakaeun atawah dipacikeuh, dititah ngenca ngatuhu, maju mundur. Tapi di dieu mah kudu kalawan pangarti .Sanggeus urang di papatah di parentah, kudu diregepkeun sarta di tetepkeun, aya paribahasa: kudu bodo alewoh, mun can kaharti teu weleh tumanya , sabab mun ngalampahkeun bari can ngarti sok teu bener, ulah heueuh heueuh bueuk tuturut munding :cara lauk buruk milu mijah piritan milu endogan .Akhirna loba pagawean mubah cape gawe teu kapake .

2 . SUHUD

Suhud teh ranggeuyan tina tumurut keneh, saperti migawe hiji pagawean  atawa nu di hanca atawa nu di sanghareupan teh bangga atawa tarahal, tara hoream, henteu lanca linci tara huleng jentul, tara di tunda-tunda, tara ditinggal-tinggalkeun; estu diketrik dikeureuyeuh. Cek babasan tea mah: Ti isuk nepi ka magrib cucud dilakonan (Mat. 10:22 – Saha-saha nu kukuh nepi ka panungtungan tangtu disalametkeun).

Ngarasa yen boga kawajiban malar boga ganjaran. Taya carekeun taya cawadeun, estu pikaresepeun. Eta kitu nu suhud teh, estu ku sarerea pada di andel.

3 . SUMUJUD

Cek harti sejen mah berkorban, anu hartina pasrah sumerah. Sanajan hirup jiga nu paeh, lain pisan euweuh guam atawa euweuh kahayang, tapi cecegah bari teu nguluwut teu sarusut teu kukulutus, tara camberut robah patut, estu iklas luas bibilasan; toh pati jiwa raga. Kajeun di dunya sangsara asal meunang hirup Sawarga.

4 . KANYAAHAN.

Kanyaahan teh geus jadi kacapangan umum. Sakumaha rasul Paulus mitutur dina 1 kor. 13:1-13. Kanyaahan teh tara luntur najan nepi ka ajur, saperti anu kaserat dina Rm. 8:35.

5 . KARENDAHAN

Sakumaha parentah Gusti dina Mat. 11:29.

Jadi naon-naon anu geus kaserat di luhur tadi moal bisa kalampahkeun tanpa aya dina karendahan  (Mat.11:29, 18:1-6, Mark. 9:33-37, Luk. 9:46-48, Yak 4:6)

Datang angkuh datang wiwirang. Sabalikna nu rarendah mah direujeungan kapinteran. Jadi karendahan teh datangna tina kapinteran rohani. Kitu nu matak karendahan teh ngdatangkeun kabagjaan, sabab sanajan kasoramg kapaitan hirup dina jasmani, ari boga karendahan mah tangtu bisa tarima wayahna, bisa nyegah karep goreng; sakumaha dawuhan Gusti: Salamet anu rarendah hate sabab eta nu bakal kawaris bumi.

6. KARAPIHAN

Gusti yesus Kristus pisan anu geus ngarapihkeun manusa jeung Allah. Sanggeus ngarasa bisa rapih jeung Allah tangtu bisa rapih jeung papada manusa. Sanajan manggih hal – hal anu teu beres oge tangtu bisa diungkulan lantaran sipat kailahian geus jadi badani. Sarta ari buah bebeneran teh diebrehkeun ku karapihan jeung sakur nu nyieun karapihan ( Yak 3 : 18 )

7. KABUNGAHAN

Kabungahan teh hartina kasukaan sarta resep. Rasul Paulus netelakeun: masing bungah saendeng – endeng ( 1 Tes 5 : 16 ). Ieu kabungahan teh aya 2 ( Dua ) kanyataan :

Bungah anu dibarengan ku suka seuri

Bungah anu dibarengan ku cai mata.

Duanana kaluar tina rasa. Naha rasa atoh meunang rejeki atawa milik, naha bungah rehna tina kacilakaan geus disalametkeun.

Aya bungah tina pagawean goreng, aya deui bungah tina pagawean hade. Ieu duanana sanggeus kabuktian.

Demi anu dimaksud bungah di dieu lain tina goreng lampah, tapi tina rasa karohanian ; ngarasa kaasihan atawa kurnia  Allah, nyaeta tina kanyaahan tea. Kabungahan anu kaluar tina kanyaahan mah bakal langgeng atawa saendeng – endeng.

Supaya eta tangkal teh hirupna mulus sarta ngahasilkeun, aya sarat – sarat anu kudu dicumponan, nyaeta :

Kudu baranghakan, naha tina taneuh atawa berak.

Kudu diceboran atawa disiram.

Kudu diberesihan atawa disemprot.

4.   Kudu dipager bisi diruksak sato / hewan

KAHAKANAN

Nu jadi kahakanan eta tangkal teh taya lian nyaeta Pangandika Allah lantaran dua Kitab Perjanjian tea, anu kudu dilampahkeun dina hirup sapopoe jalan nyegahan sagala perkara anu teu sapuk jeung pengersa – Na.

PANYEBOR

Supaya eta tangkal teu kakurangan cai dina waktu teu aya hujan, kudu dicebor. Ari panyeborna, nyaeta:

PANGBANYU SUCI.

Sakumaha anu geus kasebut di luhur yen sanggeusna jalma teh percaya kudu dibanyuan, eta bakal disalametkeun (Mat. 16:16)

Yohanes Pangbanyu ngalahir: Geura tarobat, sabab Karajaan Allah geus deukeut.

Ti dinya urang Yerusalem, jeung jalma ti sakuliah Yudea, pada budal murubul ka Yohanes sarta ku Yohanes dibanyuan di Ciyordan, bari pada ngwarakcakeun dosa – dosana (Mat. 3:1-12, Mark. 1:1-8, Luk. 3:1-20, Yoh. 1:6-8, 19:3-6).

Jadi harti dibanyuan teh dipandian atawa dikumbah/diberesihan saperti parabotan atawa wawadahan jeung naon bae anu kalotor bisa beresih mun dikumbah.

Jadi sakur-sakur anu geus beresih tea, eta bisa diasupkeun kana tempat anu baku atawa disimpen.

Kitu deui kaayaan di manusa. Samangsa geus dibanyuan eta teh geus kagolong kanu geus salamet. Matak ari pangbanyu teh disebut pangbanyu pertobat, hartina geus dicirian atawa dipanjer. Jadi pangbanyu pamanjer kana kasalametan.

Ti mangsa harita kasalametan teh geus dipasihkeun jalan diungkulan Tilu Pajenengan, make sarat cai bae bari dijelaskeun kieu: “ Kaula/Kami ngabanyuan ku pajenengan Allah Rama, Putra sareng Roh Suci. Tilu Pajenengan geus dipaparinkeun ka maneh pikeun jadi kasalametan ka maneh sarta jadi kagungan Allah. “

Naha ari jelema anu geus dibanyuan milampah deui dosa atawa tetep beresih suci?

Hal ieu pisan nu kudu dipikaharti nu sabenerna, atawa kudu jadi eusi rohani urang.

Saenyana, ku lantaran jelema teh masih hirup tangtu  loba kahayang. Nya kahayang eta nu sok mawa kana dosa, nurut panggoda. Malah lantaran aya didunya pancaroba loba panggoda jeung meh tara tigin dina kabersihan, lir urang leumpang dina keur usum hujan.

Najan urang di sapatu lars oge, tapi teu burung aya kokotor anu muncrat dimana ku urang katincak.Tapi pikeun anu teu resep nenjo papakean kalotor mah, gancang diseuseuhan. Kitu pisan misilna diibaratkeun kana kaayaan karohanian.Tapi lantaran geus boga dadasar percaya tea, henteu, rek betah ngantep diri dina kakotoran, gancang balik deui kana tobat atawa nyeuseuh diri, supaya aya dina kabersihan deui, aya dina kasalametan.

Kitu mangpaatna eta pangbanyu teh, sakumaha dawuhan Gusti: Sapuluh kali labuh sapuluh kali hudang (Mat. 18:21-22, Luk. 17:4)

Lamun urang geus bisa hudang sarua jeung urang geus paeh, sakumaha Rasul Paulus netelakeun: Naha maraneh teu nyaho yen sakur urang dibanyuan ka Kristus eta dibanyuan kana pupus – Na?

Jadi urang teh geus dikubur di jero maot reujeung jeung Mantenna lantaran pangbanyu, supaya saperti Kristus geus digugahkeun ti nu maraot ku kamulyaan Rama, eta urang kitu bakal lumaku dina nyaring hirup (Rom. 6:3, Kis. 19:1-8)

Ari nu disebut hirup anyar teh hartina incah tina paeh, pertobat tina dosa, bakal dihampura ku Gusti (Kol. 12:12).

Rehna maraneh geus pada dikubur jeung Anjeunna dina pangbanyu, kitu deui maraneh di jero Anjeunna geus pada dihudangkeun reujeung ku lantaran percaya kana padamelan Allah nu ngagugahkeun Anjeunna ti nu maraot tea.

. 1. PANGBANYU ROH / KAMATRIAN.

Sakumaha Gusti geus netelakeun yen sakur nu percaya kudu dibanyuan ku Tilu Pajenengan, eta tangtu bakal disalametkeun. Jadi geus dipasihan pamanjer kana kasalametan.

Tapi teu sampurna ku sakitu sabab aya jangji Gusti Ka murid- murid- Na kapungkur, waktu Gusti bade munggah/dicandak ka Sawarga, anu kieu: “ Mangsa keur karumpul jeung para Rasul, lajeng didawuhan yen ulah aringkah ti Yerusalem, tapi kudu ngadagoan perjangjian Rama anu kadenge ku Kami: Karana Yohanes mah ngabanyuan ku cai bae, tatapi maraneh bakal dibanyuan ku Roh Suci, moal lila deui ti ayeuna (Kis. 1:5)

Tatapi maraneh bakal nampa kawasa Roh Suci nu bakal jadi saksi Kami di Yerusalem sarta di sakuliah Yudea jeung Samaria nepi ka tungtung bumi (Kis. 1:8)

Hal ieu pisan nu jadi kayakinan urang. Cara murid-murid waktu harita : kapan geus dibanyuan malah sasarengan jeung Gusti dina ngawawarkeun beja kabungahan hal Karajaan Allah, tapi dijangjian bakal dilungsuran Roh Suci.

Malah waktu dipiwarang nguarkeun lajeng dipasihan kamatihan, kawasa ka sakabeh setan sarta pikeun nyageurkeun sakabeh panyakit  (Mat.10:1, Mark. 6:7, Luk. 9:1). Hartina murid-murid teh geus dipaparin kawasa Roh Suci, samalah jalana pisan sanggeus Gusiti tanghi. Sanggeus ngdawuh kitu, tuluy ku Mantena pada ditiupan sarta didawuh kieu: Ku maraneh tarampa Roh Suci ! Tiap –tiap nu dihampura dosana ku maraneh tangtu dihampura, kitu deui tiap-tiap nu nu ditetepkeun dosana ku maraneh, tangtu ditetepkeun (Yoh. 20:22-23).

Kitu sababna pikeun urang oge perlu ayana eta pangbanyu Roh,lantaran urang teh manusa hengker, leuleus lesu bodo balilu, ireub talingeuh, pondok tenjo heureut deuleu, taya tangan pangawasa. Upama teu aya kawasa Roh Suci tangtu moal bisa lumaku dina ngestokeun timbalan Allah, pasti bakal nurut kana panggoda. Hirup teh aya di jero dosa, sarta ku dosa teh baris kana hukum, karana ari bayaran dosa teh nyaeta maot ( Rum.7 : 6 ).

Jadi pikeun urang ayeuna kudu syukur ka Allah rehna geus dibenerkeun tina jalan dosa kana hirup anyar, lantaran Gusti Yesus Kristus nu geus digugahkeun tinu maraot sarta masihan perjanjian ka karuhun urang supaya ngawariskeun eta perjanjian tea nu ku urang

geus ka tampa, nya eta hal roh suci.

Rasul paulus nyaurkeun kieu: Karana eta ku Allah geus di ebrehkeun ka urang ku lantaran Roh, karana Roh anu nalungtik saniskara,najan ka jero-jerona Allah ge. Karana saha nu nyaho ka nu jelema kajaba roh jelema nu aya di jerona. Kitu deui kana perkara-perkara Allah ge, teu aya nu nyaho ka nu Allah kajaba Roh Allah bae.

Demi nu katampa ku urang teh lain Roh dunya, estuning Roh ti Allah, supaya urang pada nyaho kasakur nu geus dipasihan ku Allah ka urang. “   Nyaeta nu dicaturkeun ku kaula lain make omongan pamatahan kawijaksanaan jelema, make teh omongan piwuruk Roh; barang rohani ku kaula direntetkeun jeung barang rohani. Tatapi ari jelema kadunyaan mah teu nampa perkara Roh nu ti Allah, karana di- angkeuhkeun bodo jeng teu bisaeun ngaharti; sabab eta perkara teh ditimbangna kudu make Roh. Sablikna ari jelema rohani mah bisa nimbang saniskara, tatapi dirina sorangan teu bisa ditimbang ku jelema hiji-hiji acan. Karana saha nu nyaho kamanah Pangeran, anu matak bisa mapagahan ka Mantena ? tatapi ari urang mah ngabogaan manah Kristus, ( I Kor. 2 : 10 – 16 ).

Sakumaha anu geus diterangkeun tadi ku Rasul Paulus yen saha jelema anu geus nyaho kanu jelema deui kajaba roh jelema nu aya di jerona. Geus komo pisan ka nu Allah moal aya nu nyaho naon-naon.

Nu matak perlu pisan urang teh dipasihan Roh Suci pikeun nganyahokeun perkara-perkara anu Allah,nepi ka rasiah-rasiah-NA ku urang dipikaharti supaya urang bisa ngalampahkeun pangersa-NA, tarima kana pasihanna-Na, ngeusian pilihana-NA, henteu cangcaya atawa ragu-ragu reh na Allah teh miasih nganggo rupa-rupa lantaran/ jalan sangkan manusa teh boga kakuatan ku lantaran Roh Suci tea.

Karana ari kakuatan Roh teh bisa ngungkulan sagala kasulitan/ karuwetan, jalanna bakal jadi penerang/caang anu gumebyar nyaangan pilakuan urang. Waktu datang poekeun,  asal dipuhit / dipentes / dipake / digunakeun. Kitu sababna Gusti ngadawuhkeun yen Allah Rama parantos nyayagikeun Roh Suci baris jadi panglipur jeung panuyun nepi ka urang dikersakeun baris ngiring ngarajaan  1000 taun.

Salamet jeung suci jelema nu milu hudang nu mimiti. Ari kana eta mah maot teh teu kawasa. Nya pada jadi penghulu pikeun ka Allah jeung ka Kristus,sarta bakal ngiring ngarajaan jeung Kristus lilana 1000 taun ( Wah. 20 : 6 ); Jadi ari pangbanyu roh/ Kamatrian teh nyaeta pamajer kana kamulyaan.

Rasul Petrus nyaurkeun : Tatapi ari maraneh teh bangsa kapilih, kapanghuluan karajaan, bangsa suci umat kagungana-Na, supaya maraneh pada ngawawarkeun kasaeana-Na nu geus nyaur diri maraneh tinu poek kana caang-Na nu leuwih aheng ( 1 Pet. 2 : 9 ).

Pikeun sakur nu geus nampa eta Roh Suci geus boga hak atawa dikersakeun meunang eta kamulyaan, jadi para pejabat.  Ulah waka ngaruksak bumi, laut, sarta tatangkalan, nepi ka urang geus ngecap sakabeh abdi Allah urang kana tarangna ( Why. 7 : 3 )  Geus di cap teh hartina geus teu bisa aya nu ngaganggu gugat deui. Eta teh geus tetep kagungan Allah.

3. KADAHARAN SUCI.

Saperti jaman Israil samemeh kaluar ti Mesir, Pangran ngandika Musa kieu : Bulan ieu ka maraneh sing jadi lulugu bulan, nya ieu ka maneh sing jadi lulugu taun. Maraneh kudu marentah ka sapajemuhan Israil. Tanggal 10 bulan ieu, maraneh hiji-hiji kudu nyarokot nanak domba sasiki nurutkeun saeusi imah bapa-bapa, hiji imah hiji anak domda; Tatapi upama saeutik eusi imahna teu manjing anak domba sasiki, nyaeta nyokotna kudu reujeung tatanggana anu deukeut ka imahna, make ngitung jiwa; hiji-hiji jelema sakadar hakanna, kudu ku maraneh diitung ka anak dombana;  anak doma nu taya cacadna, lalaki umur sataun, kudu diraksa nepi ka tanggal 14, boh domba atawa embe. Kudu di peuncit antara sore jeung burit. Getihna sawareh ulaskeun kana dua tihang panto jeung kana tarang panto enggon maraneh cicing.

Ari laukna, ku maraneh kudu diganggang teu meunang dihakan atah, teu meunang di kulub ku cai; didaharna peuting harita reujeung roti teu ragian, ngahakanna kudu saperti nu rek indit, kalawan rusuh. Cangkeng maneh kudu disabuk, suku di tarumpahan sarta iteuk maraneh kudu dicekel ku leungun. Nya eta teh Paska Pangeran.

Ari peuting harita Lami rek udar-ider disatanah Mesir, maehkeun sakabeh anak cikal di satanah mesir ti manusa nepi ka sato cocooan,

Sarta Kami rek nerapkeun hukuman ka sakabeh aalahan Mesir. Ieu Kami Pangeran. Geus kitu getih teh jadi tanda kasakur imah-imah enggon maneh aya, Ana kami nenjo getih tea, seug Kami bakal ngaliwat ka maraneh. Jadi di maraneh moal aya balahi matak ngaruksakeun di mana kami ngagebug ka tanah Mesir(2 Musa. 12 : 1 – 13,/  Kel. 12 : 1 – 13).

Eta hartina paska teh balahi ngaliwat, jadi lambang ka Gusti Yesus. Saperti Gusti kumanten nohonan eta paska waktu samemeh ditangkep ( Luk. 22 : 15 – 20 ). Geus kitu ngadawuh ka maranehanana teh “ Kami moal dahar-dahar deui paska nepi ka dibuktikeunana dina karajaan Allah. Ti dinya nyandak lumur. Ari parantos muji sukur, lajeng ngadawuh “ ieu tampanan. Bagikeun jeung batur-batur, karana cek Kami ka maraneh: Ti waktu ayeuna kami moal nginum nginum deui cai buah anggur nepi ka waktu Karajaan Allah geus dongkap.  Ti dinya Yesus nyandak roti .Ari geus muji sukur , diduum-duum lajeng di bagikeun ka murid murid bari ngadawuh :”Ieu teh badan Kami nu dibikeun  pikeun maraneh. Eta geura lampahkeun baris ngingetkeun ka Kami . Kitu  deui eta lumur sanggeus dalahar, ari dawuhana-Na :

Ieu lumur teh nyaeta perjangjian dina getih Kami, nu di kucurkeun pikeun maraneh “

Jadi geus tetela pisan Gusti teh domba paska nu taya cacadna pikeun jadi tanda /ciri lawang  urang engon cicing ( imah ) bakal ngaliwatkeunana balahi paeh anak cikal.

Cara domba paska anu di peuncit antara sore jeung berit, kitu pisan kajadianana Gusti pupus kira kira jam 3 sore.

Gusti parantos ngawaduh: “Satemen temena cek Kami ka maraneh; Saha saha nu prcaya, nya eta nu boga hirup langgeng.

Kami teh roti kahirupan . Ari karuhun maraneh geus pada dahar manna di sagara keusik, tuluy maraot bae.

Nya ieu roti nu turun ti Sawarga teh, supaya jelema nu ngadahar eta ulah paeh.Kami teh roti anu hirup, geus turun ti Sawarga tea . Tiap tiap jelema nu ngadahar ieu roti tangtu hirup salalanggengna. Ari roti nu bakal nu pasihkeun ku Kami tea, nyaeta daging Kami, pikeun hirup alam dunya ( Yoh. 6:47-51 )

Ari dawuhan Yesus ka maranehna:Satemen temena cek Kami ka maraneh : Lamun maraneh teu ngadahar daging Putra Manusa sarta nginum getih-Na, hamo boga hirup dijero maraneh

Saha-saha nu ngadahar daging Kami sarta nginum getih Kami nya eta nu boga hirup nu langgeng sarta ku Kami bakal dihudangkeun  dina poe panganggeusan. Sabab daging Kami teh kadaharan nu enya, getih Kami teh inuman nu enya. Saha-saha ngadahar daging Kami sarta nginum getih Kami, tangtu pitetepeun dijero Kami. Nya kitu deui Kami dijero maraneh.

Saperti Kami diutus ku Rama nu hirup, sarta Kami hirup lantaran Rama, nya kitu keneh saha-saha nu ngadahar kami tangtu hirup kulantaran Kami. Nya ieu roti nu turun ti sawarga tea. Lain cara karuhun maraneh ngadahar manna geuning maraot bae.

Saha-saha nu ngadahar roti ieu bakal hirup salalanggengna ( Yoh. 6:53-58 ).

Ku sabab kitu, pikeun urang kudu ngadahar eta roti sarta nginum eta anggur. Eta teh nu diibaratkeun danging jeung getih Gusti.

Cara dawuhan Pangeran ka urang Israil tea yen ngadahar daging domba teh kudu jeung papaitan. Anu kanyataannana domba paska teh di sorangkeun kana kasangsaraan, malah digantungkeun pisan dina kai dipalang.

Rasul Paulus nyaurkeun kieu : karana kaula nampa ti Gusti nu ku kaula diserenkeun ka maraneh tea, nyaeta Gusti Yesus dina peutingan dihianat nyandak roti, ari geus muji sukur tuluy di duum-duum bari kieu dawuhana-Na : “Ieu teh badan Kami pikeun maraneh, eta kudu lalampahkeun baris ngingetkeun ka Kami”.

Nyakitu deui nyandak lumur, sanggeus dalahar, bari kieu dawuhanna-Na :” Ieu lumur teh nyaeta perjanjian anyar dina getih Kami. Eta kudu lalampahkaeun saban-saban nginum baris ngingetkeun ka Kami.

Karana saban-saban maraneh ngadahar eta roti atawa nginum eta lumur, maraneh ngawawarkeun pupus-Na Gusti nepi ka rawuh-Na.

Kusabab kitu saha-saha nu ngadahar roti atawa nginum eta lumur Gusti, kalawan peta anu teu pantes, nu kitu teh salah kasalira sarta getih Gusti.

Unggal jelema kudu nyasar diri sorangan, kakara ngadahar tina eta roti jeung nginum tina eta lumur tea. Karana ari nu ngadahar sarta nginum, lamun teu ngabedakeun salira Gusti, daharna sarta nginumna teh matak meunang hukuman ( 1 Kor. 11:23-29 ).

Jadi jelas pisan, kadaharan suci teh lambang salira jeung getih Gusti anu baris datang kana hirup langgeng, sarta salametna anak cikal urang Israil kujalan getih Domba Paska anu diulaskeun kana dua tihang jeung tarang panto.

Hartina lawang teh paranti kaluar asup. Nyatana dina sarengkak polah teh sing nyaluyukeun diri kana perjanjian anyar, sing layak sarta pantes carana manusa nu geus digaleuh mahal, saperti Gusti Yesus anu geus unggul tina naraka jeung maot, tiasa gugah tinu maraot. Kitu deui urang. Sanggeusna kaduuman salira jeung getih-Na kudu bisa ngungkulan sagala kasulitan, merangan sagala panggoda sarta hawa napsu, bari ngagunakeun roh anu aya di urang. Sarta eta Roh Suci anu geus katampa ku urang bakal nuduhkeun kana kaperluan rohani, nyaeta kana kabutuh, kana kakuatan rohani tea jalan salira jeung getih Gusti tea.

Ari lumur berkah anu diberkahan ku urang tea, ta teh lain katunggalan jeung getih Kristus? Ari roti anu diduum-duum ku urang, eta teh lain katunggalan jeung salira Kristus?  Ku sabab eta roti teh ngan hiji. Anu matak urang anu rea teh sabadan, karana urang sarerea pada meunang duuman tina roti anu hiji tea (1 Kor. 10:16-17).

Kitu pisan perlu sarta mangpaatna eta kadaharan suci teh, supaya urang boga bakat jeung sipat Kristus, nyaeta kaasihana-Na.  Saha nu bisa misahkeun urang tina kaasihan Kristus?

Naha kasukeran atawa karupekan, atawa panganiaya, atawa langlayeuseun, atawa burundul, atawa baya, atawa pedang? Sakumaha anu geus kaserat dina Kitab kieu:Tina sabab Anjeun abdi sapopoe dipaehan, abdi teh diitung sarua domba peunciteun. Tatapi dina eta saniskara urang leuwih tina unggul ku lantaran Anjeuna nu miasih ka urang tea (Rom.8:35-37).

4. PANGBERESIHAN / PANYEMPROT.

Ku sagala Pangersa Allah nu karandapan salila rumingkang di alam dunya pawenangan ieu, urang ngabogaan rasa jeung rumasa sarta ngaku yen urang teh keur meunang kaasihan Allah nepi ka urang nekad ngoreksi diri sarta datang ka Gusti hayang meunang kaleupasan tina dosa, nyaeta panghampura  Gusti dilebet abdi-Na Rasul.

5. P A G E R

Sakumaha urang geus ngaku yen urang teh geus boga kanyaho jeung kapinteran pikeun nalungtik kana jero-jerona rasiah Allah, urang bisa ngamudi hirup urang sakuat tanaga disaluyukeun jeung pangersa-Na jalan urang cecegah tina sagala perkara anu teu luyu jeung pangersa-Na; dibarengan hirup nyaring caringcing sarta iyatna kana sagala pilakueun kahareupna tangtu urang bisa ngungkulan sarta wawuh/nyaho kana akal kalicikan panggoda.

Pager teh nyaeta sagala aturan/katangtuan anu geus dikaluarkeun ku gareja sarta kudu ditohonan ku sakumna anggota Jamaat, pikeun kasalametan hirup lahir batin.

TATA  TERTIB

Di susun oleh

Rasul MARDI MARCHASAN

GEREJA  KERASULAN PUSAKA

R A W A S E L A N G

Dina keur kumpulan para Majelis poe Senen tgl. 25 Pebruari 1980, sabada bidston, aya titingalian ti nabi:

Dks. Renati

Katingali aya tilu buntelan. Nu hiji geus dibuka eusina papakean sarta aya gunting. Kakuping dawuhan: “Geura bagikeun!” Katingali deui aya batre sarta aya dawuhan: “Geura sorotkeun!“

Dks. Yoseti.

Katingali aya leungeun sapotong, ramo-ramona ditikelkeun ka jero, mimiti tina cinggir nepi ka indung leungeun, saperti anu ngitung ku ramo ti hiji nepi ka lima.

Dk. Septias.

Katingali aya lima hambalan patamanan kekembangan. Kembangna rupa-rupa. Dipager.

Ieu titingalian nuduhkeun/mere harti kana tilu bungkusan tea, nyaeta tilu rupa aturan nu kudu diembarkeun sarta dilaksanakeun ku sakumna anggota Jamaat.

Buntelan nu kahiji geus dibuka. Hartina geus kaharti.

Nu dua deui mah can kakoreh. Can kapikir-pikir acan. Aya gunting, hartina nu kudu ngatur sarta mutuskeun dibere kawasa pikeun nangtukeun mukana.

Buntelan naon atuh eta teh? Ku kaasihan Gusti nu murah ka sakur nu nyuhunkeun, pikeun sagala kaperluan, tanwande ku Mantena dipaparin; da aya dawuhan kieu: Nu ngetrok-ngetrok tangtu bakal dipangmukakeun, anu neangan tangtu bakal manggih, kitu deui nu nyuhunkeun tangtu bakal dipaparin. (Mat.7:7-8, Luk. 11:9:13).

Nya kitu pisan hal ieu oge, anu ceuk pamikir manusa mah sulit. Tapi lamun disanggakeun ka Mantena bari percaya yen Roh Suci bae anu bakal nerangkeun.Tipayun sim kuring nyambat: “ Demi asmaning Allah Rama, sih kurnia Gusti Yesus Kristus sinareng kakuatan  Roh Suci mugi nyarengan, nerangkeun sarta nguatkeun. Amin. “

Harti tilu buntelan nyaeta simpenan kagungan karuhun (Aki Petrus) anu sering ku Aki dianggo sasauran, tata tertib di urang Baduy, kieu

Mipit kudu amit ngala kudu menta.

Ngadek kudu sacekna, nilas kudu sapatna

Jangji pasini pasang subaya, temonan.

Ieu babasan teh ku urang Baduy mah estu dikukuhan pisan. Tapi di urang ayeuna, komo nu ngarora mah, pantesna kakara ngadenge. Dalah sim kuring oge nyaksian jaman pun Aki, boro-boro dipilampah inget pok-pokanana ge henteu. Tilem weh mangpuluh-puluh taun

Dihubungkeun kana dawuhan Gusti: Papacuan ulah rek sarumpah (cidra), ulah sumpah demi langit, eta teh panglinggihan Allah, ulah sumpah demi bumi karana eta teh jojodog sampeana-Na. Ari omongan manehkudu enya, enya, henteu, henteu; anu saleuwihna ti kitu datangna nu goreng (Mat. 5:34-37, Yak. 5:12).

Buntelan anu geus muka eusina pakean hartina geus katampa ngan can dipake. Jadi geus lengkep para Majelis mah, tatapi pantesna, can aya kagiatan pikeun lumaku/digarawe, karak ngaku-diaku-disahkeun.

Anu dua deui mah kudu dibedah/dipotongan ku gunting tea supaya bisa dibagikeun.

Diluhur aya babasan “ Mipit kudu amit ngala kudu menta “. Ieu aya hubunganana jeung leungeun sapotong anu ramo-ramona ditikelkeun, hartina ngitung ti hiji nepi ka lima sasaruanana jeung lima tingkatan/hambalan kebon kembang nu dipager,

nyaeta lima rupa aturan Jamaat anu kudu dianyarkeun deui nurutkeun pola ti Aki Petrus tea, hal tata tertib.

Aturan naon eta teh hiji-hijina? Loba pisan katata tertiban di Jamaat anu geus teu dipaduli, nu matak ku Gusti dipertelakeun deui, sakumaha anu didawuhkeun ku Gusti ka Pa Mika waktos teu damang tea anu geus kaserat dina Cahaya Sumorot.

Lima aturan nyonto tata tertib ti Aki Petrus teh nyaeta:

1. Tina hal nyucikeun poe Kareureuhan/poe Kabaktian.

2. Tina hal nyucikeun hirup muda-mudi waktu bene beureuh.

3. Tina perkara nyanyabaan.

4. Tina hal mun aya kalaraan/kacilakaan/musibah.

5. Tina hal hirup kumbuh silih pikanyaah

NYUCIKEUN POE KAREUREUHAN / POE KABAKTIAN.

Pikeun nyucikeun poe Kareureuhan/Kabaktian sakumna anggota Jamaat teu diwidian:

ngahajakeun ka pasar.

ngahajakeun digarawe

ngahajakeun nyaba

ngahajakeun ka leuweung/ka reuma

ngahajakeun jual meuli

Tina perkara ka pasar.

Pikeun nyucikeun poe Kareureuhan/poe Kabaktian sakumna anggota Jamaat teu diwidian:

Ngahajakeun balanja ka pasar, boh jang sorangan, rumah tangga, kulawarga komo dagangeun/warung mah.

Ngahajakeun rek arulin, komo nepi ka ninggalkeun kabaktian atawa kawajiban lianna anu lumangsung dina poe Kabaktian.

Kajaba:   -  balanja kaperluan kapapatenan

- nyumponan kahayang nu gering payah anu teu bisa    diengkekeun deui.

b. Tina perkara ngahajakeun digawe

Sakumna anggota Jamaat  teu diwidian migawe pagawean-pagawean:

-     Nyeuseuhan saloba-loba:

Ngahaja ditungguikeun kana poe minggu dumeh teu digarawe di sawah, di huma, di kebon, di kantor-kantor, atawa henteu sarakola. Kajaba lamun sang istri orokan dina malem minggu. Ieu mah teu dilarang sabab sagala kokotor perlu diberesihan.

-      Beberesih: ngarakbol, ngepel, ngored pakarangan imah, atawa nganggeuskeun hanca poe \Saptu; anu dina prakna teu aya bedana jeung poe-poe sejen.

-     Pagawean sejenna: olah raga / nutu, ngaheler, moe pare dumeh dina poe sejenna teu kaburu atawa teu aya panas. Kajaba lamun dina poe Saptuna kabancuh nepi ka teu kaburu kaangkatan

Ngidinan pagawe borongan migawe boronganana.

-      Para tukang beca, ojeg, supir narik muatan. Kajaba mawa nu gering ripuh ka dokter / rumah sakit atawa aya kaperluan penting anu teu bisa diengkekeun.

c. Tina perkara nyaba jeung nyanyabaan

Dina poe kabaktian sakumna anggota jamaat teu diwidian:

-      Ngahajakeun indit nyaba / ka luar daerah. Komo lamun cul kana kabaktian mah. Kajaba lamun aya musibah anu ngadadak saarta teu bisa ditunggukeun.

-      Ngahajakeun indit piknik / rekreasi/arulin kakota anu maksudna uk ur nganteur karep jasmani nepi ka ninggalkeun kawajiban anu lumangsung dina poe kabaktian. Komo lamun cul kana kabaktian mah.

d. Tina perkara ka leuweung ka reuma

Sakumna anggota Jamaat teu diwidian:

-      Ngahajakeun indit ka leuweung ka reuma anu maksudna wungkul arulin, curak-curak nepi ka cul ninggalkeun kawajiban anu lumangsung dina poe kabaktian.

-      Ngahajakeun indit ka leuweung ka reuma anu maksudna balang siar usaha, nyiar kipayah, barang ala naon wae pikeun  Kaperluan sorangan, rumah tangga. Geus komo pikeun dagangkeuneun atawa jualeun mah.

e.    Tina perkara beubeulian / jujualan

Sakumna anggota Jamaat teu diwidian:

- Ngajual / meuli naon bae anu sipatna nyiar kipayah.

- Muka pausahaan, toko, jongko, warung, jst.

- Barang beuli barang, upamana bahan bangunan imah.

2.    NYUCIKEUN HIRUP KUMBUH WAKTU BENE BEUREUH

a.    Pikeun para rumaja henteu dilarang maranan / nganjang mah, ngan anu teu diwidian teh nyaeta: Ngalanggar tata susila: nirca, komo noda mah.

Teu nyaho di waktu balik (kamalinaan).

Diidinan maranan paling peuting nepi ka pukul 10.00 kudu geus aya di imah masing-masing.

Ngalanggar tata tertib kasopanan ka pribumi atawa tatangga waktu di tempat panganjangan atawa waktu balik.

Dina prakna maranan:

Ngobrol bari mopoek/teu dicaangan, diluar /dijero imah  .

Dina maleman kumpulan / kabaktian.

Para sepuh

Ngantep para putra / putrina ngobrol paduduaan di hiji kamar boh beurangna sumawonna peutingna.

Kasumpingan calon minantu anu ti jauhna kalawan seja aya poena, ngantep eta calon suami-istri teh sare sakamar. Geus komo lamun saranjang mah.

Ngantep para putrina aruilin waktu poek peuting ka mana / di mana bae, atawa undang endong ka saha bae.

f. Ngahaja nyingkahan ngajauhan kolot bari rupa-rupa alesan, padahal geus pait jangji seja ngajujur napsu nganteur karep birahi, boh beurangna sumawonna peutingna.

3. TINA HAL NYANYABAAN

1. Sakumna anggota jamaat anu rek nyanyabaan / indit-inditan ka luar daerah, naon bae perluna, diwajibkeun bema krama / bebeja ka pingpinan jamaat atawa anggota Majelis setempat / anu deukeut bari menta doa berkah salamet ka Gusti dina paneda, samemehna indit.

2. Teu diiwalkeun keur anggota Majelis, nya kitu keneh sarua bae teu aya bedana, komo kudu leuwih make bema krama.

4.  TINA HAL ANU GERING / MUSIBAH / KACILAKAAN.

Pikeun sakumna anggota jemaat dimana anggota kulawargana disorangkeun kalaraan, komo gering payah, atawa musibah naon bae anu matak ngabahayakeun,  di wajibkeun:

a.Laporan/bebeja boh ka pamingpin Jemaat/ka anggota Majelis setempat nu deukeut supaya diayakeun pelayanan sakumaha mistina. Utamana pisan mun teu bisa milu kabaktian dina Minggu ka hiji.

b.Samemeh nu gering di bawa ka rumah sakit/dokter, sabisa bisa  di deuheuskeun heula ka Gusti neda berkah-Na dilebet abdi-Na. Kajaba lamun panyakitna katimbang ngabaha yakeun sarta jadi na ngadadak pisan, anu hartina heunteu bisa di tunggukeun deui

TINA HAL HIRUP KUMBUH SILIH  PIKANYAAH.

Pikeun sakumna anggota jemaat di wajibkeun:

Silih tulung dina pagawean, hartina silih sundang babawaan  jeung sasama.

Dina hal jual meuli di antara papada anggota sing aya bedana jeung jelema luar.

Dina hal nginjeum jeung nginjeumkeun, kudu pada boga rasa jeung rumasa. Kudu hade ku basa, goreng ku basa.

Dina kuli jeung ngulikeun.

Kudu boga rasa rumasa, ulah tiktik aji bilang harga, ulah silih undakan, kudu nurut kumaha umumna bae.

Anu karuli, ulah ngudag-ngudag kadaharan sahuap sakopeun temahna matak ngapokkeun ka nu ngulikeun.

Anu ngulikeun, ulah rek rebutan tanaga ( nu kuli ) jeung papada nu ngulikeun deui.

e.. Mun aya kasarusutan jeung papada, beberes heula di “ jero”      ulah buru-buru lumpat ka “ luar “.

f.     Dina hal sidekah jeung nyidekahan.

Ulah aya pamrih komo nepi ka nimbulkeun katugenah ka nu sejen mah, nu antukna jadi tembang kalemekkan.

PIKEUN ANGGOTA NU ARAYA DI KOTA JEUNG ANGGOTA  ANYAR.

ANGGOTA NU AYA DI KOTA-KOTA

Wajib daratang kana KABAKTIAN dina waktu jeung tempat anu geus dibakukeun.

2.   PIKEUN ANGGOTA ANYAR.

Samemeh ditarima jadi anggota diwajibkeun :

Masrahkeun Surat Ijin ti Kapala Jamaat ? Agama asal.

Ngalakonan masa percobaan anu lilana tilu bulan

Masrahkeun Surat Pernyataan kahayang sorangan ( Pikeun anu geus dewasa ).

PENJELASAN POKOK DEMI POKOK.

HAL NYUCIKEUN POE KAREUREUHAN / POE KABAKTIAN.

Saksi : *    Kitab Ulangan 5 : 12 – 14.

Kitab Keluaran 31 : 12 – 15.

Kitab Imamat 23 : 3.

Para anggota Jamaat teu diwidian ka palasar, hartina ulah ngahajakeun balanja ka pasar pikeun kaperluan naon bae dina poe Kabaktian. Anu hartina ulah digarawe saperti: indit nyaba, ka leuweung, ka reuma, jeung sapapadana.

Upamana :     Nyeuseuhan diancokeun ti beh dituna keneh. Rek dipigawe teh meungpeung parere. Nepika seuseuhan teh ngabugbrug saloba-lobana. Ana prak dipigawe, alah batan ti digawe biasa. Komo nepi ka teu boga persadiaan  mah dina hate pikeun tempat pangandika. Kitu deui sanggeusna kabaktian urang kudu nyerepkeun pangandika, ngagayem mun dahar mah.

Aya nu teu di anggap salah dina hal ieu oge, upama pamajikan orokan dina malem Minggu. Ieu mah perlu, kokotor teh kudu diberesihan.

Oge upama boga nu gering payah, hayang itu hayang ieu dina poe Kabaktian. Ieu oge perlu dilaksanakeun. Teu di anggap salah

Lamun aya Papaten dina poe Kabaktian, Kabaktian tunda heula.

Tapi anu teu diidinan / dibenerkeun teh: Saperti Para rumaja, bring arulin ka pasar ka leuweung, ka reuma, ka kota, ngadon pelesiran ka mana bae oge nepi ka poho kana kawajiban, geus komo lamun ninggalkeun kabaktian mah. Nu kieu mah kacida pisan salahna.

Kitu deui tina barang ala pepelakkan anu maksudna pikeun jualeun. Kuduna mah dialana teh ti memehna ( poe Sabtu ) keneh. Tapi sanajan keur dahareun ge ari nepi ka kawas nu rek dagang mah, teu pantes malah teu diwidian. Kajaba mun keur sakoppeun.

2.  PERKARA BENE BEUREUH.

Hal maranan mah teu dilarang. Nu teu meunang teh nyaeta maranan nepika ngalanggar tatasusila. Matak kesel pribumi, nu ahirna datang urang Gunung Jetun. Para sepuh teh les we sare. Waktu eta teh dipake kasempetan  keur migawe nurut panggoda nu ahirna ragrag kana dosa.

Diwenangkeun boh ulin tanpa pamrih, ulin ka tatangga, ka dulur, ka sobat, malah ka kabogoh pisan teu nanaon. Asal paling peuting pukul 10.00 teh kudu balik kasaimah-saimahna.

Nu di jaga teh kacurigaan jeung kasucian enggoning hirup babakalan.

Dina prakna maranan ( Apel ), kudu pantes jeung merenah dicaangan. Dariuk boh di tepas boh di jero imah, kudu sopan jeung kapantesan. Hormatan pribumi jeung sepuh-sepuh ka dua beulah pihak. Ulah nimbulkeun kasarusutan. Kudu repeh rapih, lulus banglus jeung mulus rahayu.

Ulah loba codeka marakela hirup sakama-kama akhirna ngalanggar susila, jauh tina Pancasila.

Nu matak pikeun nu lalagas / nu ngarora, kudu bisa ngajaga, kudu sing awas jeung waspada.

3. PERKARA NYANYABAAN.

Anu rek nyanyabaan kudu aya bemakrama ka Rasul atawa ka anggota Majelis nu deukeut. Sabab peta kitu teh ngayakeun pahala. Komo mun bari menta doa pangjurung mah. Ngalap berkah salamet ti Gusti di lebet abdi-Na. Maksudna ngajaga dina nyorang bancang pakewuhna.

Sok loba kajadian kebejakeun meunang musibah di mana mendi bari nu wajib di Jamaah teu nyaho ti tadina; iraha indit nyabana, sabaraha poe lilana, jeung naon maksudna.

Kitu sababna perlu bebeja supaya dina indit-inditan teh aya dina kasalametan ti mimiti indit nepi ka datang deui ka imah.

Kajaba mun moal meuting, hartina pulang poe. Nu kitu mah teu perlu bebeja heula. Tapi ieu oge kumaha pertimbangan nu rek lumampah. Nyanggakeun!!!

4. PERKARA ANU GARERING.

Perkara ieu mah perlu pisan ngabejaan ka Rasul atawa ka anggota Majelis nu deukeut, supaya puguh laporanana. Komo pikeun nu gering payah mah.

Nu garering anu ngabutuhkeun parawatan dokter / rumah sakit teu di benerkeun mun samemeh indit di bawa teh teu bebeja heula ka Rasul atawa ka anggota Majelis nu deukeut.

Maksudsna sanajan aya di rumah sakit atawa di bawa ka dokter ge tetep aya dina panangtayungan Mantena, nepi ka salila nandangan kalaraan teh dikuatkeun batinna, pageuh percaya ka Gusti bari masrahkeun sagala kasusah badan nyawa.

Nya kitu deui nu nyarandang lara di imah masing-masing. Mun teu bisa datang kana Kabaktian kudu laporan., Pangpangna dina poe Minggu ka hiji. Sabab geus jadi katetepan didinya kudu diayakeun pelayanan rohani husus. Iwal anu ngagetih atawa orokkan, ieu mah moal di anteuran, tapi ari laporan / beja mah tetep kudu aya.

. 5. PERKARA HIRUP KUMBUH SILIH PIKANYAAH.

A. Silih tulung pagawean.

Dina hal ieu teh geus meh-mehen pareum, komo dina soal kuli jeung ngulikeun, jual meuli, nu ahirna timbul tiktik aji bilang harga. Sabab aya dawuhan Gusti, kudu di anyarkeun tea supaya bisa bener-bener silih pikanyaah / gotong royong, anu rame-ing gawe sepi-ing pamrih. Utamana dina hal jual meuli, kudu aya bedana. Lain leuwih mahal / leuwih beurat ti nu boga ka nu teu boga. Nu kudu di timbang teh supaya silih sundang babawaan.

Nu sakadarna hirup dina lahir bisa nulung, sanajan siga nu ngajual ( meuli  keur nu miskin ). Nu leutik ulah matak ngeuheulkeun nu boga. Contona: nu leutik aya kabutuh ( pare / duit ). Di bere nginjeum, nganjuk. Pedah-pedah hirup leutik, boro keur mayar geus mulan-malen malah taun-taun, teu basa-basa acan. Kudu na mah sing boga rasa rumasa yen geus di tulung. Pek datang sasadu tamada ka nu mere / nulung teh. Di dieu baris aya kaadilan: dibebaskeun tea, dicicil tea. Apan nagara urang teh nagara Pancasila.

B. Dina kuli jeung ngulikeun.

Nu ngulikeun kudu mayar nurut kumaha umumna. Nu kulina, puguh-puguh geus nyokot bayaran ti heula, kari-kari muru nu leuwih, upamana bae, aya onjoy Rp. 50.00 di nu sejen mah. Lampah kitu teh nyieun handeueul ka nu ti heula, malah sok ditungtungan teu hayang deui mere. Kajaba lamun aya babadamian leuwih ti heula. Upama aya nu menta bantuan dina sawaktu. Di dieu perlu silih timbang, kudu hade ku basa goreng ku basa.

C. Perkara Kasarusutan.

Mun aya kasarusutan di antara dulur, beberes heula di jero ulah waka lumpat ka luar. Apan di Jamaat ge aya nu wajibna, supaya bi  sa rapih deui sabihara sabihari. Mangga kaji dina I Korinta 6 : 1 – 7. Kitu sababna pikeun di urang, kudu bisa silih pikanyaah

D. Anggota Jamaat Nu Aya di Kota-kota.

Saiwal kudu nohonan katangtuan-katangtuan anu geus ka sebut di luhur / ti heula, diwajibkeun:

1. Datang kana Kabktian dina waktu jeung tempat anu geus dibakukeun / ditetepkeun.

2.   Dina unggal Minggu ka hiji, daratang kana Kabaktian di Pusat ( Rawaselang ), kajaba:

a. tempatna jauh pisan sarta sulit piekun datang.

b. keur nandang lara badan jasmani na.

c. keur ngajalankeun tugas ti pamarentah / perusahaan.

3. Teu diiwalkeun  keur para anggota Majelis, komo pisan.

PIKEUN ANGGOTA ANYAR.

Diwajibkeun:

Masrahkeun Surat Ijin ti Kapala Jamaat / agama asal.

Masrahkeun Surat Pernyataan pribadi anu nentelakeun yen hayang asupna teh lain di ojok-ojok ku nu sejen tapi estu kahayang pribadi ( pikeun nu geus dewasa ) ku ayeuna mah  kudu “ di atas segel “.

Pikeun nu asalna Kristen, kudu masrahkeun Surat Baptis.

Nyumponan “masa percobaan” lilana tilu bulan,  anu saterusna bakal narima Sakremen Pangbanyu jeung Kamatrian.

Katangtuan-katangtuan di luhur, oge berlaku pikeun anu geus “mengundurkan diri”, hayang asup jadi anggota deui. Sanggeus sakabeh sarat kacumponan, karak di aku sah jadi anggota tetep.

Sakieu terbuka-ning Roh. Manawi aya kakiranganana neda Roh mertelakeun deui. A m i n.

Rawaselang, 5 Maret 1980,

Penyusun,

Ttd.

Rsl. MARDI MARCHASAN.

SEJARAH SINGKAT

TANGGAL 13 JUNI

1

KEPINDAHAN  NENEK MOYANG

CIKEMBAR   -   RAWASELANG

PENYUSUN NASKAH :

Rsl. MARDI MARCHASAN

10061986

PERINGATAN TANGGAL 13 JUNI.

Tibalah saatnya hari yang kita nanti-natikan yaitu hari KEPINDAHAN nenek moyang kita dari PANGHA- REPAN Sukabumi ke Rawaselang ini.

Kita telah menerima amanat penting dari leluhur kita bahwa hari ini, tanggal 13 Juni, jangan dilupakan, karena hari ini adalah hari KEBANGKITAN ROHANI.

Ini adalah amanat dari nenek moyang / Aki Petrus bahwa tanggal 13 Juni ini harus diperingati dengan hidmat walaupun banyak sekali rintangan.

Dengan penuh semangat rohani, 13 Juni ini harus kita selidiki maknanya atau ada apa di dalamnya sehingga leluhur kita mengamanatkannya agar jangan dilupakan.

Apabila kita mengkajinya secara seksama, hari ini adalah hari kebebasan  nenek moyang kita dari belenggu penjajah dalam hal beribadat kepada Allah.

Kebagkitan rohani ini tidak terjadi hanya sekali saja, tetapi berkali-kali. Tetapi karena masih terjajah, meng-akibatkan pertumbuhannya kurang subur dan kurang pesat, karena dianggap bertentangan dengan iklim jaman pada waktu itu. Para leluhur kita tidak tinggal diam, bahkan sebaliknya, setiap ada kesempatan di-gunakan sebaik-baiknya; setiap anggota tetap ber-partisipasi aktif, sehingga timbullah semangat baru di-

sertai bidston.

Di dalam kebangkitan rohani yang berkobar-kobar itu, maka Roh Kudus-pun turun serta bernubuat melalui Bapak Rustam, agar kebangkita rohani ini tetap harus dilanjutkan. Dengan tuntunan Roh Kudus-lah nenek moyang kita bersemangat mengembangkannya. Diselenggarakannya kebaktian dari rumah ke rumah. Dituturkannya pula bahwa setiap orang harus bersujud dan bertobat kepada Tuhan, merasa dan mengakui dosa, sering menyangkal dan berbuat yang keji. Kejadian ini sangat menggembirakan jiwa yang taat dan tekun akan firman Allah Bapa.

Penuturan Roh Kudus itu berlangsung terus tanpa ada yang mampu menghalanginya. Nenek moyang kita semakin giat bermusyawarah mengkajinya.

Pada suatu saat kebaktian dalam Gereja, Bapak Rustam bernubuat , menyuruh semua yang duduk harus turun dari tempat duduk masing-masing, dan tunduk sujud di bawah tempat duduk.

Sambil menangis menyesal karena dosa, merekapun bertobatlah, mohon Tuhan mengampuni dosa-dosa. Hanya satu dua orang saja yang tidak mau turun dan bertobat, bahkan menghina dan mencerca, katanya: “Si Rustam edan, dirasuk setan!”

Di dalam suasana riuh rendah, dimana berbaur suara tangis dan cercaan, datanglah tuan Padri karena akan berkhotbah di Gereja.

Setelah tuan Padri mengetahui persoalan yang sebe-narnya, berkatalah ia kepada pak Rustam: “ Hai Rustam Rustam, gilakah engkau?” Pak Rustam-pun menoleh kepada tuan Padri, sambuil berkata: “Matamu celik, tapi tidak melihat!” Artinya, tuan Padri berbuat tanpa kewas-padaan. Secara lahiriah tiada kekecewaan apapun, semuanya beres, tetapi hidup sejati dalam iman, sekalipun tahu, tidak dihiraukannya; masih belum tercapai kebenarannya menurut perintah Allah. Kenyataannya, hidup lahiriah terjamin, namun kehidupan rohani jauh terbengkalai. Ia bersikap dan bertidak acuh tak acuh dan masabodo.

Hal-hal seperti inilah yang menggoncangkan nenek moyang kita, takut kalau-kalau hidup seperti itu tidak berkenan kepada Allah.

Tuan Padri melarang keras, dan kebangkitan Rohani seperti itu tidak diperkenankan lagi.

Penuturan Roh Kudus itu berlangsung terus tanpa ada yang mampu menghalanginya. Nenek moyang kita semakin giat bermusyawarah mengkajinya.

Pada suatu saat kebaktian dalam Gereja, Bapak Rustam bernubuat , menyuruh semua yang duduk harus turun dari tempat duduk masing-masing, dan tunduk sujud di bawah tempat duduk.

Sambil menangis menyesal karena dosa, merekapun bertobatlah, mohon Tuhan mengampuni dosa-dosa. Hanya satu dua orang saja yang tidak mau turun dan bertobat, bahkan menghina dan mencerca, katanya: “Si Rustam edan, dirasuk setan!”

Di dalam suasana riuh rendah, dimana berbaur suara tangis dan cercaan, datanglah tuan Padri karena akan berkhotbah di Gereja.

Setelah tuan Padri mengetahui persoalan yang sebe-narnya, berkatalah ia kepada pak Rustam: “ Hai Rustam Rustam, gilakah engkau?” Pak Rustam-pun menoleh kepada tuan Padri, sambuil berkata: “Matamu celik, tapi tidak melihat!” Artinya, tuan Padri berbuat tanpa kewas-padaan. Secara lahiriah tiada kekecewaan apapun, semuanya beres, tetapi hidup sejati dalam iman, sekalipun tahu, tidak dihiraukannya; masih belum tercapai kebenarannya menurut perintah Allah. Kenyataannya, hidup lahiriah terjamin, namun kehidupan rohani jauh terbengkalai. Ia bersikap dan bertidak acuh tak acuh dan masabodo.

Hal-hal seperti inilah yang menggoncangkan nenek moyang kita, takut kalau-kalau hidup seperti itu tidak berkenan kepada Allah.

Tuan Padri melarang keras, dan kebangkitan Rohani seperti itu tidak diperkenankan lagi.

utusan ketika diusir di Pangharepan.

Gubuk panjang laksana kandang kerbau, beratap dan berdinding yang terbuat dari alang-alang, bertiangkan bambu hutan bernama haur berduri. Nenek moyang kita tinggal bersama, tidak seorang-pun terpisah. Gubuk tersebut di buat tanpa kamar-kamar, tiada pemisah apapun antara yang satu dengan yang lainnya.

Bila tidur berdesakkan yang satu dengan yang lainnya. Tidur ber-alaskan alang-alang pula yang dihamparkan pengganti kasur yang tiada, asal tidak tidur langsung diatas tanah saja. Selama tidur, semut berpesta pora mendapatkan makanan lezat berupa tubuh-tubuh yang nyaris tidak terbungkus; demikian pula halnya dengan nyamuk-nyamuk menari-nari bersukaria kegirangan karena mendapatkan  hidangan yang nikmat dan lezat berupa darah manusia yang dengan mudah dapat dihisap secara bebas dan leluasa.

Nyamuk-nyamuk pembawa bahaya dan penyakit berkeliaran siang dan malam. Barang siapa yang digigitnya maka berjangkitlah demam malaria. Banyaklah diantaranya yang menjadi korban  malaria bahkan direnggut maut.

Walaupun demikian nenek moyang kita tidak berputus asa. Apa yang menjadi tujuan utamanya dilajutkan kembali sementara tertunda karena kepindahannya.

Kebebasan dan keleluasaan beragama dirintis kembali dengan menelaah ayat-ayat Al-Kitab dengan penuh riang gembira, di bawah bimbingan kuasa Roh Kudus.

Roh kuduslah yang selalu menunjukkan  jalan yang benar menurut firman Allah; Sehidup semati, kasih mengasihi antara yang satu dengan yang lain, mewujudkan pembangunan rohani menyatakan kodrat ilahi, bersatu dalam setiap pekerjaan, bergotong royong, tolong menolong dengan sesama, membagi rejeki menurut ajaran yang telah dimiliki agar tiada yang terlantar, dukung mendukung dan bantu membantu dalam bekerja dan mencari nafkah.

3. WABAH MELANDA.

Didalam mengembangkan hidup rohani, mendapat kemajuan pesat karena telah memiliki kebebasan dan keleluasaan, berkat tuntunan kuasa Roh Kudus.

Bagi kehihupan rohani sudah terlepas dari rongrongan; Namun dalam kehidupan jasmani wabah malaria berjangkit. Hal ini disebabkan pembukaan tanah baik untuk sawah maupun untuk ladang. Ini berarti hambatan baru datang dalam bentuk dan wujud yang berbeda. Akibatnya kecukupan belum terbayang, bahkan kekurangan datang menimpa baik sandang terutama pangan.

Walaupun penderitaan bertubi-tubi, nenek moyang tidak berputus asa bahkan dalam keadaan sakitpun bekerja terus. Nenek moyang berjuang dengan gigih, pantang mundur walaupun kelaparan melanda malaria menimpa, semangat juang tidak tergoyahkan.

Di dalam suasana serba kekurangan itu penghematanpun di tingkatkan salah asatu diantaranya mengatur sarana pangan dan makan hanya cukup “ Bubur encer sapiring ceper “ saja. Seperti yang diungkapkan dalam bahasa sunda dalam cerita si Kabayan: “ Sanajan bubur encer sapiring ceper, hate mah teu geder “ artinya : walaupun makan hanya bubur sedikit tetapi tidak menjadikan kecil hati.

Semangat juang yang tinggi dari nenek moyang, tanpak jelas dalam bentuk keuletan dan ketabahan hati dalam menghadapi berbagai tantangan hidup baik lahir terutama batin walaupun teramat hebatnya tantangan tetapi nenek moyang kita selalu menyerahkan hidup dengan tiada mengurangi rasa syukur, bahkan selalu memuji kasih Tuhan yang walaupun di rasakan teramat pahitnya.

Penuturan ini mungkin banyak yang kurang jelas, banyak pula kekeliruannya. Namun demikian, janganlah menyimpang dari tujuan utamanya, yaitu agar anak-anak mengetahui tentang Sejarah Kepindahan yang telah nenek moyang amanatkan.

Makna amanat itu ialah agar kita sebagai generasi penerus tidak melupakan kejadian yang sebenarnya yang dialami nenek moyang kita, sehingga menyimpang dari azas-azas yang telah digariskan baik lahir terutama terutama untuk kehidupan beragama.

Kita, yang menjadi cucu cicitnya, harus menyadari dengan sepenuhnya bahwa nenek moyang kita dahulu adalah ber-Allah satu dengan kita sekarang, atau Allah nenek moyang dan Allah  kita sekarang adalah satu.

Kita yang menjadi generasi penerusnya, haruslah menyadari bahwa walaupun hidup ini ditimpa kemalangan dan penuh dengan penderitaan, tetapi tidak mengurangi semangat juang kerohanian, bahkan harus semakin meningkat dan melaju.

Dalam istilah Sunda dikatakan: “SANAJAN DAHAR NGAN SAKADAR BUBUR ENCER SAPIRING CEPER, TAPI HATE MAH HENTEU HANCER ATAWA GEDER”.

Walaupun hanya kain untuk menutup tubuh, namun nenek moyang kita tetap percaya, bahkan semakin mantap bahwa hanya Alah-lah yang menentukannya.

kalau kita bandingkan dengan keadaan kita sekarang, amatlah jauh berbeda, baik sandang ataupun pangan. Kita hidup berkecukupan, makanan tidak kekurangan, pakaian bertumpuk, beralaskan kaki pula. adakah diantara kita sekarang berpakaian compang-camping?

Kita lihat keadaan kita sekarang, misalnya dalam kebaktian di Gereja. Alas kaki mulai sandal jepit sampai kepada selop bintang film, bahkan ditambah dengan perhiasan yang beraneka ragam dan serba berkilauan. Tetapi sudahkah jiwa kita dilandasi dengan semangat jiwa yang tinggi dari nenek moyang kita? Ini berarti bahwa Allah itu maha kasih, memberikan kecukupan walaupun untuk kehidupan yang lahiriah. Inipun satu pertanyaan bagi kita sekarang.

Maka dari itu, bagi kita sekarang, dalam mempringati tgl. 13 juni ini, bila kita kaji secara mendalam, benar-benar mengandung nilai yang teramat tinggi.

Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah menuntun kita dengan jalan nenek moyang kita, karena segala yang kita miliki sekarang ini adalah berkat perjuangan nenek moyang kita, yang tak kenal patah semangat, walaupun disertai dengan penderitaan yang sangat berat.

Akhirulkalam, semoga perjuangan nenek moyang kita, baik yang lahir terutama yang batin, menjadi landasan yang kuat bagi hidup kita dalam mengisi kemerdekaan yang rohaniah dari saat ini sampai selama-lamanya.      A  m  i  n  .-

Rawaselang,  8  Juni  1986 .-

Salam dari saya :

Penyusun naskah,

ttd

Rsl. MARDI MARCHASAN.

SEJARAH

BAPA PETRUS

Dicetak ulang dan diperbanyak

oleh : SEKSI PUBLIKASI

Gereja Kerasulan Pusaka

Tanggal    : 21.  Juni.  1994.

Disalin dari Buku Aslinya:

Judul        :  PUSAKA KOMARASARI

Karangan         :  Ibu ISPAH MARCHASAN.

B  U  B  U  K  A

Sateuacana sim kuring nyutat-nyatet ieu riwayat, sim kuring nyuhunkeun sihaksami ka sadaya para mitra anu ngaos ieu sejarah, di suhun mugi maklum boh tulisan sareng kasauran, bilih aya basa kirang wiwaha undak usuk teu panuju, sugal budigal janggal larap, sopan santun teu di susun; ulah kirang ngahampura reh sanes kahayang pribadi estu maksad nu ngabadi, sipatna nu kagungan riwayat.

Perlu kanggo putra putu, sanes sim kuring akon-akon jadi jalma nu umambon,  eta mah sageuy teuing. Sim kuring ngarumaoskeun jadi jalma bodo taya kanyaho, kedah nyutat eta lalakon.

Numawi sim kuring nyuhunkeun,  manawi di kedahkeun, mugi abdi di bukakeun nya hate di caangan ku Roh Suci ditangtayungan. Ku kituna datang deui Roh  Bapa ngabadi deui: “ Ku maneh bejakeun, sakeudeung deui ngingetkeun kabudalan ti Pangharepan, nu matak maneh nu jadi anak Bapa, kudu nuliskeun lalakon Bapa ti awit Bapa jumeneng nepi ka tutup umur Bapa.

Eta kudu sina di baca dina tiap-tiap kan mangsa tanggal bulan kabudalan “ Kitu Roh Bapa ngalahirna.

Sim kuring heunteu nampi, palang siang Roh gogoda. Tapi datang deui, lahirna: “ Naha teu percaya ? Ieu teh bener Bapa. Geura pek tuliskeun ku maneh. Incu putu tong balilu, mun terang riwayat Bapa. Sanajan ceuk maneh geus aya nu nyutat lalakon Bapa, tapi tacan ti awitna. Nu matak ku maneh geura cutat ti waktu Bapa ngora. Mapan Bapa mindeng nyarita lalakon Bapa keur ngora.”

Tah sakitu pesen Bapa, waktu sora tan katingal, turun wahyu ka nu balilu. Henteu lami mungkur deui mungkar taya waragana.

Wilujeng ngaos.

Wasalam nu ngarang

Rawaselang, 20……..

I  S  P  A  H.

RIWAYAT BAPA PETRUS.

Dina hiji lembur anu kasebat Kampung Leuwidahu di bilangan tanah Tigarasa ka bawahna ka Tanggerang, aya hiji jalma anu kasebat jenengan Bapa Marchasan, putra Panghulu Serang. Ari istrina jenengan Sai Putri Raden Karadinata. Asal muasalna ti Cirebon.

Dupi Bapa Marchasan nyepeng agama Muslimin. Ari tabeatna kacida soson-sosona kana hal ka Agama anana, dibarengan kalawan ibadah ka Pangeran.

Kacarioskeun Bapa Marchasan kagungan putra tilu. Anu cikal, pameget, jenenganana Sadiin, nu kadua pameget keneh jenenganana Sariun, anu katilu istri jenenganana Nyi Karsiah.

Eta putra nu katilu kacida di didikna kana agama. Naji solat sambeang teu kenging lalawora. Malah putra nu cikal mah Sadiin di lebetkeun ka pasantren anu kira-kira teu tebih ti dinya.

Kacarioskeun Bapa Marchasan teu lami yuswana,  kabujeng ku maot Kalawan nilarkeun istri sareng putra tea. Atuh kacida anu jadi istri kitu deui para putrana sarusaheunana, teu aya geusan pakumaha. Babakuna mah kange waragad nu keur ngalap elmu di Pasantren teu aya nu nyumponan.

Lami ti lami saparantos bekel seep nya kapaksa Sadiin teh ayeuna mah mindeng ninggalkeun tempat Pasantren, anu maksud na ngider ka saban lembur sugan aya nu haat masihan kanggo ngaganjel-ganjel bekel tea salami ngalap elmu di Pasantren.

Dumadak dina hiji waktu, udar ider ka lembur-lembur pareng pisan ngajugjug teh ka lembur nu rea anjingna. Ti kajauhan ge parantos tetela, yen lembur eta teh rea anjingna. Atuh perjalanan teh mundur maju. Upama balik deui pisakumahaeun ka tingalna ku urang lembur, risi di curiga, sabab parantos katingalieun ku maranehna.

Atuh sangges gilig emutanana bade lahaola bae neruskeun perjalanan tea. Tapi sanggesna tepi ka hiji imah dumadak pisan ti gigireunana anjing teh nyerenteng bae bangun nu ambekeun pisan. Atuh Sadiin teh lat lali kana purwa daksi, teu karaos luncatna kana bale nu boga imah.

Atuh kacida nu boga imah ge reuwaseunana ku kaayaan ki semah kitu.

Teu kacarios sabaraha lamina Sadiin aya di pasantren kalawan balangsak kakurangan bekel. Ayeuna kacatur Sadiin parantos kaluar ti masantrena.

Ayeuna kagungan emutan hoyong kuli-kuli kanggo nulung kanu jadi sepuh sareng ka saderek-saderekna.

Lajeng anjeuna ngajugjug ka tempat anu tebih  ti lembur matuh nya ka tanah Batawi nu di landih Jakarta ayeuna.

Didinya anjeuna mendak padamelan di bangsa Tionghoa. Nya di dinya anjeuna nganjrekna.

Kacarioskeun henteu tebih ti dinya, aya hiji Guru Injil jenenganana Bapa Jimun. Lami ti lami Sadiin teh kacida conggahna ka eta Guru, meh saban ari reureuh tina damelna sok ameng ka bumina.

Saengeus rada lami ngadamelna di ete Cina tea, anjeuna kagungan emutan palangsiang boa-boa, dumeh damel di dinya, dahar sare sok didinya bae. Atuh meureun sagala kadaharan dunungan teh sarua bae jadi kadaharan anjeuna. Ana kitu bisa jadi umpama dunungan ngadahar daging anu diharamkeun ku anjeuna, tangtu bae anjeuna oge sok ngadahar, sabab tara mere nyaho naon-naon anu di dahar tea.

Padahal kadaharan anu kitu tea kacida di cegahna ku anjeuna. Teu kacarios sabaraha lamina ti harita, ayeuna Sadiin geus boga sobat nya eta Bapa Jimun tea, malah sering pisan tukeur pendapat.

Nya saterasna Sadiin nyarioskeun ngarasa gede dosa ku lantaran cicing di Cina. Sahenteuna dina barang teda tangtu rea barang haram nu di dahar ku anjeuna.

Saparantos Bapa Jimun uningaeun kan jero-jerona maksud Sadiin, nya teras dipasihan pamandangan bari teu weleh di taros enya henteuna ngaraos gede dosa sarta hayang aya nu ngahampura. Pangjawab Sadiin kacida di benerkeunana ku Bapa Guru. Malah umpama enya-enya hayang di hampura dosa, hayu engke urang datang ka hiji Tuan, eta nu bakal ngahampura sakabeh dosa.

Barang anjeuna nguping carios ti Guru tea kacida bungahna sarta percaya ka anu dicarioskeun ku Guru tea.

Kacarioskeun ti harita henteu lami deui Sadiin nyuhunkeun liren tina damelna di Cina tea. Nya teras dongkap deui ka Guru, basana hayang geura terang ka eta Tuan. Harita keneh ku Guru dicandak nadeuheus ka Tuan tea. Ari jenengan eta Tuan teh nyaeta Tuan Anting. Dupi padamelanana eta Tuan teu aya sanes mung ngajejeman kana agama bae nu kasebut agama Kristen. Ari pangkatna parantos pangsiun tina Hogerechtstshoff, malah pangsiuna rereana di teundeun di Bank. Atuh kacida gampangna sakalieun aya perlu nu kudu di tulung di antara murid-muridna nu kasusahan, kari nyokot bae ti Bank.

Malah dina ngalegakeunana agama oge, anjeuna mah biayana kitu kieu teh ditanggung ku anjeuna bae, sabab teu hubungan jeung nu sejen, estu berdiri sendiri. Kitu deui Tuan teh ngabogaan bakat anu sareh budina kalawan hade hatena, boh kanu sanes sumawona ka anak muridna. Malah Guru-Guruna mah meunang tunjangan/di gaji, digajina ku anjeuna bae. Tah sakitu kabalabahanana dina ngamajukeun agamana eta Tuan Anting teh.

Neraskeun deui carios Sadiin sanggeus di candak ku Guru tea, ka Tuan di carioskeun ti awitna lalakon Sadiin nu matak datang ngadeuheus ka Tuan hayang lebet ka agama Kristen

Teras di carioskeun ka eta Tuan, saparantosna Tuan ngamanah kacida bungaheunana, teras nya ku anjeuna di tampi, teu kenging ka mana-mana kedah cicing di bumi anjeuna bae.

Kitu deui ayeuna Sadiin sering pisan di wulangna carios tina Kitab kalawan di sakolakeun sangkan terang kana aksara, kitu deui ngaos eusina Injil, geus puguh tata agama Kristen teu aya anu kaliwat, nya teras dugi ka di banyuan ku eta Tuan sarta jenenganana oge di gentos,ayeuna lain Sadiin deui tapi PETRUS.

Kacarioskeun Bapa Petrus sanggeus narima pangbanyu, anjeuna ngaraos parantos ageung, dina badana oge parantos balig. Anjeuna ayeuna kagungan pangemut hayang kagungan pi batureun anu panuju sareng manahna. Lain teu aya mungguh piistrieun sanajan di dinya oge, tapi hayang nu kapilih ku sorangan.

-

kosong

Ti dinya nyarios ka hiji dulur nyaeta ngaran Bapa Paul hayang di pang milariankeun piistrieun anu sakadarna panuju.Nya dituduhkeun di lembur Cigelam aya hiji istri anu katingalna lungguh sarta kana damelna kacida wekelna. Eta teh geus teu indung teu bapa, pahatu, malah cicingna oge jeung dulurna.

Saparantos Bapa Petrus diwartosan kacida bungaheunana, basana: Iraha atuh bade kaditu ningalian eta istri ?

Nya tidinya ku Bapa Paul teras di sanggupan, ngan sateuacana urang iang teh, urang caritakeun heula ka Tuan yen urang gaduh maksad kitu.

Sanggeus kakuping ku Tuan kacida nyaluyuanana, tuluy dirapalan sakalian kumaha adat urang Kristen. Teras anjeuna dibanyuan, ari jenenganana digentos Marianah.

Kacarioskeun Petrus sareng Marianah parantos nikah. Tuan Anting nyaur Bapa Petrus, anjeuna dipasihan pangkat Guru Injil, malah kudu nguarkeun ka lembur anu di sebut Bojong Menteng caket tanah baduy bilangan Banten.

Sateuacana Bapa Petrus angkat, Tuan Anting nyuhunkeun bisluit ka Tuan Besar buat Guru Injil. Parantos kenging teras di pasihkeun ka Bapa Petrus. Saparantosna kitu teras Bapa Petrus di piwarang angkat ka lembur Bojong Menteng tea.

Anjeuna di pasihan gaji Rp. 40,00. Ayeuna Bapa Petrus parantos matuh di eta lembur sareng Ma Marianah. Malah kagungan putra nyikalan  pameget di jenengan Mika, henteu lami kagungan deui putra istri jenenganana Elkanah.

Tunda heula lalakon Bapa Petrus nu aya di pangumbaraan. Kacaritakeun Tuan Anting nu aya di Batawi. Anjeuna ngamanah-manah bingung sabab artosna meh seep anu di Bank karana ku anjeuna di anggo ngajalankeun agama anu sakitu seueur ngaluarkeun artosna.

Anjeuna teras nyuratan ka Nagri ka Perkumpulan Zending hayang di tulung. Tapi Perkumpulan Zending teh teu sanggemen ngluarkeun artos anu sakitu seueurna. tapi Tuan Antig panasaran, anjeuna bade angkat ka Nagri Belanda, sugan di pasihan tulung, kitu saurna.

Teras anjeuna nyarios ka sadaya murid yen anjeuna bade  balayar ka Nagri Walanda.

Kacaritakeun Tuan parantos dongkap ka Nagri. Teras anjeuna nyarios yen kamajuan Agama di pulau Jawa anu sakitu kamajuanana, tapi ngirong kana biayana geus samporet pisan. Upama tiasa nyukupan kana biayana bade di hubungkeun sareng didieu. Tapi jawabna ti Nagri teu sanggup upama kudu nyumpon-an mah, paling sanggup oge ukur sakadar nunjang dina kakuranganana.

Nya teras Tuan Anthing mulih deui ka tempat pangan- jrekanana.

Kacarioskeun di Nagri Duitschland aya Perkumpulan Apostolische, ceuk bahasa urang mah agam karasulan. Cariosna di Duitschland keur karumpulan aya nubuat, kieu: Geura teangan abdi Kami Anthing di Tanah Eropa, sarta geura saur ka dieu, ku Kami arek di jenengkeun Rasul pikeun di Pulo Jawa. kitu lahirna eta nubuat nepi ka tilu kali nyariosna.

Lajeng Kapala Rasul ngutus hiji pengurus ka Eropa  milari Tuan Anthing. Cariosna saparantos 15 dinten nembe kapendak.

Tuan Anthing kacida herana aya jalma teu wawuh-wawuh acan neangan urang, saurna. Derelek eta jalma nyarios ti mimiti nepi ka cacapna.

Tuan Anthing tadina ngalawan ka eta piwarangan tea. Tapi barang anjeuna eleh teras anjeuna ngiring sareng eta piwarangan tea ka tanah Duitschland. Didinya anjeuna kenging tilu sasih, cariosna.

Saparantosna anjeuna hayang mulih ka Pulo Jawa, teras pamitan ka Rasul Kapala.

Sateuacana anjeuna mulih, ku Rasul Kapala di pasihan pibatureun nya eta Istri / Nyonya anu sok  kenging nubuat ; saurna : “ Rasul, ieu istri candak ku maneh minangka batur barang gawe supaya nguatkeun ka maneh bari ngreugreugan ka jamaah di Pulo Jawa.

Sanggeusna Rasul Anthing nampi pangdawuh ti Rasul Kapala, anjeuna teu kuran-kurang ngahaturkeun nuhun kana jasa Rasul Kapala.

-

Papadaning kitu teu weleh anjeuna mindel kan maksadna nu jadi Rasul Kapala, ku dumeh anjeuna ngaraos kirang lalugina upami ngbantun pibatureun istri teu ngahalalkeun heula agama, naon di basakeunana ku dulur-dulurna nu terangeun upama tacan di tikah.

Tah ku ayana kitu ku Rasul Kapala  kamanah bener pisan eta maksud teh. Nya bubuhan lengoh pada lengoh kalawan andon suka sorangan ku Rasul teu di engkekeun deui, nya teras we di tikahkeun.

Saparantosna anjeuna nikah, enjingna teras pamitan ka sadaya nu mangkuk di dinya rehing parantos lami teuing ngantunkeun lemah cai. Kitu deui parantos ngaraos sono ka nu dikantun. lajeng anjeuna harita keneh oge mulih bareng sareng istrina.

Teu kacatur di jalana, ayeuna Rasul Anthing sareng ka dua Nyonya tea parantos kapendak deui  sareng dulur-dulur. Kitu keneh Bapa Petrus anu sakitu jauhna oge teu katinggalkeun ngabageakeun kanu nembe sumping, kalawan kacida ngarasaeun bungahna ku dumeh nu jadi dununganana ayeuna tos kagungan tugur pajuaran.

Sanggeus ditetek sadayana nu kalampah ku anjeuna kalawan di terangkeun ka sadayana nu janten muridna, tina hal aturan-aturan ayeuna anu kudu di sanghareupan, taya lian ayeuna urang teh geus ngahubungkeun sareng agama di Duitschland nyaeta karasulan. Samalah Kapalana oge pangkatna Rasul. Kitu deui kayakinan agama teh di barengan ku nabi nu sok kenging wahyu ti Pangeran.

Jelas di tetelakeun hal kayakinan agama teh anu keur di sanghareupan kalawan murid-murid kitu deui para Guru Injil oge kacida mupakatna, dugika ti harita kacida tambah regregna di wewengkon; Jakarta, Cigelam, Kampung sawah, jeung Gunung putri estu kaerah ku Rasul Anthing.

Tunda lalakon kamajuan agama Karasulan di dinya waktu harita. Ayeuna neraskeun lalakon nu jadi Kapala eta agama.

Ti saparantos di jenengkeun Rasul padamelanana heunteu pisan reureuh saban sasih ngalongokan,

ka saban-saban tempat mendakan ka sadaya dulur-dulur boh nu tebih kitu deui nu caket teu aya nu kalarung.

Dina hiji waktos anjeuna bade Angkat-angkatan deui. Rupina bade ngabujeng ka dulur-dulur tea, parantos di takdirkeun kitu ku nu Kawasa nalika anjeuna bade tunggang trem, kaleresan bae wet jubahna teh tikait kana eta tangga trem, atuh anjeuna teh ti kudawet teras geubis sapada harita. Sanajan rea nu nulungan, tapi teu tiasa ka jait margi sampeanana parantos aya di kolongeun roda-roda trem. dugi ka les anjeuna teu emut.

Nya saparantosna aya di rumah sakit nembe anjeuna emutanana pulih deui sacara biasa. Tapi ana ningal sampeanana teh parantos potong ka geleng ku trem tadi.

Kacarioskeun ti harita Rasul Anthing teu tiasa menyat deui dugi ka dugna di Rumah sakit di antarankeun kageleng ku trem tadi.

Kacarita nu mangkuk di bumi Nyonya kitu deui dulur-dulur sadayana saparantos nguping beja nu jadi sirahna teh ngantunkeun teu kinten bae reuwas sareng prihatina, lir domba teu aya pangangona. Moal boa leresan eta ku urang oge ka garalih, sanggem paripaos tea mah:  bale Bandung asa suwung panca niti asa sepi, di tilarkeun ku ratu adil.

Kocap sanggeus Rasul Anthing teu aya, Nyonyana oge teu lami  teras bae mulih deui ka bali geusan ngajadi. Kitu deui Bapa Petrus nu keur aya di Bojong Menteng tea.

Ayeuna mah Jamaah teh kurang maju saditilarna ku Rasul teh. Malah ka beh dieuna mah mung kantun sasomah pisan, nya eta Bapa Kamad anu masih ngiring-ngiring ka Bapa Petrus, katut sakulawargana.

Ari para putrana aya opat, anu jenenganana, anu kahiji Yosanah, kadua Pilipus, Katilu Marta, kaopat Mariah. Ari istrina teu kasebat jenenganana, margi nu ngarang teu terang. Ari nu kaopat mah di tikahkeun ka Bapa Armin.

Tah ieu sadayana waktos Bapa Petrus mulih deui ka Leuwidahu aranjeuna oge sami ngiring. Sanggeus rada lami ayana Bapa Petrus di lembur matuh, ngaraos taya Taya pisan pajengkeunana.

Nya teras anjeuna ngamanah bade teras milarian padamelan deui. Teras anjeuna mios nyalira bae.      Kaparengan anjeuna mendak padamelan di Jakarta, kana Mantri cacar. Saparantos matuh rada lami, kulawargana di candak sakalian. Kacarioskeun sateuacana ngalih ka Jakarta, nalika di Leuwidahu keneh, Bapa Petrus kagungan deui putra pameget anu katilu, jenenganana Idris.

Henteu terang kenging sabaraha lami jadi mantri cacarna, ayeuna parantos liren deui tina demelna, teras ngalih ka Bogor, nya ngadamel kana mandor Rumah Sakit Biri-biri. Di dieu oge henteu lami, anjeuna ngamanah-manah hoyong ka Sukabumi, margi aya wargina nu jenengan sariun tea.

Eta Sariun, keur waktos bapa Petrus di Tuan Anthing, ngiring sareng tuan Padri anunjenenganana Heneman. Jadi bapa Sariun mah sanes murid tuan Anthing, tapi Protestan. Kitu deui rayina anu istri nyaeta Karsiah sami agamana Protestan keneh sabab ditikahna ku guru Injil di Cikuya jenenganana Sonjat. Ari Pilipus putrana bapa Kamad disakolakeunana ku bapa Petrus di Depok. kitu cariosna

Sanggeus gilig manah bapa Petrus, teras badami sareng kulawarga yen urang nyusul Paman maraneh di Sukabumi.Kacarios ayeuna bapa Petrus parantos aya di Sukabumi, matuh di bumi bapa Sariun anu dilandih jenenganana jadi bapa Simon keur waktu dibanyuan ku tuan Padri. Sanggeus rada lami bapa Petrus nganjrek di bumi saderekna, teras sumping hiji tuan jenenganana tuan Van Den Berg mopoyankeun yen anjeuna bade muka tanah di bilangan Cikembar, sarta upama aya anu harayang milu, meunang, tangtu ku kaula diajak pindah ka dinya. Saparantos bapa Petrus sareng bapa Sariun nguping, pangajakna tuan teh kamanah pisan, nya garilig niat pindah sarerea, karana di dinya kuemutanana tiasa muka/ ngagarap tanah pikeun ngahasilkeun tina tatanen, sajaba tina milu kuli-kuli muka kontrak tea.

Teu kacarios sabaraha lamina ti harita, ayeua sadayana parantos ngaralih ti Sukabumi ka Pangharepan bari teu barosen-bosen maruka tanah digararap bari dipepelakan ku rupa-rupa tatang–

kalan anu pantes keur pilemburan. Kitu deui tegalan dibaruka pepek ku palawija; cikur jahe sing serekeh, kacang roay ngagarupay, buncis hiris ngajajar beres, hirbis koproy bangun aremoy, bonteng samangka misah tempatna, sing arembat heuleuran huma dipelakan ketan nangka pare gede papaesna, bleg pisan halis ipri nu medal ti kahyangan. Sakitu karaharja-anana patani di Cikembar, cukup upama mung diteda kahasilan tina tatanen. Lami ti lami Cikembar beuki jembar, nu tani sugih mukti, padagang balaleunghar, urang kontrak sing barakatak, bayaranana arundak. Atuh ku kitu tea mah tuan ge beragama, nyaah ka somah heman kasasama.

Tunda carios kamakmuran kontrak, ayeuna malikan ka tukang nalika bapa Petrus di Sukabumi. Anjeuna kagungan deui putri jenengan Isnah. Saparantos ngalih ka Cikembar gaduh deui Sarpiah, Ispah, Saripah, Asipah. Sadayana istri. Jadi kumlah putrana nu aya, tujuh. Ari Sarpiah mah maot nuju alit keneh.

Ayeuna putra bapa Petrus parantos arageung. Mika, Elkanah parantos dewasa. Malah Elkanah mah teu lami ti harita teras ditikahkeun ka hiji Guru jenenganana Laban, nyepeng damelna di Banten, nya teras di candak ku carogena. Kitu deui Mika, teu lami teras ditikahkeun ka istri ti Gunung Putri jenengan Raikah.

Ayeuna bapa Petrus teh mungguh kana lahirmah teu aya kakurangan boh sandang pangan, kitu deui ku tedaeun kenging di sebat salieuk beh. Tapi bubuhan bapa Petrus teh dihenteu-henteu oge Guru Injil, dina ngajalankeun agama oge tapis pisan. Undak usukna ngolah rahayat, upama dibandungan pimpinan tuan harita pohara katoler-tolerna perkara kabatinan, malah rebut huripna teh ngan kana urusan kajasmanian bae; Tiktik aji bilang raga, mere maweh sidekah / kayaahan teh leungit pisan. Nya tidinya bapa Petrus ngaguligah manahna hayang m=ngamajukeun kana agama teh teu cukup ngan saukur bisa datang ka Gareja bae, tapi kudu bukti samiuk silih pikanyaahna dina sagala hal. Ku sabab kitu, bapa Petrus ngayakeun pangajak ka tatanggana yen ulah ngeunah-ngeunah sakieueun bae mungguh ngalampahkeun kana agama teh tapi kudu diberengan

ku mengaloh teu petot-petot neneda ka Allah supaya urang bisa nyingkahan tina lampah kalumbrahan anu mawatna hiri dengki jail kaniaya, ka sasama teu aya harga, sumawon ka nu miskin teu aya pisan aji. Eta urang ulah kitu, saamiuk satunggal saliring lampah anu sapuk sareng kersaning Allah , ku urang kudu dipilampah.

Kenceng karep gede tineung, bapa Petrus ka tilu kali ieu ngajak  ka tatanggana anu dareukeut. Rupana disapukan ku Pangersaning Pangeran, buktosna meh sadayana salembur eta ngararobah lam-pah bari ngamuhunkeun kana kabatinan ku jalan remen babadamian, bari diwurukkan dieces-eceskeun naon nu jadi kawajib-an umat-umat Allah. Meh unggal peuting bapa Petrus sareng anu pada ngamaksud ngarobah kana hirup anyar pada karumpul samiuk   dibarengan sambayang bidston, pindah-pindah imah, kitu bae.

Kacarios ayeuna di Pangharepan parantos gentos deui kapala agamana, nyaeta nu kasebat tuan Padri H. Muller. Atuh tuan teh teu patos terangeun kana kaayaan antara rahayatna sareng anu ngabogaan tujuan kitu kieu. Lami ti lami kahudangan bapa Petrus tambah maju, samalah ayeuna rea pisan anu marilu. Tio nu anggang oge sok aya nu datang. Katambah beuki dieu rea pisan hal-hal anu araneh dina kumpulanana bapa Petrus, nyaeta sok kasumpingan Roh Suci nu netelakeun kaayaan nu can kalakonan. Ku hal kitu ayeuna kumpulanana beuki reug-reug bae. Samalah dina hiji waktu mah aya kajadian di antara hiji jalma, bapa Rustam ngarana; jalma anu tadina mah bodo pisan, malah nyariosna ge balilu, sumawon dina sambayang oge teu tiasaeun. Pareng keur waktu kumpulan di Gereja anu baku bareng sarerea, dumadak bapa Rustam teh kalinggihan ku Roh sarta ngalahir bedas pisan, nya kieu pokna : “Geura tarobat, sabab Karajaan Allah teh geus deukeut!” Bari engklak-engklakan.

Teu lami sumping tuan Padri ka Gareja. Atuh teu kira-kira reuwaseunana bari heran ningali ka nu keur gogorowokan, teras nyaur : “Eh Rustam, naha maneh teh edan?” Bapa Rustam malik ka tuan sarta lahir-Na: “Kami teh lain edan, maneh ge geura tobat! Mata maneh lolong kalamudan,” bari ditunjuk-tunjuk panonna. Tapi ari jalma-jalma anu percaya mah brek pada sarujud bari diberkahan.

ku mengaloh teu petot-petot neneda ka Allah supaya urang bisa nyingkahan tina lampah kalumbrahan anu mawatna hiri dengki jail kaniaya, ka sasama teu aya harga, sumawon ka nu miskin teu aya pisan aji. Eta urang ulah kitu, saamiuk satunggal saliring lampah anu sapuk sareng kersaning Allah , ku urang kudu dipilampah.

Kenceng karep gede tineung, bapa Petrus ka tilu kali ieu ngajak  ka tatanggana anu dareukeut. Rupana disapukan ku Pangersaning Pangeran, buktosna meh sadayana salembur eta ngararobah lam-pah bari ngamuhunkeun kana kabatinan ku jalan remen babadamian, bari diwurukkan dieces-eceskeun naon nu jadi kawajib-an umat-umat Allah. Meh unggal peuting bapa Petrus sareng anu pada ngamaksud ngarobah kana hirup anyar pada karumpul samiuk   dibarengan sambayang bidston, pindah-pindah imah, kitu bae.

Kacarios ayeuna di Pangharepan parantos gentos deui kapala agamana, nyaeta nu kasebat tuan Padri H. Muller. Atuh tuan teh teu patos terangeun kana kaayaan antara rahayatna sareng anu ngabogaan tujuan kitu kieu. Lami ti lami kahudangan bapa Petrus tambah maju, samalah ayeuna rea pisan anu marilu. Tio nu anggang oge sok aya nu datang. Katambah beuki dieu rea pisan hal-hal anu araneh dina kumpulanana bapa Petrus, nyaeta sok kasumpingan Roh Suci nu netelakeun kaayaan nu can kalakonan. Ku hal kitu ayeuna kumpulanana beuki reug-reug bae. Samalah dina hiji waktu mah aya kajadian di antara hiji jalma, bapa Rustam ngarana; jalma anu tadina mah bodo pisan, malah nyariosna ge balilu, sumawon dina sambayang oge teu tiasaeun. Pareng keur waktu kumpulan di Gereja anu baku bareng sarerea, dumadak bapa Rustam teh kalinggihan ku Roh sarta ngalahir bedas pisan, nya kieu pokna : “Geura tarobat, sabab Karajaan Allah teh geus deukeut!” Bari engklak-engklakan.

Teu lami sumping tuan Padri ka Gareja. Atuh teu kira-kira reuwaseunana bari heran ningali ka nu keur gogorowokan, teras nyaur : “Eh Rustam, naha maneh teh edan?” Bapa Rustam malik ka tuan sarta lahir-Na: “Kami teh lain edan, maneh ge geura tobat! Mata maneh lolong kalamudan,” bari ditunjuk-tunjuk panonna. Tapi ari jalma-jalma anu percaya mah brek pada sarujud bari diberkahan.

Pareng pisan waktu baradami harita, aya hiji dulur jenenganana pa Armin anu rada beunang dipercaya caritana. Anjeuna masihan pamandangan, saurna: Entong ka Jampang, di dinya teh hese cai katambah jauh pisan ka kota, mending oge ka Ciranjang sabab kuring parantos lolongok ka ditu, rea pisan tanah nu kosong, babakuna dibilangan Desa Gununghalu masih leuweung geledegan. Kitu deui pisawaheun rea rawa-rawa lalega pisan, pantes upama di jieun sawah.” Kitu saur bapa Armin masihan terang ka sadaya. Teu wudunu ngarupingkeun eta beja aratohna. Saur manuk ngarageman, mo rek talangke deui, kajeun nilar harta banda, tinimbang teu lalugina hirup pinuh ku curiga, nu ngakala ninggang salah. Ku kituna bapa Petrus mah asa mobok manggih gorowong, asa lega mamanahan. Ti dinya anjeuna mutuskeun urang gancang sasadiaan pibekeleun. Naon nu payu barang-barang di dieu urang duitkeun, larang murah tong dipikir. Kacarios ayeuna geus mupakat sarerea baris pindah ka Ciranjang. Tapi samemehna urang kumpulan heula, urang neda paidin Gusti; bari teu petot neneda buktikeun ku sambayang bidston, sangkan janglar nu di seja. sapada harita Nubuat teh nyoara dina lambey ma Marianah, saurna: “Tuh, gundukkan maneh teh anu luhur, geura bral ariang sakumaha nu di seja, karana Kami nyareng-an ti heulaeun maraneh, kalawan Kami bade maparin tanah nu lubur leber cisusu jeung madu!”

Tutas wengian kempelan, pamaksudan teu rarobah deui. Nya teras enjingna masing-masing pada ngajarualan harta banda, baoh imah sakur nu luar kontrak , kacida dimumurahna. Tapi najan kitu teu dipikir panjang, da geus ilahar nu ngajual lelang mah. Ayeuna kacarios bapa Armin ngajak 23 jalma pikeun indit ti heula, maksudna sateuacanna sarerea pndah teh , geus bisa nyadiakeun pitem–pateunnana. Nya ngadamel saung panjang, dihateupan ku balubur. Ari tihangna pondok diceblok, bilikna eurih dijepit. Kasurna, runtah pangoredan diampar diayab-ayab. Tepasna lenang bulistir, jukut dikurud tunggul dirurud, tanah diratakeun, akar eurih ge beresih, taya bahan pibahayaeun.

Tunda nu keur lolongok. Kacarios, beja pindah ka utara ku tuan kauninga. Tuan kacida benduna. Lajeng miwarangan supaya saka-

kauninga. Tuan kacida benduna. Lajeng miwarangan supaya saka-

behna ayeuna geuwat arindit, juragan parantos teu kersa kaci-cingan eta jalma. Leuwih hade ti ayeuna bade kudu nyaringkah ti payuneun juragan bisi juragan kabujeng bendu. Parentah tuan poe eta keneh geus katarima ku bapa Petrus katut dulur-dulur sarerea.

Ti dinya baradami bari nunggu nu keur lolongok, leuwih hade urang nyingkah bae ka nu anggang ti dieu. Nya urang muru ka Cibanteng bae tanah bapa. Di dinya urang numpang bae saheula- anan bari nunggu Armin datang. Teu lami saparantos ngalih ka Cibanteng, baopa Armin sumping ngawartoskeun yen tempat teh geus sadia sakadar mamantenan. Tihang ceblok tina haur, hateupna eurih balubur; runtah minangka kasur tamba garetek munsare. Tepasna mah lening beresih di kored di ratakeun, sangkan gampang mun rek kumpulan ngampar samak bari sila, ngariung bari arudud. Tutas nu laporan ditema ku nu sanggup indit ti heula. Nu baris mawa munding leuwih hade poe isuk. meneran poe kemis kuring indit ti heula, sabab ingon-ingonan mah kudu leumpang, tangtu datangna pandeuri.

KACARIOS BABADAMIAN PARANTOS PUTUS.

Dina tanggal 13 Juni 1903, meneran poe Saptu, bareng pisan jeung aleutan barang nu di bawa ku sababaraha roda, di antarana13 sado nu beunang ngahaja mesen. Ti Sukabumi, tabuh dalapan geus anjog ka Bojong. Ngarah tereh nepi ka Sukabumi, cluk clak tarunggang sado sabawana-sabawana. Ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut, bleg pisan nu arak-arakan. Estu gilig sapaneja, teu tibelat saeutik-eutik acan kana harta nu di tinggal, cacak pare keur karoneng, pucuk mah meujeuhna petikkeun; teu di pikir di jual dimumurah, asal gancang tinggalkeun inya. Kacatur, sadongkapna ka stasion Sukabumi. Bapa Petrus urus-urus ngatur ongkos sacekapna kanggo karcis ti Sukabumi ka Ciranjang. Henteu lami ngantos kareta. Sadongkapna kareta teras lalebet sadayana. Teu kacatur nu mabok, lanjung lieur dina kareta, ngan karaosna leuleus lalungse, babakuna asup angin katambah kirang sare.

Ayeuna kareta api geus anjog ka stasion Ciranjang. Atuh henteu hese deui dina taruruna, sanajan aya oge anu bari ngais murangkalih alit, sabab nu ngaturna beres tisaencanna anjog ka stasion Ciranjang oge geus tarapti. Nu jaragjag mah ngajogokeun cacandakan eta. Kitu deui barang-barang mah geus aya nu baris nurunkeun. Anu matak bareng pisan jeung beresna nurunkeun barang-barang, jalma oge salamet sadayana, teu aya nu kakantun boh barang sumawona jalma. Saparantos sadayana beres, ti dinya jung neruskeun deui perjalanan.

Ti stasion teh lempeng ngaler saeutik, prok tepung sareng jalan besar. Ti dinya mengkol ngatuhu nya mapay anu ka wetan. Pungkal pengkol teu kacatur, mudun najak kitu deui. Sanajan bari angkat sampean digugusur, teras bae teu liren-liren mapay jalan ageung kurang leuwih 4 Km. jauhna ti stasion tadi.

Jog anjog pengkolan jalan desa. Teu bade eta jalan teh bakal aya kamahiranana, sabab waktu harita mah eta jalan teh estu selepat selepet pungkal pengkol nurutkeun irigasi. Sakapeung kaselang ku luluncatan lantaran cai-cai ti rawa-rawa nu dareukeut minuhan jalan, nya ngocor ka irigasi tea. Ath kapaksa ari nu ngais mah jalana teh kudu turun upama teu aya nu yelangan di mana luncat mah. Ayeuna perjalanan kitu moal kurang ti 3 km.tapi teu karaos  awahing ku hookeun ningal sajalan rea pisan bedana mungguh kaayaan sareng di Cikembang mah.

Kitu deui rarasaan naha di lebah dieu mah, cacak ti beurang, make aya sora colak-colek, tuwewuw naon sagala, mani asa karareueung pisan sanajan dijalan keneh. Sok komo mun geus anjog ka tempat picicingeun, boa-boa leuwih sieuna teh. Emh, mugi-mugi bae ulah lebah dieu pitempateun teh, cek, pikiran ti salasaurang nu borangan.

Anjog ka lebah dieu, ti antara lalaki geus aya nu tanjak-tunjuk bangun nu nuduhkeun pitempateun teh lebah dieu. Teu salah sangka. ti dinya Bapa Petrus dituduhkeun ku Bapa Armin yen ieu nu bakal dipake tempat matuh teh. Malah itu saung nu ngahaja keur saheulaaneun sarerea ngarereb.Tuh tangkal malaka nu

cicirena. Mangga urang barebenah!                                         Ti dinya leut rada ka beh tonggoh ngajugjug pa panaduhan                                                       tea.ana gok teh bener pisan ngan saukur keur saheulaaneun.Sakitu jalma rea teh di dedetkeun kabeh ka eta saung . Atuh jauh pisan kana pimahieun mah. Paparar dapur mah teu pisan kaampihkeun,patulayah di luar bae.malah rereana parabot nu teu kabenahan mah tuluy bae diaranggo pipinding angin, di tumpuk-tumpuk.

Cacak teu kitu ge lalaki mah reahnu di luar bae.Iwal barudak nu di beunian teh, sabab rea pisan reungitna. Mah sawewengi teu tariasaeun mondok, kaselang ku ting korosok sajabana ting jaletit teh dicoco reungit, marerengna geus kantenan.

Ku kituna mah nya pantes tihang saung tina haur, hatepna eurih balubur, bilikna kaput jalujur rogok talina ka luhur cuscos nyogokan tuur.  Mun malik, batur ge usik, katoker katojer-tojer, pasesedek kana tihang ge adek. Bulu haur teu kacatur, kagedag-gedag marurag retep nambahan garetek, mulikbek haseup sekebek,bebekis lir nu keur nangis, kolot budak sing puringis.

Moal panjang di crita kasusah peuting hartina, Bapak Petrus bungah manah ninggal tempat upluk aplak, matak kabita mun pepelakan.Tanah weutteuh jeg solokan.Pisawahheun rawa ngaplak.ngajingjing lembing enjing-enjing mulih ngalongok nguriling.

Kacarios, sadaya parantos gugah, Bapa Petrus ngajak sarerea tatan-tatan pitempateun. Kitu deui bahan urang ngarala da deukeut teu jugala.Prak sadaya milampah, pahibut pasegutsegut ngala bahan sewang-sewangan.

Tunda nu keur tatahar bumetah. Kacarita kalakuan Tuan Kontrak.  Saditilarna ku rahayat, ngaraos dihina campelak. Sanaos kontrk teh untung, teu kalis ku hasil merekis, boh pare keur karoneng pepelakan keur buahan, teu punah tetep tugenah. Nyarita keneh oge anjeuna ngintunan serat anonim di tujulkeun ka Juragan Wadana, Saurna:”Omat, wadana, ulah rek nampa eta baraheula. Pindahna ti pangharepan nguruskeun antep-anteupan, barontak ka Nagara.Pang tidieu di usir,supaya boga pamikir ulah jongjon teuing dikir.

Satampina serat, terus Wadana ngadongkon ka saung panjang datang, maksadan bade ngalawingan.Beramparan samak sahaeulay. Di tepas teu nganggo bale,paungku-ungku Bapa Petrus,Juragan Wadana nu carita, saurna:”Pa Ika dianonim ku Tuan ti Sukabumi.Kahayangna ulah ditarima ku kaula. Tapi upama enya Pa Ika hayang matuh di dieu, di tampa pisan ku kaula. Bisi harayang tanah,pek baruka pepelakan sakadugana

Kitu deui pisawaheun teu ngaborong, kumaha Pa Ika bagikeun sing walatra.

Tutas Juragan Wadana pituah, teris anjeuna pamitan mulih.Ti Rawaselang mungkar.

Kacarios, sanggeusna Bapap Petrus nguping kasauran Juragan Wadana tea, kacida barungaheunana.Sarena gilig pada hayang bumetah, sarta pacang sewang-sewang pada garaduh akuan tanah, boh pilembureun kitu deui pisawaheun. ti ayeuna keneh geura prak ngamarimitian tatanen sapangabisa lumrah Pak Tani.nya teu wudhu taunan eta keneh geus aya nu kahasil ka yaning palawija mah, cacakan dina taunan eta keneh geus aya nu kahasil kayaning palawija mah, cacakan dina taunan eta keneh geus ksorangan kalaraan,babakuna pnyawat maliria.

Tapi teu ngajebol tina tatanen mah, ceuk paripaos: Isuk ingking sore gibrig. Malah tompo-tempo nirisan di kotakamn.Tapi teu weleh isuk manggul pacul sore murungkut, ngbrog ngabongkar hunyur.

Para istri ting balibrig ti isuk tug ka magrib.Pecengkul nyunyuhun nyiru, di tiung nuruban gelung, malar teu katinggal ku nu belanja . Harga opak di murahkeun asal teu mireungeuh ka beungeut isin pedah garimbal.

Gelung oge kapan jucung. Ditiung  teh sanes kalauran Pasantren,padahal gundul tong katengen.Skitu teh wanoja. Mun temah sedang wirahma, para sepuh mah puguh teu ewuh, teu ngaheulas ku waruga, gundul mah teu matak hina teu kudu di pinding-pinding tetela sesa malaria.

Teu panjang di picatur kalaraan waktu harita.Teu matak

aral ngarasula sabab cunduk nu di maksud, ngolah agama estu merdeka. Teu kahalang ku manusa, ngabakti siang wengi taya nu jail hiri dengki; Selang-selang tina damel, tengah poe kararempel teu petot sambayang bidston. Mun isuk memeh indit kana damel sewang-sewangan, ka engki neda pamit, hayang hayang di sambayangan sangkan sadaya di raksa salamet ti padamelan.

Sakitu kasamiukanana jalma-jalma jaman harita, ayeuna kacarita Bapak Petrus, kagungan maksad hayang mapay murid baheula. Kitu deui rerencangan nalika ngiring Tuan Anthing naha masih mangkuk kayakinanana atawa robah pandangan.

Nya teras anjeuna angkat ka Batawi, nu di jugjug kampung Bandan, sejana mapay murid Tuan Anthing .Nya di dinya kenging keterangan yen padamelan Rasul Anthing teh diteraskeun ku Rasul Hanibas. Atuh Bapa Petrus teu kinten panasaraneun-ana,naha enya atawa sarua satujuan sareng Tuan Anthing. Upama enya sarua ,tangtu eta teh sabatur keneh sareng nu ku anjeuna dijalankeun ayeuna.

Kacarios, sanggeusna Bapa Petrus kagungan manah kitu, teras anjeuna mendakan Tuan tea, pareng pisan Tuan Hanibals teh waktos harita nuju aya di bumi, Nya teras anjeuna babandantenan rehna ti ngawitan panguaran Rasul Anthing, Bapa teh terus dugi ka ayeuna nuluykeun sakumaha nu dipesenkeun ku anjeuna.

Bapa ayeuna parantos ngabantun puluh-puluh reana jalma nu sapangakuan sareng Bapa. Ti Pangharepan tanah pangawulaan nya ngalih ka Rawaselang Ciranjang Cianjur.

Lajeng Tuan misaur ;” Atuh upama enya anjeun teh dulur Anthing “, kapan kaula oge utusan ti Nagri anu kudu neruskeun padamelan Rasul Anthing di Pulo Jawa. Kalawan Kaula oge teu ngarobah teu nambahan/ ngurangan ka anu ku Rasul Anthing di jalankeun. Ana kitu perlu urang teh ngahijikeun naon nu jadi kawajiban urang.

Sapantosna leres babadantenan harita, kalawan parantos sami marupakat ngahijikeun tujuan agama nyaeta Karasulan mung kenging dua wengi  Bapa Petrus dipanyabaan , teras mulih deui ka Rawaselang. Sasumpingna teras anjeuna cacarios ka sadayana reh

ayeuna parantos gaduh batur di Batawi, kalawan di kapalaan ku Walanda, jenenganana Rasul Hanibals .Malah anjeuna oge upama aya tempo bade ngalongok ka dieu, saurna.  Sadayana ragem saur manuk mupakat sakumaha maksud Bapa kitu.  Di Rawaselang ayeuna parantos ngagaduhan tempat kabaktian  /Gareja, cacak di jieun tina awi mah hartina geus teu hese teuing ari kekempelan teh, boh beurangna sumawona peutingna; kekepelan bistona beuki getol, kitu deui nabuet-nabuet beuki dieu beuki tambah ludeungna dina ngutarakeun pasihan roh teh.

Kacarios dina hiji waktu kadatang hiji Tuan jenengannana Tuan Stypers, asal ti Karangyoso, nyaeta murid Karasulan Rasul Sadrah.

maksudna seja lolongok hoyong ngalih saputra garwa bari niis-niis pikir di kampung karana anjeuna pensiunan kumpeni. Sanggeus karujukan ku Bapa Petrus anjeuna mulih deui neang kulawargana; Nyaeta : Bapa Joyo. Ma Rustinah sareng Bapa Sepas; Katilu rencang ieu sadayana  suku jawa.

Kacarios, saparantosna Tuan Stypers matuh sarta gaduh bumi di Rawaselang, anjeuna hoyong ngabantu ngalegakeun agama; Nya teras angkat deui ka Karangyoso, sejana ngabantun kulawargana nu di kantun; Atuh sasumpingna deui teh  nyandak deui rencang nyaeta : Bapak Nakum saputra garwana anu sami bumetah di rawaselang, malah kulantaran somahna parantos nambahan Tuan Stypers age diangkat kana pangurus Jamaah, dijenengkeunana ku Rasul Yakob, sabab Rasul Hanibals mah parantos teu nyepeng kawasa, digentos ku Rasul Yakob ti Batawi keneh.

Kacarioskeun, kumargi kacida majuna dina ngaheuyeuk jamaahna, Tuan Stypers di taekeun jabatannana jadi Oudste, upami di gentos basa mah “ Sesepuh Agama “. ngan kacida  nu ngarang oge manghanjakalkeunana ka eta Tuan, ku dumeh kaayaan kitu teh teu lami, babakuna mah rea-rea hal nu ngalantarankeun ka anjeuna hayang ngalih ti Rawaselang; Duka dumeh kenging padamelan, aya saeutik-eutikeun ngocor kahirupan tina gajih; Sabab ti sangalihna anjeuna ka Pasir Tajur, teras barang damel didinya, kulawargana ge ngiring, ngan teu sadayana.

Tunda lalakon Tuan anu bumetah di kontrak, ayeuna urang nyarioskeun anu katukang, nalika Bapa Petrus di Pangharepan.

Para pamaos tangtos emut, dua putra anu parantos kurenan nu kahiji pameget , nu kadua istri; nu kadua ieu anu bade dicarioskeun. Kapungkur, saparantosna ditikahkeun ka hiji guru di Banten, teu lami di Bantena, nya ngalih ka Cirebon, ma”lum ari guru padamelanana tara tetep, ti dinya ngalih deui ka Tasikmalaya, terus di alihkeun deui ka Ciamis; Atuh matak wowotan pangemutan guru Laban kieu-kieu teuing mah,keur  ribrib teh ku putra, padamelan ungkrah-angkrih bae

Bakat ku bosen ngayonan parentah pundah-pindah, Guru Laban badanten sareng istri: “ tinimbang kiu mah urang leuwih hade urang nuturkeun bapa bae pindah ka Ciranjang, nya karujukan ku istri / Ibu Elkanah harita.nya teras nyuhunkeun liren tina damelna,anu alesanana hayang tani ngiring sareng nu janten sepuh.

Tunda carios nu bade ngalih; Ayeuna kacarioskeun anu di lembur keur meujeuhna aya dina kareugreugan mungguh dina agama, malah putra bapak Petrus, Mika sareng Idris , parantos jadi Diakon; Ari Idris mah harita teh diangkir ku Rasul Yakob, seja ngabantu ngajejeman di Cimahi, margi di Cimahi oge aya Karasulan, satuluyna Rasul Yakob oge ngalih ka Cimahi.

Bubuhan Idris teh jalmi terpelajar, dina nawiskeun bubuden, kitu deui pangartos teh gancang pisan kaanggona ku Rasul, dugi ka anjeuna diangkat janten Oudste di Cimahi.

Geus kersaning Pangeran, Ma Marianah anu keur cepet wekel ngagem kanabian sarta di bantu ku dulur Railan, upami tiasa di tawar tea mah, naha di paparin panyawat anu kacida ripuhna dugi ka teu tiasa menyat deui, ngantunkeun para putra kitu deui kamajengan agama; Atuh teu kinten waktu harita saredihna, sok komo nu janten caroge prihatin kabina-bina; tapi sok sanajan kitu, bubuhan akhi pasantren ti aalit, akhli tapa ti bubudak, teu kapendak dugi ka aral ngarasula ku sadaya pasihan Pangeran, sabab teu aya hiji padamelan anu teu dikersakeun ku Mantena, kitu deui nu jadi emutan Bapa waktu harita.

Henteu lami ti harita, Bapak Petrus mendak kabungahan, dumeh putrana anu papisah sakitu lamina datang kalawan hayang tumetep, kitu saur Ibu Elkanah (Istrina Bapak Laban nu liren tina janten Guruna  ) dina cariosanana; Malah rerncanganana oge anu ngahaja candak ti Tasik bade teras ngiring ngalih nyaeta :

Madriya, Ma Tarjiah sareng Tarsijan putrana; Tapi ari Madriya sareng istrina teu lami ngalih deui dumeh teu tahan ku panyakit sareng kasusahan, ari Ma Tarjiah mah betaheun da teu aya tuturkeuneun saliah ti Guru Laban sareng teu aya pikamelangeun di Tasik oge, margi teu sanak teu kadang teu caroge-caroge acan, atuh ana pruk teh aya duda anyar, nya eta Bapa Petrus tea teu bade panjang dicarita, nu nuju halegar manah, bilih matak hapa laja; ku kituna mah : keusik turun batu naek, engki purun eni mah komo daek nya ti dinya Bapa wakca ka sararea, rek ngarangkep ka urang deukeut, ka panakawan mantu Laban. Atuh saur manuk sararea pada doa, rahayat mah emprak-emprakan, wireh Bapa purun kalbu, mikaheman randa anakan.

Ayeuna kacarita, oleng panganten teu katiten, reugreug deui manah Bapak geus aya nu ngaladenan, dimana kumpul aya nu ngatur, undak usuk pangeusi dapur, kitu deui padamelan kanabian geus aya deui gantina pisan, turun ka putra nu nembe datang, Elkanah sering ngawejang, netelakeun kamajuan; lampahkeun katunggalan, mikanyaah kaduduluran, sabab mengke ti maneh bae bangsa deungeun teu bisaeun ngawasa kana agama, Ti kandang hayam datangna Rasul utusan ti luhur. Omat arimankeun ku sadaya, ulah rek pukah subaya.

Kacarita ti antara putra Bapa Petrus, aya nu kacida nitenanana kana piwejang ieu, katambah boga dadasar ajaran ti Bapak,, dugi ka di catet dina ati sanubari anu bakal moal poho-poho; sanes kana ieu bae, tapi rea-rea deui piwejangnu sanesna nu kacida di imankeunana ku Bapa Mika teh; Kitu kakukuhanana kapercayaan Bapa Mika  kana Soara Nabuet teh, ari adat istiadatna ceples ka rama, kasasama teu campelak, teu panasbaran atawa gumede estu sabar daria; Ari lampah teu rea tingkah ku dulur sahandapeun oge eleh; Atuh ku kituna mah komo ayeuna geus jadi kapercayaan nu jadi kolot, malah ku Rasul oge kaanggo, pangkatna di taekeun kana Priester ; malah dina piwulangna nu masih keneh kadenge tina hal kaduluran kieu: “ Mikanyaah teh kudu aya bedana jeung nu lian, boh kuli atawa ngulikeun ulah sarua jeung anak dunya, titik aji bilang raga nu kitu mah anak dunya, ku urang kudu di singkahan “. tah kitu nu kacida hadedengekeun keneh nasihat Bapa Mika teh .

Kacarios, Bapa Petrus, henteu lami sanggeus nikah tea teras katerap gohgoy, teras aya deui panyawat tereng, atuh sanaos di ubar-aber oge, sareng dijaga supados teu kateterasan oge,  wuwuh ripuh katingalna panyawatna teh; dasar takdir ti nu suci kudrat ti anu kawasa kalawan dibarengan papasten anjeuna kedah mulih ka Gusti mulang ka Rahmat Allah,  lajeng anjeuna pupus nilarkeun putra-putu kulawarga sadaya; Jamaat kantun tibelat, bale bandung asa suwung pancaniti asa sepi ka tilar ku komara.  Jungjunan nu tos ngantun teu panjang di carios nu sedih kinkin.

Ayeuna urang teraskeun, putrana nu keur aya di pangumbaraan Cimahi tempatna mandi,Oudste Idris kacarita. Anjeuna ngamaksad ngalih ka Rawaselang, margi ku emutanana teu aya nu ngajejeman agama, aya oge sifatna lanceuk teu patos sapertos Bapa, katambih pangkatna nembe Priester, teu acan jadi sesepuh. Tah kitu nu jadi kawit Oudste Idris pamit ka Rasul seja unjukan hoyong pindah ka babakan Rawaselang pangipukan. ku Rasul teu di hulag maksud di payusan. tapi salah tina pangangka, saparantosna bumetah Oudste minangka gaganti Bapa nuluykeun nguruskeun agama, rada beda haluanana; eta nabi ulah di puhit, nabuet kudu di pegeg tong sina sakama-kama geus cukup aya Rasul.kadinya kudu ngawula, kitu pangartosanana sesepuh harita.

Malah dina hiji kajadian rada cekcok babakuna, laklak nyarekan ka lanceuk bebeakan pedah ngagem elmu kitu, Sanajan lsahandapeun pangkatna teu urung katampana rada neungteuli Bapa Mika waktu harita. Bade di lawan da teu tuman, nya eleh deet, ngan saukur di lawan ku menekung ngahurun balung teu lemek sapadaning cacarek nutup anjeun di pangjuaran, tirakat supaya robah laku dulur nu di lajur; cacak harita ge upama teu diNabuet : Bale Bandung asa suwung bale gede asa rehe pancaniti asa sepi,nu tirakat kamalinaan,  Nya sapada hrita  Pa Mika teh eling kagungan pangemut : Naon salahna  upama ngalah,itung-itung nganteur kanu sieun, da hate mah panjeg percaya , mo kalah kunu mergasa.

Sakitu kapageuhanana kapercayaan Bapa Mika kana Wahyu ti Nabuet.Ka putra putunna nyanggem dedemitan, omat ulah ka seeh percaya ka Nabuet ;

eta teh jangkar Karasulan,pasantrenan Rasul Anthing nu ku Engki geus dicangking, sakitu wasiat Bapa Mika menggah dina kapercayaan.

Ayeuna kacarios , sanggeus rada lami Oudste Idris di Rawaselang linggih ngageugeuh lembur pageuh ngapalaan agama nya keuna ku panyawat gohgoy meh sami sareng Bapa Petrus . Atuh henteu kantos lami ti harita teras payah bae, malah dugi ka hanteuna pupus ,nilarkeun murangkalih aralit keneh pisan

Teu kacatur nu nuju prihatin ,ayeuna kacarita gentosna Kapala nya Bapa Mika pisan nu ditunjuk ku Rasul. Pangkatna teras dtaekeun kana Oudste. Dupi nu ngangkatna nyaeta nyaeta Rasul Schmid. Rasul Yakob parantos pupus, di dieu teu kacarita.

Rasul Schmid sanes Walanda toto ,tapi turunan Duitschland. Ku kitu tea mah surup kana tangtungan ninggang kana rupa beda ti Walanda biasa.,teu adigung kamagungan ka sasama ngahargaan; geus puguh kanu matuh ka rahayat mikanyaah ,komo kanu gering,ngalongok ngalandongan sering; cacakan ti Cimahi didugdag bari ngawengi, Rawaselang teh  dianggo jalan ka cai .

Malah saterasna mah nya anjeuna pisan nu ngaalpukahan ngadamel Gareja. Ngadamelna babarengan, keduk sungkur teu ngandelkeun batur, cocoprot ti bobolokot ,heunteu aral henteu sungkan . Kituna teh mangbulan-bulan ,tacan beres teu acan mulang. Tunda muja muji Tuan Schmid ,ayeuna kacarita sanggeusna rengse Gareja .

Henteu lami ti harita Bapa Mika tilar dunya lantaran panyawat kolera. D ua dinten dua wengi teu tiasa menyat deui. Nya teras di kurebkeun. Mung hanjakal ti harita Tuan Schmid teu sumpimg ngalayad nu keur susah. Aya oge dua Tuan jurunganana nyaeta Tuan Wideman sareng Tuan Faassen ka Rawaselang datang.nya di tungkulan teh ku eta bae .

Sanggeus Bapa Mika teu aya, Rasul sumping ,maksad bade  ngalereskeun gegentos Pa Mika . Kanggo neraskeun ngaewakilan dianggkat Elipas, dibantu ku Mian , Mangun sareng Mardi .    geus kersaning Panggeran Rsul Schmid jarang ngalongokan,malah saterasna mah dilirenkeun tina padamelan, jalaran sok mabok,wartosna mah.

Nya digentos ku Tuan Paassen jadi Rasul utusan ti Nagri.

Teu lila,Bapa Elipas dijenengkeun Oudste ,Miam jadi Priester, Trius diangkat jadi Diaken. Kabehdieunakeun diangkat deui Mardi sareng Trius jadi Priester. Anton, Rainan , Yosia, sareng Titus diangkat kana Diaken, Yohanes mah saheulaeun eta.

Sakieu tamat riwayat Bapa Petrus. dikarangna ditalar bae. Teu dipapaes teu dibeberes. Basana kusut dangdingna kalut .

Wayahna  neda hampura kasadaya putra putuna, bilih kasabit jenengan Aki kasebat jenengan Rama .

Sakur nu aya patalina kana ieu carita, tong dianggo pikir nyungkelit, anggur pandang mangga karang, sina beres sangkan gandang . Ieu mah saukur  tamba pareumeun obor di jalan.

Tawis istri nu sajati rumawat Pusaka ti Bapa .Hanjakal istri nu sepi harti kurang asak ku didikan. Bubuhan ku kitu tea mah didikan aya timana. Hirup ukur kutu lebu, saban poe ngurus hawu

Rawaselang, 21  Juni  1994                       Wasalam nu ngarang,

Dicetak ulang dan diperbanyak                                 ttd.

oleh :                                                           ISPAH MARCHASAN

Putra ka 6

SEKSI PUBLIKASI

Rawaselang, 9 Agustus 2008

Dicetak ulang oleh:

SEKSI PUBLIKASI

SEJARAH

TANGGAL  1  FEBRUARI

D  I  N  A  R  R

NGADEGNA

JEMAAT GEREJA KRISTEN KERASULAN PUSAKA

B U B U K A.

Samemeh sim kuring medarkeun nu jadi angen-angen dina ati tina hal sejarah tanggal 1 Februari, sim kuring neda agung cukup lumur jembar panghampura ti sadaya.

Bilih aya bobot sapanon carang sapakan dina medarna, sim kuring neda panyarungsum balung panambah tulang sangkan ieu pedaran ngajadi kakuatan dina enggon-enggoning ngolah agama warisan ti karuhun sareatna, ti Gusti kumanten kahekatna.

Bawiraos sim kuring ieu angen-angen teh kalintang peryogina, boh kanggo anu sarepuh etang-etang pangeling-ngeling, utamina kanggo generasi muda anu teu ngiring nyakseni dina waktos kajadianana, atanapi teu acan terang sajarahna.

Ka Gusti anu langkung tingali kana sajeroning ati, neda widi mugia  Roh Suci anu ngamudi, kawasa Gusti ngabadi ka diri, supados gerakna ati masing ngajadi, gerakna rasa sing gumebyar. Anu dipalar , ieu sejarah sumarambah kana bayah, sumalusup kana kalbu, sumeleket kana hate, ngajirim diri dina rohani; ngajadi kakuatan anu sayakti pikeun ngabakti ka Gusti.

Panutup catur pamungkas carita, nyanggakeun ieu pedaran. Mugia jadi panggugah rasa, panyungsi ati; ageung mangpaatna ka sadaya dina lakuning mulasara ieu Pusaka, sangkan rumawat saestuna.

Pusaka masingna jaya sarta raharja dina ngambah sagara dunya.  Amin ya robull allamin.

Wassallam,

Mardi Marchasan.

Rs. 1287 / 0808.

P E R I N G E T A N

NGADEGNA JAMAAT GEREJA KERASULAN PUSAKA.

Ari mimitina atawa asalna Jamaah ieu teh, lamun ku bahasa Walanda mah kieu: Hersteld Apostolisch Zending Gemeente. Cek Sundana mah nyaeta : K A R A S U L A N. Ieu Karasulan teh asalna mah ngan hiji. Tapi ka beh dieunakeun pipisahan. Naon sababna pangna pipisahan? Ari lantaranana mah geus teu sacara asal / mimiti. Hartina ka beh dieunakeun mah jadi teui murni. Geus loba robahna tina dasar pokok waktu keur jaman para karuhun. Naon atuh dasarna waktu jaman para karuhun.

Ari dasarna Jamaah Karasulan jaman harita, waktu digelar-keun ku para karuhun, di Rawaselang, nyae3ta sakumaha anu ka unggel dina 1 Kor. 12 : 28, kieu: Jeung deui Allah geus netepkeun sawatara jelema di Jamaah, kahiji rasul, kadua nabi, katilu Guru; geus kitu nu aya kamatihan, geus kitu nu aya pasihan bisa nyageurkeun, nu tutulung, nu ngereh, nu ngomong ku basa rupa-rupa.

Kitu deui dina Efesus 4 : 11 – 13, kieu: Sarta nya eta pisan nu geus maparinkeun sawareh jadi Rasul, sawareh jadi Nabi, sawareh jadi Juru Injil, sawareh jadi pangangon jeung Guru, keur nyampurnakeun jelema saruci, pikeun pagawean cangkingan, pikeun ngadegkeun salira Kristus; datang ka urang sakabeh teh pada nepi kana katunggalaning kapercayaan sarta kanyaho ka Putra Allah, datang ka jadi jelema kolot, nepi kana ukuran kaagungan sakapinuhaning Kristus.

Di antara eta teh aya nu geus dileungitkeun / teu diwenang-keun, nya eta jabatan Nabi.  Padahal ieu teh lain jieunan manusa, estuning pasihan kurnia Gusti, pikeun mituduh jalma anu teu nyaho. Ringkesna mah eta teh panungtun sarta pangaping. Aya deui, nya eta teu diwenangkeun bidston atawa katunggalan dina paneda

Dia Yakobus 5 :  13 – 15, kaunggel kieu: Tiap-tiap di maraneh aya nu nandang lara, kudu neneda; mun aya nu senang hate, kudu muji ku Jabur. Tiap-tiap di maraneh aya nu gering, kudu ngala para kokolot jamaah, supaya ku aranjeunna dipangnedakeun; sarta upama geus milampah dosa jeung batur, tangtu di hampura.

Kitu sababna pikeun jamaah Karasulan di Rawaselang mah, ngarasa geus mundur jauh pisan tina kaayaan anu poko atawa asal.  Demi para pangurus nu aya di Rawaselang harita  teh aya 3 Priester jeung 4 Diakon, nyaeta:

1. Pr. Mian Kaian.

2. Pr. Mardi Marchasan.

3. Pr. Trius Chasan Mestar.

4. Dkn. Yohanes Masad.

5. Dkn. Rainan Marchasan.

6. Dkn. Titus Nurmin.

7. Dkn. Yosia Nurmin.

Ieu tujuh pangurus teh sanggeus ngarasa ayana kamunduran, teu cicingeun. Enyana mah balotah marudah, baradami, kumaha pihadeeunana sangkan bisa balik ka saasal.

7.    Baris ngayakinkeun tina sagala kakurangan tadi tea, kungsi eta perkara teh dipuguhkeun ka nu jadi wakil Rasul. Sihoreng bener-bener yen perkara anu tadi teh geus teu diwenangkeun. Tapi panasaran, terus nyusul ku surat ka nu jadi Rasul nu keun aya di nagri Walanda. Tapi nya kitu walonanana teh, teu beda ti nu geus katampa ti nu jadi wakil tea. Nya ti harita pisan terus gilig singkil. Cara bangsa Indonesia ge geus merdeka; atuh dina agama oge hayang leupas tina panjajahan. Ngan kumaha jalanna baris ka luar?

Sadayana meh meunang jalan buntu. Sabab kumaha jeung kumaha bae. Ngan ku lantaran keyeng pasti pareng. Di antara tilu Priester tea, sa urang dipaparin terbuka pikir, yen boga keneh pamuntangan anu bisa dipercaya, nya eta nabi.

Ari nabi nu aya keneh harita teh nya eta bi Isnah. Atuh barang aya bongbolongan, sadayana mupakat, saluyu baris dumeuheus ka Gusti nyuhunkeun pitulung.

Ku jalan samiuk satunggal dina neneda, Gusti mah uninga ka anu di maksud. Gusti ngawaler, kieu dawuhana-Na: “Sakur nu ku maraneh di maksud, prak lampahkeun, Kami bakal angkat saheulaeun maraneh.” Nya ti harita teu talangke deui, uar pangajak ka dulur-dulur kabeh, baris ngomean nu geus ruksak bari misah, hartina arek berdikari. Tapi aya sababaraha dulur anu henteu saluyu. Sanajan kitu henteu jadi halangan kana eta pamadegan.

Taun 1951 katompernakeun, geus maju dina kahudangan anyar, ku jalan ngayakeun soal jawab, saminggu dua kali nya eta dina unggal malem Salasa jeung malem Saptu. Ku jalan kitu kolot-ngora, lalaki-awewe, pada garuligah aya kapanasaran pikeun nitik-nitik sarta nimbang-nimbang perkara rohani. Ngan hanjakal saeutik aya gangguan. Tina lantaran di antarana pasalisihan pangarti, ahirna nya aya deui pabengkahan; nepi ka aya deui nu baralik ka urut tadi, tapi loba oge anu terus maju teu kahalangan ku kitu.

Saterusna diayakeun puasa jeung neneda. Hayang ku Gusti dipaparin nu baris jadi pamingpin sarta tanggung jawab di jamaah.

Dina poe Senen tanggal 4 Januari 1953 puasa jeung neneda tea diawitan. Lilana tilu poe, nyaeta nepi ka poe Rebo tanggal 7 Januari 1953. Dina ahir poean puasa teh diayakeun katunggalan dina sapaneda. Hasilna; opat nabi sarua sapagodos nunjuk hiji Priester ti antara nu tilu tea, digarebugan sirah jeung taktakna miwarang jadi pingpinan ieu jamaah, nya sim kuring pisan Mardi Marchasan anu ditunjuk

Nanging sim kuring teu gasik nampi gancang narima, sabab rumaos sim kuring teh ceuk babasan tea mah teu bodo-bodo acan.

Sim kuring estu bingung, poekeun, can tangtu bakal benerj jeung beresna jamaah. Ku sim kuring terus di pikir sarta di timbang-timbang. Tapi Gusti di lebet nabi terus ngagenderan, miwarang kudu ikhlas sarta luas nyangga tugas, undak kelas ngahanca alas. Gusti tetep mikawelas nepika sim kuring teu bisa nolak, sanajan sim kuring heunteu bedas.

13.  Dina poe minggu anu tangtu, ping 1 Pebruari 1953, sim kuring kapaksa tuhu ngagugu diistrenan jadi lulugu. Ieu hal estu mangrupa hiji kajadian anu pinuh ngandung sejarah. Jamaah Karasulan Pusaka muka sejarah ku pangersaNa Allah .Ieu kajadian ku urang sing dihargaan, ulah rek barobah; karana meunang muasaan kalawan susah payah. Sing aya kasatunggalan dina sagala lampah, ulah rek ngijing sila bengkok sembah.

14.  Bari ulah poho silih belaan ku jalan silih pikanyaah. Sing jadi conto tuladan dina ibadah, geus tangtu Pangeran bakal maparin berkah. Hayu urang sukuran kalawan suka bungah, ngagungkeun Pangeran bari muji Haleluya.Karasulan estu warisan diaping ku kanabian.

15. Sing kuat dina kapercayaan, poma-poma rek ngajebian. Papacuan ulah moyokan, temahna misah aliran.Peupeujeuh anu ngarora, anu heunteu yaraho waktu harita, ayeuna di bere beja, poma ualah rek cangcaya.Pusaka teh sing di pulasara, rumawat kalawan satia, dina mangsana geus cumarita.Ajakan balarea, sing satunggal saparakanca, lampah ulah rek pakia-kia. Akhirullkallam, sim kuring nyanggakeun salam. Puji sukur ka nu Murbeng alam. Amin ya robull allammin.

-

Kapihatur ku nu mitutur

Rsl. MARDI MARCHASAN.

Rs.  1279 / 1287./ 0808.

PERINGATAN BERDIRINYA JEMAAT  KERASULAN PUSAKA

HARI PENTAHBISAN RASUL

( HAPENTAR )

TANGGAL    1  PEBRUARI

Asal mula nama jemaat mengambil dari bahasa Belanda : Hersteld Apostolisch Zending Gemeente. Bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah Kerasulan .

Pada mulanya Jemaat ini adalah satu. Berselang beberapa masa terjadilah perpecahan. Mengapa terjadi demikian ? latar belakang terjadinya perpecahan , karena adanya beberapa penyimpangan dari apa yang menjadi keyakinan pokok. Jadi sudah tidak semurni apa yang telah diajarkan oleh nenek moyang.

Yang menjadi dasar utama / pokok Jemaat kerasulan pada jaman nenek moyang adalah sebagai mana yang tertulis dalam 1 Kor. 12 : 28. yang berbunyi : “ Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat : Pertama sebagai Rasul kedua sebagai Nabi, ketiga sebagai Pengajar, selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujijat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa Roh .”

.

Demikian pula apa yang di ungkapkan dalam Epesus 4 : 11 – 13, sebagai berikut : “ Dan Ialah yang memerikan baik Rasul- Rasul, baik Nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allh, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”

Beberapa penyimpangan tadi diantaranya ialah : Dihilangkannya jabatan Nabi. Padahal jabatan Nabi ini bukan buatan manusia, tetapi ini abdalah Karunia Allah semata, untuk memberitahu manusia akan apa yang belum / tidak diketahuinya. Berarti ini adalah penuntun serta pendamping, kemudian tidak di benarkan/ diperbolehkan mengadakan doa sepakat / bidtston. padahal bidtston ini dirasakan penting sekali

Marilah kita meneliti apa yang tertulis dalam surat Yakobus  5 : 13-15 , sebagai berikut : Kalau ada seorang diantara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seseorang yang bergembira baiklah ia menyanyi ! Kalau ada seseorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para Penatua Jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia ; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

Oleh karena itulah bagi Jemaat Kerasulan di Rawa selang dirasakan sudah mundur jauh dari apa yang menjadi pokok utama. Kejadian inilah yang menggugah dan mendorong para Majelis Kerasulan Pusaka yang ada pada ketika itu untuk bamgkit serentak. Anggota Majelis yang ada pada masa itu ada  7 orang yang terdiri dari 3 orang Priester dan 4 orang Diakon yaitu : 1, Pr . Mian kaian 2. Pr. Mardi Marchasan 3. Pr. Trius Chasan Mestar, 4. Dk. Yohanes Masad, 5. Dk. Rainan Marchasan, 6. Dk. Titus Nurmin dan yang ke 7. Dk. Yosia Nurmin. Ketujuh anggota Majelis ini mengadakan perundingan untuk mencari jalan keluar guna memulihkan kembali sutuasi dan kondisi Jemaat yang semakin menyimpang dari apa yang menjadi keyakinan utama.

Penyimpangan-penyimpangan itu merupakan kepincangan jalannya Jemaat. Untuk meyakinkan kekurangan tersebut, kami menanyakannya kepada wakil Rasul ( di Bandung ) . Balasan yang kami terima menyatakan memang demikianlah adanya.

Beberapa penyimpangan tadi diantaranya ialah : Dihilangkannya jabatan Nabi. Padahal jabatan Nabi ini bukan buatan manusia, tetapi ini abdalah Karunia Allah semata, untuk memberitahu manusia akan apa yang belum / tidak diketahuinya. Berarti ini adalah penuntun serta pendamping, kemudian tidak di benarkan/ diperbolehkan mengadakan doa sepakat / bidtston. padahal bidtston ini dirasakan penting sekali

Marilah kita meneliti apa yang tertulis dalam surat Yakobus  5 : 13-15 , sebagai berikut : Kalau ada seorang diantara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seseorang yang bergembira baiklah ia menyanyi ! Kalau ada seseorang diantara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para Penatua Jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia ; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

Oleh karena itulah bagi Jemaat Kerasulan di Rawa selang dirasakan sudah mundur jauh dari apa yang menjadi pokok utama. Kejadian inilah yang menggugah dan mendorong para Majelis Kerasulan Pusaka yang ada pada ketika itu untuk bamgkit serentak. Anggota Majelis yang ada pada masa itu ada  7 orang yang terdiri dari 3 orang Priester dan 4 orang Diakon yaitu : 1, Pr . Mian kaian 2. Pr. Mardi Marchasan 3. Pr. Trius Chasan Mestar, 4. Dk. Yohanes Masad, 5. Dk. Rainan Marchasan, 6. Dk. Titus Nurmin dan yang ke 7. Dk. Yosia Nurmin. Ketujuh anggota Majelis ini mengadakan perundingan untuk mencari jalan keluar guna memulihkan kembali sutuasi dan kondisi Jemaat yang semakin menyimpang dari apa yang menjadi keyakinan utama.

Penyimpangan-penyimpangan itu merupakan kepincangan jalannya Jemaat. Untuk meyakinkan kekurangan tersebut, kami menanyakannya kepada wakil Rasul ( di Bandung ) . Balasan yang kami terima menyatakan memang demikianlah adanya.

sejak saat itulah tua muda, elaki perempuan, tergugah rasa rohaninya, bangkitlah semangat juangnya untuk meneliti dan memperdalam pengetahuan dan pengertian dalam kehidupan beragama.

Ditengah-tengah gejolak semangat pembaharuan dan perjuangan, timbulah suatu kekecewaan yang sangatb di sesalkan dan tak terkendalikan. Hal ini disebabkan adanya perselisihan pendapat/paham. Akhirnya, beberapa orang anggota Jemaaat berputar haluan berbalik kembali kepada jalan sebelum berpisah melepaskan diri. Namun kejadian ini tidaklah menjadikan halangan, perjuangan terus berlangsung.

11.  Kian hari kian berkembang. Namun sayang, ada satu masalah kebutuhan yang belum terpenuhi, yaitu masalah kepemim-pinan. Untuk itu, kami semua bersatu tekad untuk melaksanakan berpuasa dan berdoa mohon kepada Allah agar diberi-Nya seorang pemimpin dalam jemaat.

Pada hari senin tanggal 4 Januari 1953 dimulailah berpuasa dan berdoa selama tiga hari sampai dengan hari rabu tanggal 7 Januari 1953 dan diakhiri dengan bidston. Sementara selama jemaat terpapah-papah, Allah menambahkan tiga orang pengemban nubuatan, sehingga berjumlah 4 orang. Dalam bidstosn itu Allah mengbulkan permohonan. Ke 4 pengemban satu hati dan satu kata menunjuk salah seorang dari ke tiga Priester untuk menjadi seorang pemimpin, yaitu saya sendiri Pr. Mardi Marchasan.

Namun saya tidak begitu saja menerima dan menyanggupi, sebab saya merasa bahwa saya adalah orang yang jauh lebih rendah dari pada bodoh. sayapun bimbang, sebab dengan pimpinan saya belumlah terbayangkan kelancaran dan keberesan jalannya Jemaat. Hal ini terus saya pertimbangkan. Namun dibalik itu Allah yang Mahatahu dan Maha pengasih, terus menerus menguatkan batin saya agar saya dengan segala keikhlasan hati memangku jabatan tersebut. Maka sayapun tiada berdaya dibuatnya.

sejak saat itulah tua muda, elaki perempuan, tergugah rasa rohaninya, bangkitlah semangat juangnya untuk meneliti dan memperdalam pengetahuan dan pengertian dalam kehidupan beragama.

Ditengah-tengah gejolak semangat pembaharuan dan perjuangan, timbulah suatu kekecewaan yang sangatb di sesalkan dan tak terkendalikan. Hal ini disebabkan adanya perselisihan pendapat/paham. Akhirnya, beberapa orang anggota Jemaaat berputar haluan berbalik kembali kepada jalan sebelum berpisah melepaskan diri. Namun kejadian ini tidaklah menjadikan halangan, perjuangan terus berlangsung.

11.  Kian hari kian berkembang. Namun sayang, ada satu masalah kebutuhan yang belum terpenuhi, yaitu masalah kepemim-pinan. Untuk itu, kami semua bersatu tekad untuk melaksanakan berpuasa dan berdoa mohon kepada Allah agar diberi-Nya seorang pemimpin dalam jemaat.

Pada hari senin tanggal 4 Januari 1953 dimulailah berpuasa dan berdoa selama tiga hari sampai dengan hari rabu tanggal 7 Januari 1953 dan diakhiri dengan bidston. Sementara selama jemaat terpapah-papah, Allah menambahkan tiga orang pengemban nubuatan, sehingga berjumlah 4 orang. Dalam bidstosn itu Allah mengbulkan permohonan. Ke 4 pengemban satu hati dan satu kata menunjuk salah seorang dari ke tiga Priester untuk menjadi seorang pemimpin, yaitu saya sendiri Pr. Mardi Marchasan.

Namun saya tidak begitu saja menerima dan menyanggupi, sebab saya merasa bahwa saya adalah orang yang jauh lebih rendah dari pada bodoh. sayapun bimbang, sebab dengan pimpinan saya belumlah terbayangkan kelancaran dan keberesan jalannya Jemaat. Hal ini terus saya pertimbangkan. Namun dibalik itu Allah yang Mahatahu dan Maha pengasih, terus menerus menguatkan batin saya agar saya dengan segala keikhlasan hati memangku jabatan tersebut. Maka sayapun tiada berdaya dibuatnya.

yang telah nenek moyang warisi. Bila saat tiba, generasi penerus bertakhta dalam Jemaat Kerasulan Pusaka, jadilah pelopor utama. Bawalah semua jiwa, bersatu padulah dengan sesama, hendaklah saling tenggang rasa; agar Allah pencipta alam semesta tetap dipuja dan ajaran-Nya bergelora dalam setiap dada, menggema ke angkasa raya, tercium wangi ke dalam kerajaan sorga; dari saat ini sampai selama-lamanya. Akhirullkalam, saya persembahkan salam. Segala puji dan syukur dipersembahkan kepada Pencipta semesta alam. Bilamana terdapat banyak kesalahan atau kekurangan, mohon dimaafkan, agar naskah ini ada perbaikkan.

Amin ya robull allammin.

P e n y u s u n,

Rsl. MARDI MARCHASAN.

Rs. 1279 / 1287 / 0808.

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.